#LampostWeekend#Sorot#MendidikAnak#Dongeng

Mendidik Anak lewat Dongeng

( kata)
Mendidik Anak lewat Dongeng
Seorang ibu mendongeng untuk anak sembari menghabiskan hari. Mendongeng selain menghibur sang anak, kegiatan tersebut juga mengedukasi anak untuk lebih peka terhadap sekitar. LAMPUNG POST/M UMARUDINSYAH MOKOAGOW


BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- SatuU di antara sejumlah metode yang tepat dan efektif untuk mendidik anak dengan mendongeng. Banyak orang beranggapan mendongeng merupakan pekerjaan mudah dan bisa dilakukan setiap orang tua. Faktanya, sekarang jarang orang tua yang mau mendongeng untuk anaknya. Sebuah dongeng sebenarnya bukan hanya dituturkan sebagai pengantar tidur. Ada makna dan pesan yang ingin disampaikan melalui suatu dongeng.
Orang tua yang memahami manfaat dongeng bagi anaknya dan memiliki kesadaran mendidik yang tinggi tentulah mau mendongengkan anak-anaknya. Sebab, mendongeng bukan perkara mau atau tidak. Mendongengi anak itu soal niat atau kesungguhan hati.
"Orang tua harus memahami bagaimana dunia anak-anaknya. Pada tahapan tumbuh kembang yang manakah anaknya berada? Ketika orang tua paham hal tersebut, maka orang tua akan paham memilih dongeng yang baik untuk anaknya," kata Direktur Kreatif Komunitas Dongeng Dakocan, Iin Mutmainah, ditemui di rumahnya, beberapa hari lalu.
Iin mengungkapkan dalam memberikan sebuah dongeng sebaiknya disesuaikan dengan tingkatan usia anak. Sebab, setiap tahapan umur memiliki konsekuensi terhadap dongeng tertentu. Ia mencontohkan dongeng untuk anak usia dua tahun targetnya adalah bagaimana membuat anak senang mendengarkan suara yang dihasilkan oleh pendongeng (orang tua). Menurut Iin, pada usia itu anak belum bisa berpikir rumit karena fase perkembangannya masih berada pada tahap psikomotorik.
Lain pula dongeng untuk anak umur 3—4 tahun. Pada usia ini, kata Iin, si anak sudah bisa menerima dongeng sederhana seperti membuat dua tokoh dalam cerita. Diupayakan tidak lebih dari dua tokoh sebab pada umur tersebut mereka baru mulai berkhayal. "Di usia ini anak suka membayangkan benda-benda berbicara, tahapan berpikirnya pun masih sederhana atau pra operasional. Cari dongeng sederhana yang dekat dengan dunianya. Anak paling suka kalau ada dongeng dengan tokoh pohon bicara, binatang berbicara."
Pada usia yang makin bertambah, anak akan semakin paham bagaimana berpikir kritis. Dongeng yang diberikan juga bisa lebih rumit yakni hingga 3—4 tokoh dalam setiap cerita yang mana mereka masih bisa mencerna. Namun, alur cerita harus tetap sederhana. Caranya bisa dengan menggunakan alat-alat peraga, gerakan tubuh, mimik wajah, suara-suara yang memiliki karakter yang berbeda dan lainnya. Hal itu akan sangat diminati anak.
"Pendongeng harus sedikit bekerja keras karena punya lawan yang nyata yakni acara sinetron atau film di televisi. Sekali si pendongeng tidak kreatif dan tidak menarik, anak tidak akan khusyuk mendengarkan dongeng yang dibawakan," ujarnya.

Tantangan

Iin juga menjelaskan tantangan mendongeng pada era digital lebih banyak ketimbang zaman dulu. Menurutnya, suasana yang tercipta harus menyenangkan agar pesan dalam dongeng dapat sampai atau diterima si anak. Iin menyebutkan pada dasarnya orang tua di rumah sudah memiliki suasana tenang yaitu saat zona alpha, ketika si anak akan tidur. Waktu tersebut adalah suasana paling ampuh untuk menyampaikan dongeng yang mengundang banyak pesan baik untuk anak-anak. Pesan yang disampaikan akan terserap langsung tanpa penghalang.
"Sebab itu, bayangkan jika orang tua membiarkan anaknya tertidur sambil menonton televisi yang mungkin saja acara yang sedang ditayangkan mengundang banyak kekerasan dan hal-hal yang belum pantas menjadi hak untuk didengar atau ditonton seorang anak?"
Iin melanjutkan dongeng masa kini banyak yang diadaptasi menjadi sinetron, sayangnya bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Sekarang, dongeng malah menjadi konsumsi remaja dan dewasa. Hal ini merupakan pemikiran yang keliru. Karena itu, sebaik-baiknya orang tua mendongeng, kata dia, mendongenglah secara langsung pada anak. Televisi, kata Iin, tidak bisa menggunakan kedekatan emosional yang terjadi secara langsung antara si pendongeng dan si anak.
"Anak bisa langsung bertanya, berinteraksi bersama pendongeng, berpikir kritik, mencoba membangun cerita dan theater of mind (teater pikiran) dalam kepalanya. Teater pikiran bagi anak adalah bekalnya untuk menjadi kreatif. Bekal untuk berlatih dan kemudian memahami mana khayalan dan mana nyata,” ujarnya.
Sementara guru kesenian dan dongeng dari SDN 2 Gedungair, Bandar Lampung, Maryudi menjelaskan banyak manfaat yang didapat anak dari mendongeng. Salah satunya mengasah keterampilan dan membentuk karakter anak itu sendiri. Selain itu, mendongeng melatih anak untuk berani tampil percaya diri di depan umum.
"Di sini yang kami tekankan adalah anak belajar berani bicara di depan orang lain. Salah satunya untuk tema pahlawan, anak-anak jadi lebih mengenal karakter pahlawan Indonesia. Mulai dari kapan dia lahir, nama panggilan, dan sebagainya" kata Maryudi di sela lomba dongeng di Mal Boemi Kedaton, Selasa (21/11/2017).
Dia menambahkan kesulitan mendongeng bagi anak-anak adalah soal teks yang harus mereka pahami. Selain mengingat dan menghafal suatu teks yang bercerita, ujar Maryudi, anak yang mendongeng juga mesti menginterpretasikan atau menafsirkan ceritanya melalui pakaian maupun gerak tubuh. "Jadi, pakaian juga disesuaikan dengan tokoh karakter dalam mendongeng.”
Psikolog dari Universitas Lampung, Diah Utaminingsih, menjelaskan mendongeng dapat menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada anak. Selain itu, ada kedekatan emosional antara orang tua dan anak, sebab ketika mendongeng ada interaksi aktif secara langsung.
"Di sini orang tua bisa secara langsung menumbuhkan rasa ingin tahu anak dan menumbuhkan motivasi untuk belajar. Jadi, secara psikologis banyak manfaat yang didapat dari proses mendongeng. Tidak hanya kognitif tetapi juga afektif," ujar Diah.

Nur Jannah









Komentar