#kebudayaan

Mendikbud Batal Buka Sharing Time Megalithic Millenium Art

( kata)
Mendikbud Batal Buka Sharing Time Megalithic Millenium Art
Poster kegiatan Sharing Time Megalithic Millennium Art.Dok

Panaragan (Lampost.co) -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim batal menghadiri pembukaan Sharing Time Megalithic Millennium Art yang digelar Pemerintah Kabupaten Tulangbawang barat (Tubaba), Rabu, 22 Januari 2020. Pendiri Gojek tersebut mewakilkan kepada Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, untuk membuka event akbar kebudayaan yang digelar lima hari, 22—26 Januari 2020.

Kabar ini disampaikan Sekretaris Kabupaten Tubaba, Herwan Sahri, saat dikonfirmasi Lampost.co terkait kehadiran orang nomor satu di Kemendikbud tersebut. "Informasi terakhir bukan pak Menteri yang datang, tapi Dirjen," kata Sekkab, Senin, 20 Januari 2020.

Seperti yang ramai diberitakan media daring, event bertajuk Sharing Time Megalithic Millennium Art digelar di sejumlah venue, seperti Kota Budaya Ulluan Nughik, Sesat Agung, Las Sengok (Tiyuh Karta), dan Situs Patung Megouw Pak. Rencananya kegiatan akan dibuka Mendikbud Nadim Makarim.

Ketua Panitia, Semi Ikra Anggara, menjelaskan acara ini digagas Suprapto Suryodarmo (alm) dan Bupati Tubaba Umar Ahmad. Acara diisi beberapa sesi kegiatan, di antaranya sarasehan, workshop, dan pementasan seni.

"Pak Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) akan menjadi pembicara dalam sarasehan dengan tajuk Membangun manusia lewat jalan kebudayaan," katanya.

Acara akan dihadiri sederet seniman nasional dan internasional, di antaranya Andy Burnham (arkeolog, pendiri dan editor web Megalithic Portal, Inggris), Alex Gebe (seniman, anggota Teater Kober, Lampung), Ari Rudenko (seniman lintas disiplin dari Amerika Serikat), Anna Thu Schmidt (penari asal Jerman yang menyelesaikan studi masternya di Throndeim, Norwegia), Agus Sangishu (Rumah Tari Sangishu, Lampung), dan Bettina Mainz (penari, guru, dan terapis trauma berbasis di Berlin, Jerman) yang akan pentas kolaborasi bersama suaminya Rodolfo Mertig (fisikawan) dan putra mereka Sebastian Mainz-Mertig (usia 11 tahun).

Juga akan hadir Daniel Oscar Baskoro (periset asal Yogyakarta yang berbasis di Univesitas Columbia, New York, Amerika Serikat), Dian Anggraini (penari dan dosen asal Lampung), Diantori Dihan (koreografer, pimpinan Gar Dancestory, Lampung), dan Edhyitia Rio (komposer, anggota Orkes Ba’da Isya, Lampung). Kemudian Frances Rosario (seniman, Amerika Serikat), Haris Sukendar (mantan kepala Badan Arkeologi Nasional), Diane Butler (seniman gerak, pimpinan Dharma Nature Time, Bali), dan Halilintar Latief (antroplog, Universitas Negeri Makassar). 

Selain itu, Keith Miller (inspektorat Monumen Kuno  untuk English Heritage, Inggris), Katsura Kan (seniman Butoh asal Jepang), Margit Galanter (penyair, tari dan instigator kebudayaan, Amerika Serikat), Mara Poliak (performer, Amerika Serikat), Moris Shakaia (performer, Rusia), Peter Chin (performer, Kanada), Rianto (penari asal Solo berbasis di Jepang), Sandrayati Fay (komposer dan penyanyi asal Ubud, Bali), Transpiosa Riomandha (antropolog, Yogyakarta) dan Mariana Isa (arsitektur dan peneliti, Malaysia).

Siswa-siswa Tubaba yang terpilih juga akan menjadi pembicara dalam acara sarasehan dengan tajuk Tubaba 100 tahun kemudian. Pada pembukaan acara 70 siswa-siswa Sekolah Seni Tubaba akan membawakan Tari Nenemo. Selain itu akan ditampilkan pementasan musik Q-Thik, tari Sigeh Pengunten, dan Seni Kulintang. Prosesi lain adalah penanaman bibit pohon bersama, pelepasan ikan, pelepasan kerbau, dan peletakan batu di Las Sengok, sebuah wilayah yang kelak akan dikembangkan menjadi hutan lindung Q-Forest, terletak di Tiyuh Karta.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar