#OPINI#INSPIRASI

Membakar Laut Menjaring Badai

( kata)
Membakar Laut Menjaring Badai
Ilustrasi: Pixabay.com


Sudjarwo
Profesor Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Universitas Lampung

PADA salah satu kanal gawai kita ada semacam cerita pendek yang dikarang dengan begitu mengena oleh pegiat gawai, yaitu suatu peristiwa ketika seorang istri bertanya kepada suami. Pertanyaan istri itu adalah apa yang akan diperbuat jika suami bermimpi mendapat uang satu miliar rupiah? Jawaban suami dengan sangat yakin separo dari uang itu akan dipakai untuk membangun rumah kos dan selebihnya akan disimpan di bank dalam bentuk deposito untuk hidup mereka.

Suami pun bertanya balik, apa yang akan diperbuat oleh istri jika punya uang sebanyak itu? Dengan ringan istri menjawab akan menyumbangkan separo dari uang tersebut ke masjid dan separo lagi akan diberikan kepada yayasan yatim piatu. Si suami terheran-heran dan bergumam lirih, “Bodohnya kamu, lalu milikmu mana?” Istri pun menjawab dengan tenang: “Ya, tidur lagi dan bermimpi lagi untuk dapat uang lagi.”

Cerita di atas mengingatkan pada buku pelajaran Bahasa Indonesia pada era ‘50-an. Tertulis pada buku Bahasa Ku dengan judul Mimpi Si Midun. Isinya kurang lebih sama, hanya bedanya Si Midun berandai-andai sedang rebahan di atas balai-balai yang kemudian patah kakinya menyadarkan keberandaian itu.

 

Kemasan Wacana

Keberandaian ini ternyata berlanjut sampai saat ini. Namun, diganti aneka ragam cerita yang lebih canggih, yaitu wacana. Dari kepemimpinan partai sampai periode masa jabatan presiden diwacanakan. Perdebatan dibuka di mana-mana, termasuk di layar kaca. Sekalipun presiden sudah menyatakan andai kata masa jabatan diperpanjang hingga tiga periode pun beliau tetap menolak.

Namun perandaian itu terus bergulir. Bahkan sering dibungkus dengan kepentingan dan fitnah serta dikemas dengan beragam wacana lain. Anehnya, tidak ada yang mau segera bangun tidur untuk mengusap muka dengan air dingin.

Keberandaian ini pun hebatnya melibatkan berbagai kalangan, dari mereka yang bergelar profesor, politikus, sampai para pengangguran di warung kopi. Serunya, mereka tidak hanya berdebat tentang keilmuan. Sering juga mereka tidak sungkan lagi saling menyerang dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas. Namun, begitu ditanyakan kapan itu terjadi, dengan ringan mereka menjawab, merdeka saja dulu hanya mimpi dan untuk mewujudkan menjadi nyata perlu mengorbankan darah, air mata, bahkan nyawa.

Logika-logika sesat dibangun berseliweran sebagai narasi argumentatif yang tampaknya meyakinkan. Walaupun begitu, jika ditimbang dengan norma ternyata logika sesat itu tidak mampu menunjukkan keberadaan pemikiran. Berbagai ilusi seperti ini dibangun seolah dijadikan tembok untuk melindungi kekerdilan diri dalam menghadapi kenyataan sosial.

Hal serupa ini melanda hampir di semua relung dan bidang kehidupan. Tidak peduli apakah itu di pemerintahan, perguruan tinggi, atau masyarakat pedagang pasar. Satu lagi, yang menyedihkan wacana ini bergulir kencang dan melanda kehidupan beragama. Jika kita berada di dalam arus sosial itu, kita tidak akan merasakan atau melihat dengan baik. Namun, coba kita mengambil jarak sosial, kita akan terpana melihat bagaimana peristiwa demi peristiwa itu dapat terjadi.

Di pemerintahan dan politik, pemilihan umum masih sangat lama. Namun, sejak jauh-jauh sudah dibangun logika “jika-maka” yang menghebohkan. Di perguruan tinggi, ada tenaga pengajar yang selama ini mengajar. Namun, begitu berubah posisi menjadi yang diajar, si tenaga pengajar itu seperti mati ketakutan. Kemudian, membangun opini dan narasi bagaimana tenaga pengajar yang lain akan membunuhnya sehingga minta perlindungan diri kepada penguasa. Pada masyarakat pasar, bagaimana mereka begitu ketakutan jika terjadi kelangkaan barang, mereka beramai-ramai menimbun barang.

 

Silogisme

Ternyata hal-hal seperti itu sejatinya sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Hal ini dapat kita baca dari tarikh-tarikh kenabian. Bagaimana suatu kaum begitu terbangun oleh halusinasi seolah-olah kuasa hanya di tangan mereka.

Padahal para filsuf dan para ahli dari berbagai zaman sudah banyak yang mengingatkan. Bahwa berpikir “jika-maka” sebagai dasar silogisme adalah benar jika premis yang dibangun, baik premis mayor maupun minornya ada pada koridor hipothetico verificatif. Hal ini merupakan bangunan kokoh logika. Sebaliknya, jika dibangun atas dasar kebencian, ketidaksukaan, dan balas dendam, kemudian yang muncul adalah nafsu ingin saling memusnahkan.

Oleh sebab itu, sangatlah tidak elok jika kita bertukar premis karena mayor dan minor memiliki fungsi dan peran masing-masing. Bertukar tempat menjadi tidak tepat jika isinya hanya patgulipat. Pembiaran terhadap suatu peristiwa oleh pihak lain yang tidak selamanya menyetujui bisa jadi merupakan bentuk ketidaksukaan tingkat tinggi. Hanya orang arif bijaksana yang mampu menangkap sinyal-sinyal sosial berfrekuensi tinggi seperti ini.

 

Pemandu Nurani

Sangatlah tepat tamsil yang dimuat dalam kitab suci bagaimana Kanjeng Nabi Musa berguru kepada Kanjeng Nabi Khaidir dengan satu persyaratan, yaitu tidak boleh bertanya. Ternyata manusia sehebat Musa pun tidak mampu membendung sejenak keingintahuannya. Oleh sebab itu, apa pun peristiwa dan cerita, sejumlah tanya akan mengadang.

Manusia yang berlabel manusia tetap saja berpeluang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin untuk mencari kemungkinan baru, sekalipun itu harus membakar laut dan menuai badai. Pertanyaan yang tersisa, masihkah kita dapat berpikir waras untuk memahami jenteranya dunia ini? Semua kembali kepada hati kecil kita sebagai hakim garis yang diutus oleh Sang Khalik untuk memandu nurani manusia.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar