cupangpandemi

Melongok Keseharian Peternak Cupang di Masa Pandemi

( kata)
Melongok Keseharian Peternak Cupang di Masa Pandemi
Foto tangkapan layar salah satu koleksi ikan Cupang dari akun instagram Frans Pernanda Simangunson


BEKASI (Lampost.co) -- Hampir saban pukul 05.00 pagi, pria 24 tahun ini sudah terbangun dari tidur. Ia menyiapkan 'sarapan' untuk sejumlah burayak atau anak ikan Cupang.

 

Sarapannya, kutu air. Bagi penikmat ikan hias termasuk Cupang, pasti tidak asing dengan pakan atau makanan hewan ternak tersebut.

Adalah Frans Pernanda Simangunsong. Ia kini menjadi salah satu peternak Cupang atau breeder.

Jika cuaca bersahabat, ia keluar dari rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Ia menuju sejumlah tempat yang diyakini ada kutu air. Seperti danau dan sawah. Jarak dari rumah ke tempat tersebut sekitar 2-3 kilometer.

Kira-kira 2 jam masa pengambilan pakan tersebut dari habitatnya. Nanda, sapaan akrabnya, pulang lagi ke rumah untuk menghidangkan pakan tersebut.

Kutu air itu tidak lantas diberikan kepada burayak. Ia harus membersihkannya sehingga layak dimakan anak Cupang.

"Untuk yang di farm (peternakan) saya, kemungkinan 1.000 ekor," kata Nanda kepada Medcom.id, Senin 30 November 2020.

Di siang hari, Nanda biasanya melakukan perawatan. Antara lain seperti penggantian air dan pengecekan kondisi kesehatan ikan.

Pada sore hari, biasanya Nanda membuat konten promosi berupa gambar dan video. Tentunya konten yang ditonjolkan terkait keindahan dan keunikan Cupang miliknya.

Kemudian di malam hari, ia mulai fokus di depan layar gawai. Ia membuka media sosial facebook dan instagram. Jari-jemarinya menari di layar gawai tersebut.

"Pilih sesuka nya mas bro. Jangan sungkan tanya harga. Lokasi bekasi," tulis Nanda di salah satu unggahan di akun facebook.

Masa Pandemi

Unggahan Nanda di media sosial tidak sia-sia. Sejumlah warganet mulai menghubungi Nanda.

Menurut Nanda, ikan Cupang banyak digemari berbagai kalangan dan dari anak-anak hingga dewasa. Terlebih di masa pandemi covid-19.

"Karena efek pandemi, banyak orang yang berkegiatan di dalam rumah memutuskan memelihara ikan Cupang untuk kesibukannya," ujar Nanda.

Di samping itu, para pesohor negeri juga ikut memelihara ikan Cupang. Karenanya, sebagai peternak, Nanda cukup senang.

Sebab, penjualan ikan Cupang melonjak tajam. Nanda mengisahkan omzetnya rata-rata berkisar Rp3-Rp5 juta dan pernah tembus hingga Rp12 juta dalam satu bulan.

"Itu sudah keadaan pendapatan bersih," kata Nanda.

Harga Cupang bervariasi. Hal itu dipertimbangkan dari sisi warna, bentuk dan rekam jejak Cupang tersebut. Nanda sendiri pernah menjual harga satu ekor Cupang Female Koi seharga Rp2,8 juta.

"Kenapa bisa mahal? Karena faktor utama female adalah pembawa genetik/darah yang sangat tinggi persentasenya ketimbang si male.Faktor lainnya adalah ikan ini memiliki nilai berdasarkan standar kontes seperti International Betta Conggress (IBC) atau Standar Nasional Indonesia (SNI, ataupun warna ikan Cupang di kategorinya susah untuk dicetak," terang Nanda.

Nanda berbagi pesan untuk generasi milenial lainnya. Ia berharap generasi tersebut dapat mengubah pola pikir dari kerja keras menjadi kerja cerdas.

"Untuk generasi milenial, cobalah berkarya dengan hasil usaha sendiri. Jangan berpatokan dengan apa yang sedang naik daun. Sekecil apapun usaha atau karya yang dihasilkan, jika ditekuni pasti akan membuahkan hasil yang bagus," pungkas Nanda.

Winarko







Berita Terkait



Komentar