#opini#kolompakar#LampoungPost#Santri

Mempertegas Peran Santri Membangun Daerah

( kata)
Mempertegas Peran Santri Membangun Daerah
Santri untuk negeri. jabar.pojoksatu.id


MEMBANGUN sebuah negara maju dan berdaya saing membutuhkan sumber daya manusia yang andal, yakni memiliki akhlak, motivasi, kompetensi, serta komitmen dan intelektualitas. Namun, melahirkan kemampuan SDM seperti itu tidaklah segampang membalik tangan, tetapi perlu ditempuh dengan sejumlah cara, antara lain pendidikan tinggi dan pesantren.
Keberhasilan pesantren maupun perguruan tinggi keagamaan dalam menciptakan santri andal telah terbukti nyata dalam membangun negeri. Sudah begitu banyak santri yang berkorban tenaga, pemikiran, harta, hingga jiwanya untuk kemerdekaan dan mempertahankannya dari paham maupun ideologi yang ingin memecah belah NKRI, sehingga wajar jika Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Menurut Nurcholish Madjid, kata santri yang berasal dari perkataan sastri bahasa Sanskerta yang artinya melek huruf. Kemudian di sisi lain, Zamkhsyari Dhofier mengatakan bahwa kata santri dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.
Kemudian, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri mengandung beberapa pengertian seperti orang yang mendalami agama Islam dan orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh. Sementara ada juga kata cantrik, yang dalam bahasa Jawa berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru.
Sehingga, santri di sini bermakna luas. Termasuk Hari Santri yang baru kita peringati pekan lalu juga tidak boleh diklaim sebagai milik sekelompok orang maupun ormas tertentu. Begitu pula, Hari Santri juga tidak boleh untuk memperlebar jarak antara kaum santri dengan non-santri. Hari Santri harus dijadikan momentum untuk mengenang dan meneladani perjuangan para santri terdahulu dan melanjutkannya.

Narasi Santri

Sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, istilah santri sudah dikenal luas oleh masyarakat. Santri diidentikkan dengan orang-orang yang mondok di pesantren. Seorang antropolog asal Amerika, Clifford Geertz, dalam bukunya Religion of Java bahkan menuliskan tiga pembagian penduduk Indonesia yakni terdapat tiga kaum yang menonjol yakni kaum abangan, kaum priyayi, dan kaum santri.
Pergerakan kaum santri merupakan salah satu yang terpenting dalam bagian sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sejak dahulu, santri selalu menjadi lawan pemerintah kolonial. Berbeda dengan kaum abangan yang terkadang bersama Belanda guna mempertahankan kekuasaan, santri selalu menantang penjajahan koloni.
Slogan terkenal dalam lingkungan pesantren, hidup mulia atau mati syahid menjadi semboyan dalam menentang penjajah. Bagi mereka, tunduk di bawah kekuasaan koloni membuat hidup menjadi hina, maka sudah sepatutnya melawan koloni Belanda.
Pasca-kemerdekaan, santri juga terus berkembang dan menyebar di seluruh lini kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka mengabdi di berbagai sektor dengan segenap keahlian dan kemampuan. Kerja-kerja mereka juga dirasakan rakyat Indonesia.
Narasi santri berhasil membawa bangsa ini semakin besar. Dari segi sifat dasar, santri memiliki sejumlah sifat. Pertama adalah agama yang kental. Karena santri memahami agama maka dia juga wajib melaksanakan tuntutan agama itu.
Kedua sopan santun. Akhlak atau adab berada di atas ilmu. Itu antara lain ajaran pertama yang di dapat oleh santri, meskipun berbagai ilmu yang didapat, tapi ajaran pertama itulah yang dijadikan prinsip santri. Mereka paham betul bahwasanya orang yang berakhlak pasti lebih mulia dari orang berilmu.
Ketiga adalah disiplin. Apakah dipaksa, terpaksa, terbiasa, semua santri mengalami hal itu. Dengan sistem itu, pesantren mencetak santri yang memiliki kedisiplinan berbeda dari kebanyakan orang. Sehingga, meskipun sudah berkeluarga santri dari pesantren yang menyebar di profesi apa pun maka sikap disiplin ini selalu dijunjung tinggi.
Keempat adalah kekeluargaan. Menuntut ilmu di pesantren dengan ditinggal orang tua tentu santri mempunyai keluarga baru. Solidaritas santri dengan santri yang lain sungguh luar biasa hebatnya. Bagaimana tidak, makan senampan, tidur sebantal sudah biasa sehingga di mana pun ia bakal selalu bisa bersosialisasi dan senasib sepenanggungan.
Kelima adalah sederhana. Sejak awal santri memang diajarkan untuk hidup sederhana. Dimulai dari makanan, pakaian, hingga tempat tidur yang beralaskan dingin. Kesederhanaan itu dibawa dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga, di mana pun dia hidup dan mendapat amanah, dia tidak silau dengan cahaya duniawi dan menolak menggunakan segala cara untuk meraih harta maupun jabatan.

Politik Kebangsaan

Dalam segi berbangsa dan bernegara, ada tiga ciri santri. Ketiganya adalah moderat, menghargai keberagaman, dan cinta Tanah Air. Santri itu memiliki pemahaman dan pengamalan Islam yang wasathiyah atau moderat, tidak ekstrem.
Hal itu karena ilmu kalam (teologi), fikih, dan tasawuf yang mereka pelajari bukanlah yang ekstrem. Sebab itulah yang diwariskan ulama-ulama mereka, guru-guru mereka. Sehingga Islam yang wasathiyah itu sangat kental pada diri para santri sejak dahulu hingga hari ini.
Kemudian ciri kedua, santri adalah orang-orang yang mampu menghargai keberagaman. Menghargai keberagaman bukan berarti mengabaikan keyakinan dan keimanan. Bentuk penghargaan kepada orang lain sama sekali tidak mengikis keimanan seseorang. Sebab, ajaran agamalah yang mengajarkan untuk menghargai perbedaan yang berada pada pihak lain.
Menghargai itu sama sekali tidak mengusik. Karena menghargai itu bukan bermakna membenarkan. Hal ini yang seringkali dilupakan baik oleh santri maupun non-santri. Jadi, jika saya menghormati yang berbeda itu bukan berarti saya membenarkannya. Inilah yang perlu dicermati secara cermat-cermatnya.
Ciri ketiga adalah santri di mana pun dia berada, apa pun profesinya, cintanya kepada Tanah Air itu luar biasa. Tanah Air itu bagian yang tidak terpisahkan dari seorang santri. Ungkapan hubbul wathan minal iman adalah khas Indonesia. Itulah kekhasan santri dalam memahami bagaimana Tanah Air ini menjadi bagian yang harus dijaga dan dipelihara. Politik kebangsaan selalu didahulukan ketimbang politik sektarian.
Publik memahami santri tidak bisa lepas dari politik. Namun, yang dilakukan banyak santri bukanlah politik praktis melainkan politik kebangsaan. Santri tidak harus berkumpul dalam satu wadah melainkan boleh menyebar di mana pun. Karena, politiknya adalah kebangsaan dan kenegaraan, bukan politik kepartaian.
Di Lampung, banyak santri yang tulus membangun daerah. Ada pula yang bukan santri tapi peduli terhadap santri dan mengamalkan nilai-nilai kesantrian dalam aktivitas pembangunannya. Terakhir, pesan kepada diri dan kaum santri untuk tetap menjunjung tinggi universalitas nilai-nilai Islam.
Tetap memengang prinsip, jangan pernah berhenti belajar, tetap kritis dengan mampu membaca keadaan baik tekstual ataupun kontekstual, jangan pernah lupa dengan para guru dan teruslah membangun daerah dan bangsa ini. n

Moh Mukri Rektor UIN Raden Intan Lampung









Komentar