#sayur#hidroponik#usaha

Mendulang Rupiah dari Bertani Hidroponik

( kata)
Mendulang Rupiah dari Bertani Hidroponik
Petani Hidroponik, Novan Andiyanto, warga Kelurahan Rejosari  Kecamatan Kotabumi. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co) -- Hamparan sayuran hidroponik tertata rapi di tiap lubang paralon yang disiapkan sebagai media tanam. Budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa olah tanah itu, bukan hanya menghasilkan pemandangan yang apik di halaman rumah. Tanaman tersebut, juga mampu mencetak pundi-pundi rupiah bila dikelola secara optimal.

Petani Hidroponik, Novan Andiyanto, warga Kelurahan Rejosari  Kecamatan Kotabumi, di sentra budidaya, sekaligus kediamannya, Minggu, 16 Februari 2020 mengatakan tanaman hidroponik menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi pada tanaman melalui media air dan cocok dikembangkan di areal lahan yang terbatas seperti pekarangan rumah.

"Awal bertani hidroponik pada 2017 lalu. Karena saya tertarik usai menonton  tayangan sayuran hidroponik melalui televisi dan  instagram. Setelah itu, saya belajar secara otodidak melalui youtube" ujarnya.

Usaha yang dia lakoni, tidak semudah membalik telapak tangan. Kegagalan saat mulai  menanam juga dia alami dan dalam kurun waktu sekitar 8 bulan, usahanya baru membuahkan hasil setelah dia paham komposisi pupuk yang dibutuhkan untuk pengembangan sayuran hidroponik tersebut.

"Ragam sayuran hidroponik yang dikembangkan, yakni; pakcoy, selada, sawi pagoda, kangkung  dan kale," kata dia.

Untuk usia panen sayuran yang dia tanam berkisar 30 - 35 hari. Sedangkan harga  sayuran yang dijual perikat dengan berat 250 gram - 300 gram hanya Rp5 ribu diambil di tempat.

"Sekali panen untuk setiap sayuran, menghasilkan 150 - 200 ikat dan pemasarannya masih di seputar Kotabumi" tuturnya.

Menyoal biaya pembuatan kebun hidroponik, dia tersenyum dan menjawab. "Tidak usah dipikir soal biaya mas, yang penting  jalani dulu saja, sebab pembuatan kebun hidroponik mahal di awal, untuk 600 lubang tanam di pipa paralon 3 inci membutuhkan biaya Rp11.300.000, belum di tambah biaya tenaga kerja untuk merangkainya," paparnya.

Rata-rata yang memburu sayuran hidroponik adalah pecinta hidup sehat, sebab daun sayuran tersebut tidak terpapar racun pestisida.

Pembeli yang datang ketempatnya dibebaskan memilih jenis sayuran dan menimbangnya. Selain itu, dia juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar dan berbagi pengalaman tentang pertanian hidroponik.

"Saya berharap petani hidroponik dapat tumbuh dari generasi milenial dan orang-orang yang sudah masuk masa pension," tuturnya menambahkan.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar