#nasional#maritim#kkp#kelautan

Menang Kasus Illegal Fishing, Pemerintah Untung Rp20 Miliar

( kata)
Menang Kasus Illegal Fishing, Pemerintah Untung Rp20 Miliar
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. (FOTO: MTVN/Desi Angriani)

Jakarta (Lampost.co) -- Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memenangkan kasus illegal fishing dengan terdakwa Yotin Kuarabiab yang bekerja sebagai nakhoda Kapal Silver Sea 2 atau kapal pengakut ikan Thailand. Kasus tersebut dimenangkan di Pengadilan Negeri Sabang dengan Nomor 21/pidsus/2017/PN SAB.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, putusan tersebut menguntungkan negara sebesar Rp20 miliar dari ialam hasil tangkapan kapal Thailand sebesar 2.285 GT dan 1.930 MT.

"Terbukti bersalah memiliki dan atau mengoperasikan kapal Pengangkut lkan di Wilayah Republik Indonesia tanpa dilengkapi dengan Surat lzin Kapal dan ikan hasil tangkapan kapal Thailand senilai Rp20 miliar dirampas untuk negara," kata Susi dalam sebuah jumpa pers di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra V, Jakarta, 20 Oktober 2017.

Selain kapal terdakwa dirampas negara, kata Susi, yang bersangkutan juga dijatuhi pidana denda Rp250 juta, subsider enam bulan kurungan, dokumen-dokumen, kapal ikan Silver Sea dan ikan campuran sebanyak 1.930 MT yang sudah dilelang berdasarkan Surat Penetapan Persetujuan Lelang dari Pengadilan Negeri Sabang Nomor: 01/I.P.L/2016/PN-sab tanggal 24 Februari 2016 senilai Rp20.579.970.000.

"Berdasarkan Surat Pemyataan Menerima Putusan yang ditandatangani Terdakwa Nomor 21/PID.B/S/R/200/PN-SAB tertanggal hari ini Kamis, 19 Oktober 2016, Terpidana menerangkan bahwa ia menyatakan menerima putusan pengadilan negeri Sabang tersebut," ungkap Susi.

Adapun kapal Silver Sea 2 merupakan kapal pengangkut ikan berbendera Thailand dengan ukuran 2.285 GT yang ditangkap oleh TNI Angkatan Laut pada 12 Agustus 2015 di perairan Sabang, Aceh atas dasar pelanggaran antara lain mematikan Automatic Identification System (AIS) dan Vessel Monitoring System (VMS) dan diduga kuat melakukan transhipment illegal di wilayah PNG ikan-ikan yang ditangkap di wilayah lndonesia.

Dalam proses penyidikan, KKP telah menggunakan metode pemeriksaan Genetika lkan untuk mengidentifikasi asal usul ikan campuran yang berada di dalam palkah Silver Sea 2. Berdasarkan hasil uji DNA, ditemukan fakta bahwa ikan campuran yang berada di dalam palkah Silver Sea 2 adalah 100 persen identik dengan sampel ikan hasil tangkapan, yang salah satunya berasal dari coldstorage milik PT Benjina Pusaka Resources (PT PBR).

Hasil uji DNA juga menyebutkan bahwa ikan campuran berasal dari Laut Arafura, Indonesia yang merupakan wilayah operasi PT PBR. PT PBR merupakan perusahaan penanaman modal asing yang izinnnya telah dicabut oleh KKP dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) karena melakukan tindak pidana perdagangan orang.

MTVN



Berita Terkait



Komentar