#anak#harianak

Mendidik Siswa melalui Keteladanan Guru

( kata)
Mendidik Siswa melalui Keteladanan Guru
Siswa dan guru PAUD dan Kelompok Tunas Bangsa, Desa Pematang, Kalianda, Lampung Selatan, berfoto bersama usai memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI, beberapa waktu lalu. LAMPUNG POST/JUWANTORO

KALIANDA (Lampost.co) -- Keteladanan seorang guru menjadi hal penting dalam memberikan pendidikan pada anak usia dini. Hal tersebut yang kemudian menjadi prioritas yang diterapkan di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Kelompok Bermain Tunas Bangsa, Desa Pematang, Kalianda, Lampung Selatan.
Kepala PAUD Tunas Bangsa Herdita menyebut sebelum memberikan pendidikan kepada siswa, setiap guru juga perlu diberikan pendidikan khusus agar memiliki karakter yang baik dan mengetahui cara mendidik anak usia dini dengan baik.
“Ini saya lakukan agar para guru di PAUD Kelompok Bermain Tunas Bangsa bisa menjadi teladan bagi siswa-siswinya, misalnya ketika ada anak yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Maka, seorang guru harus bertanya siapa yang telah membuang sampah tersebut dan langsung memungut sampah itu, memberikan contoh," kata Herdita, di sekolah, beberapa waktu lalu.
Jika contoh tersebut dilakukan setiap hari dan dilihat anak-anak, tentunya mereka akan meniru gurunya, ungkap Herdita, yang sudah berpengalaman menjadi guru selama 26 tahun di wilayah Palas, Lampung Selatan. Tidak hanya guru, menurut Herdita, pihak sekolah juga memberikan pendidikan khusus tentang pola asuh kepada para orang tua.
“Para wali murid pun tidak bosan-bosannya kami berikan pendidikan parenting saat menunggu anak-anaknya di sekolah. Memberikan informasi bagaimana cara mendidik anak yang baik,” ujarnya. Menurut Herdita, belum semua orang tua tahu cara mendidik anak yang baik terutama anak usia 0—6 tahun harus mendapatkan pelayanan, kasih sayang, gizi seimbang, dan pendidikan.
“Artinya, anak-anak harus mendapatkan pelayanan misalnya belum bisa mandi sendiri harus dimandikan dan makan bergizi pun harus diberikan, bahkan pendidikannya. Saya berharap para siswa Tunas Bangsa ini bisa tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan berpendidikan tinggi nantinya,” tambahnya.

Tidak Mematok Biaya

Herdita menyatakan keinginannya memberikan pendidikan dini berkualitas menjadi alasannya menjadi tenaga pendidik di lembaga PAUD hingga saat ini. Bermodal pengalaman mengajar di daerah Palas, Lampung Selatan, dan pernah menjadi pengawas sekolah selama dua tahun, Herdita kemudian mencoba mendirikan PAUD Tunas Bangsa di desanya.
Dalam memberikan pendidikan dini, Herdita mengaku tidak mematok biaya pendidikan yang tinggi, tetapi menyesuaikan dengan kemampuan orang tua siswa. “Jika ada wali murid yang tidak mampu membayar SPP sebesar Rp40 ribu/bulannya dan anak tidak punya seragam, kami akan membantu semampunya misalnya uang SPP diberikan keringanan yakni setengahnya," kata dia.
Hal yang terpenting, menurut Herdita, adalah wali murid mengantar anaknya datang ke lembaga pendidikannya untuk belajar. "Alhamdulillah, pada tahun ajaran ini PAUD Kelompok Bermain Tunas Bangsa memiliki 54 siswa yang berasal dari desa setempat dan desa terdekat,” ujarnya. 

Juwantoro



Berita Terkait



Komentar