#tumbai#usiaMegalit

Mencari Tahu Usia Kompleks Megalit

( kata)
Mencari Tahu Usia Kompleks Megalit
Ilustrasi (dok.Wikipedia)

PENGETAHUAN atas penduduk asli pegunungan Kenali tentang peninggalan megalitik telah lengkap. Tidak ada penemuan baru dari tradisi itu. Dari cerita yang dikumpulkan dapat dilihat usaha kelompok suku yang masih hidup di pegunungan Kenali dan menemukan penjelasan untuk megalit di pegunungan.

Dalam perselisihan dengan raksasa dan lawan lainnya, dapat diketahui tindakan tergesa-gesa usaha tersebut yang dihadapi antara penduduk lama pegunungan dan suku-suku paminggir pendatang. Jika kita tidak dapat membuktikan cerita ini secara langsung dengan penemuan-penemuan megalitik, kita setidaknya dapat mengetahui dalam legenda ini kenangan tentang penduduk lama di pegunungan ini terus hidup.

Pertanyaan mengenai usia kompleks megalit sangatlah susah untuk dijawab. Minak Paduka Begeduh sudah tinggal di bukit di kaki gunung yang membuat jalan ke dataran rendah wilayah timur. Sekitar tahun 1430, orang Abung tidak lagi menghuni daerah pegunungan.

Di sisi lain, masuknya paminggir lama, penduduk batu dari Minangkabau baru dilakukan menjelang akhir abad ke-13.  Berdasarkan hal ini, keluarnya suku Abung dari dataran tinggi di wilayah selatan dari Gunung Pesagi dimulai pada waktu tersebut. Dataran rendah Way Besai dan Way Pitai baru ditinggalkan orang Abung saat kelompok paminggir yang terpisah berpindah dari wilayah Kenali melalui pegunungan timur untuk membuka permukiman baru di Way Umpu.

Mengenai perpindahan orang Abung yang meninggalkan kompleks megalit di Kebuntebu, periode waktu di antara 1300 dan 1430 menjadikan pertanyaan. Namun, kelompok Bungamayang tidak langsung meninggalkan wilayah setelah dataran tinggi diduduki oleh suku utama paminggir lama, tetapi baru setelahnya. Oleh karena itu, waktu ketika orang Abung diusir dari lembah-lembah di Way Besai adalah pertengahan kedua abad ke-14. Karenanya belum diketahui kapan tepatnya kemunculan kompleks megalit tersebut. Namun ditemukan petunjuk berharga.

Seluruh kompleks di Kebuntebu berisi megalit dengan beragam bentuk. Namun, yang perlu diperhatikan adalah menhir-menhir yang bentuknya sederhana berdiri bersebelahan, seperti misalnya nomor 30, 33, 35, 39, 42, 46, dan 49. Atau obelisk berukuran besar nomor 55, 63, dan 66. Namun, juga bentuk-bentuk batu yang lebih maju selalu berdiri bersampingan. Oleh sebab itu, batu-batu dari nomor 1—8 membentuk kesatuan. Menhir-menhir ini memiliki penyempurnaan bentuk yang menakjubkan. Di kelompok ini, ditemukan dua batu yang mengalihkan perhatian yakni menhir nomor 3 dan 4.

Batu nomor 3 merupakan batu yang pengerjaannya paling halus. Semua permukaannya, bahkan permukaan berdirinya dikerjakan dengan begitu halus. Salah satu dari kedua permukaan sisinya yang kecil dipoles sangat halus hanya pada bagian bawahnya. Sisanya masih belum dihaluskan dan masih kasar. Batu ini tidak selesai sempurna.

Karakteristiknya juga mirip dengan batu nomor 4. Namun, di sini hanya satu permukaan sisi yang dipoles dengan cara hati-hati. Sisanya menunjukkan permukaan yang rusak. Begitu pula menhir ini masih seperti yang lain, tidak selesai sempurna.

Oleh karena itu, batu yang belum selesai pasti berasal dari waktu tepat sebelum masuknya paminggir ke wilayah Besai. Oleh sebab itu, harus dipastikan waktunya ke dalam pertengahan kedua abad ke-14, hanya beberapa generasi sebelum Minak Paduka Begeduh. Kemungkinan juga bukanlah suatu kebetulan bahwa batu dari nomor 1—8 membentuk kesatuan di ujung kompleks bagian barat laut; batu-batu itu tampak diselesaikan dalam waktu yang sama.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar