#tajuklampungpost#nilaitukarrupiah#ekonomi#dolaras

Menangkis Lemahnya Rupiah

( kata)
Menangkis Lemahnya Rupiah
Ilustrasi. (Foto: Dok/Google Images)


NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah di sesi akhir pekan kemarin. Pada Jumat (5/10), rupiah  melemah 0,07% di pasar spot ke level Rp15.175/dolar AS.


Ekonom Institute for Development of Economic of Finance (Indef) memprediksi kurs rupiah berpotensi menembus Rp15.200 per dolar AS pekan ini dengan titik support dan resistance masing-masing Rp15.110 dan Rp15.240.

Penggawa moneter di negeri ini sudah berupaya memperkuat rupiah. Bank Indonesia pun mengeluarkan kebijakan menangkis pelemahan rupiah. Namun, naiknya suku bunga acuan BI dan intervensi cadangan devisa yang dilakukan kali ini rupanya tidak mempan mengendalikan gejolak nilai tukar rupiah.

Selain perang dagang antara AS dan Tiongkok, pelemahan rupiah disebabkan banyak faktor eksternal. Dolar AS mengalami penguatan sebagai dampak imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang mencapai 3,23%. Defisit anggaran yang dialami Italia pun menyebabkan euro keok melawan dolar AS.

Pelemahan rupiah yang didominasi faktor eksternal tentu merupakan persoalan tidak mudah untuk diatasi. Sehingga dibutuhkan jurus-jurus jitu penguatan rupiah agar pelemahan ini tidak berkelanjutan dan terus-menerus serta mengguncang perekonomian di negeri ini.

Efek domino keterpurukan rupiah ini bisa dirasakan oleh hampir semua pelaku ekonomi mulai dari eksportir, UMKM, hingga rakyat kecil juga terimbas. Beragam kebutuhan yang berbahan dasar impor, mau tidak mau ikut bergerak naik. Seperti tempe dan tahu misalnya. Makanan merakyat berbahan dasar kedelai itu terimbas karena bahan bakunya, kedelai merupakan produk impor.

Lunglainya rupiah harus diatasi tanpa kepanikan. Formulasi jitu juga harus dikeluarkan pemerintah agar defisit cadangan devisa negara tidak terus terkuras. Mengerem laju impor menjadi langkah yang realistis dilakukan pemerintah.

Menteri Keuangan menyatakan pemerintah terus mewaspadai neraca pembayaran karena impor belum benar-benar terkendali. Pemerintah harus menekan impor secara agresif agar defisit transaksi berjalan bisa turun drastis. Pengendalian impor 1.147 produk konsumsi dan barang yang bisa diproduksi di dalam negeri harus dipantau setiap pekan. Termasuk implementasi kebijakan B20 mengerem laju impor migas.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia pun telah melakukan bauran kebijakan yang berhubungan dengan suku bunga, dengan makroprudensial, dan kebijakan mengenai intervensi untuk menciptakan perubahan yang bisa diserap dan disesuaikan oleh perekonomian.

Keterpurukan rupiah ini jangan jadi nestapa berkepanjangan. Justru harus menjadi peluang untuk mencari keuntungan dengan meningkatkan nilai ekspor unggulan dan peluang pasar ekspor produk lokal lainnya. Selain itu, komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha harus berjalan lebih terbuka guna untuk mengatasi tantangan global ini secara bersama.

Kita berharap penyelenggaraan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali pekan ini memberi angin segar bagi pelaku pasar di Tanah Air. Pertemuan ini penting terutama terkait sentimen pembahasan mengenai arah kebijakan moneter global dan upaya pencegahan terhadap krisis ekonomi. Pertemuan 189 negara tersebut diharapkan memunculkan beragam program kerja sama yang dapat menggairahkan investasi dalam negeri.

Tim Tajuk Lampung Post








Berita Terkait



Komentar