bisnispotsemen

Menangkap Peluang Bisnis Pot Semen di Tengah Pandemi 

( kata)
Menangkap Peluang Bisnis Pot Semen di Tengah Pandemi 
May, warga Desa Kebagusan, Pesawaran saat membuat pot dari semen. Lampost.co/Adi Sunaryo


PESAWARAN (Lampost.co) -- Suara desiran cetok besi beradu dengan adonan pasir yang berbaur dengan semen terdengar dari sudut rumah warga di bilangan Desa Kebagusan, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran, Rabu, 16 November 2020.

Pot-pot dengan beragam ukuran mulai kecil, sedang, hingga besar berjajar rapi didepan rumah bercat hijau, tepatnya dipinggiran Jalan Ganjaran, ruas jalan lintas barat Sumatera yang ramai kendaraan lalu lalang setiap harinya. 

Beragam bentuk pot mulai silinder pendek, selinder panjang, dan kotak kubus tersusun rapi pada tiap rak. Pot-pot cantik dengan corak warna yang beragam itu merupakan hasil karya May, pemuda desa setempat. 

Dengan tangan terampil dan cekatan, May mengukir bentuk-bentuk pot yang menarik dengan memberikan sentuhan karya tersendiri dalam setiap pot yang dibuatnya.

May mengaku pembuatan pot pada musim wabah covid-19 meningkat dibandingkan sebelum terjadinya pandemi. Peluang bisnis dari meningkatnya tren pencinta tanaman hias saat ini langsung ditangkapnya dengan membuat pot semen dengan bentuk yang menarik sebagai pelengkap wadah tanam tanaman hias.

Di tengah kelesuan perekonomian warga karena terkena dampak pandemi covid-19, membuat pemuda yang berprofesi sebagai pekerja proyek itu memanfaatkan keterampilannya untuk mencetak pot-pot cantik yang mendatangkan rupiah.

Dalam membuat pot, May tak bingung karena pengalamannya sebagai pekerja proyek sudah terbiasa berhadapan dengan adonan pasir dan semen setiap harinya. 

Selain keterampilan, berbekal bahan bangunan yakni, pasir, semen, kawat ram, air, dan cetok May dapat menyulapnya menjadi wadah tanaman hias yang menarik.

Sebelum membuat pot, May biasanya menyiapkan adonan pasir dan semen dengan tekstur yang tepat. Selanjutnya, dia merangkai kawat ram sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan sebagai kerangka pot agar kuat dan tidak mudah retak atau pecah.

Setiap hari, May dapat membuat pot sebanyak 8-12 pot dengan waktu pengeringan 1-2 hari tergantung kondisi cuaca. Setelah kering, pot-pot akan dicat untuk memberikan kesan warna yang menarik sebelum dipajang dan dijual kepada pembeli. 

May mengaku mulai membuat dan menjual pot semen sebelum terjadinya pandemi covid-19. Namun, permintaan pot meningkat seiring kegiatan warga di rumah yang gemar menaman tanaman hias.

"Sekarang lagi musim covid-19. Pemerintah mengimbau warga supaya di rumah saja. Supaya tetap produktif, saya membuat pot lebih banyak setiap hari. Apalagi sekarang permintaan banyak karena semua orang di rumah dan suka menanam tanaman hias. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari," kata May.

Pot hasil karyanya dibanderol mulai dari Rp15--20 ribu untuk ukuran kecil, Rp25--50 ribu untuk ukuran sedang, dan Rp75--100 ribu untuk ukuran besar.

"Setiap harinya bisa terjual 15 buah kalau lagi ramai. Jika sepi ya satu dua saja yang terjual," kata dia.


Butuh Perhatian Pemerintah

May berharap pemerintah memperhatikan usaha rumahan miliknya. Menurutnya, tak hanya dia saja yang saat ini menekuni bisnis pembuatan pot tanaman hias.

"Pertama kali yang membuat dan menjual pot semen ini saya. Sekarang tetangga-tetangga satu kompleks di sini sudah bisa membuat dan menjual pot. Mungkin di jalan lintas Desa Kebagusan ini bisa dijadikan sentra kerajinan pot tanaman hias di Pesawaran," kata dia.

May berharap Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui dinas terkait memberikan bantuan modal kepada para perajin pot. Agar usaha pembuatan pot warga setempat menjadi berkembang.

"Saat ini kendalanya adalah modal. Selain itu, jika pemerintah memperhatikan kami. Pemerintah mungkin bisa mempromosikan wilayah ini sebagai sentra pot supaya membantu meningkatkan penjualan kami," kata dia.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar