#GenerasiEmas#Anak#CegahPaparanPornografi

Mencegah Paparan Pornografi pada Anak

( kata)
Mencegah Paparan Pornografi pada Anak
Ilustrasi pornografi. Dok. lampost.co

BANDAR LAMPUNg (lampost.co) -- Orang tua perlu waspada agar anak-anaknya tidak terpapar dengan berbagai konten pornografi yang kerap dijumpai saat berselancar di dunia maya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyibukkan mereka pada kegiatan positif dan orang tua harus memberi pemahaman bahaya kecanduan pornografi.
"Anak-anak harus diberikan pemahaman tentang bahaya kecanduan pornografi. Karena anak-anak yang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan pemahaman akan lebih mengoptimalkan waktunya untuk berkreasi dan mengembangkan potensi diri ketimbang mencari-cari konten pornografi," kata komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, diwawancarai, baru-baru ini.
Ia mengatakan tidak sedikit pelaku kekerasan seksual pada anak ternyata juga masih berusia anak. Retno menduga pelaku kekerasan seksual anak nekat beraksi karena dipicu tontonan pornografi yang mudah diakses melalui gawai dan penggunaan internet yang tidak dikontrol guru maupun orang tua.
Berdasarkan hasil riset Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta (B2P3KS) yang dirilis Kementerian Sosial pekan lalu terungkap, pornografi menjadi faktor dominan memengaruhi anak-anak melakukan kekerasan seksual yakni 43%. Diikuti dengan faktor pengaruh teman 33%, pengaruh narkoba/obat 11%, trauma masa kecil 10%, dan pengaruh keluarga 10%. Riset tersebut dilakukan bekerja sama dengan End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia.
Menurut Retno, peran orang tua dan guru perlu ditingkatkan dalam upaya mengatasi kecanduan pornografi pada anak. Orang tua, lanjutnya, sebaiknya tidak memberikan gawai pada anak sebelum usia yang cukup yakni minimal 13 tahun.
"Prinsip penggunaan gawai juga sebaiknya 'dipinjam', bukan 'diberi hadiah'. Dengan demikian, orang tua bisa mengecek atau sidak rutin. Sekolah juga sebaiknya melakukan sidak rutin. Ini penting dilakukan sebagai bentuk pencegahan dan kontrol," kata dia.
Anak yang sudah kecanduan pornografi, menurut Retno, harus direhabilitasi ke psikolog dan mendapatkan pendampingan dari orang tua selama proses penyembuhan.

Pendidikan Seks

Terkait hal tersebut, psikolog Reza Indragiri Amriel memaparkan semakin besar tingkat kecanduan pornografi pada anak dapat berujung pada kekerasan seksual. Namun, untuk kasus pelaku anak-anak, ujarnya, faktor pendorongnya bukan semata-mata pemuasan nafsu seksual. "Perilakunya boleh jadi menyasar organ seks, melainkan belum tentu anak memersepsikan perilakunya itu sebagai perilaku seks. Bisa pula “sebatas” eksplorasi terhadap tubuh.
Demi mencegah anak menjadi pelaku ataupun korban kekerasan seksual, ujarnya, keluarga perlu menerapkan nilai-nilai bijak untuk mengedukasi anak melalui pendidikan tentang integritas tubuh. "Misalnya, pemahaman bahwa tubuh adalah benda suci dan terhormat pemberian Tuhan. Jadi harus dijaga. Untuk pembatasan waktu penggunaan gawai, buat kesepakatan dengan anak. Kontennya yang no sex, no violence, and no smoking behavior," kata Reza, yang juga merupakan kepala bidang pemenuhan hak anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia. 

Yusmart Dwi Saputra/MI



Berita Terkait



Komentar