#tajuklampungpost#petani-kopi#kopi-lampung

Melindungi Petani Kopi

( kata)
Melindungi Petani Kopi
foto dok Lampost.co

PROVINSI Lampung merupakan daerah penghasil kopi terbesar kedua di Indonesia. Komoditas ini menjadi salah satu produk unggulan Lampung. Produksi kopi di Lampung saat ini mampu memberikan kontribusi 24,19% produktivitas kopi nasional.

Produksi petani kopi di bumi Rua Jurai, terutama kopi robusta, mampu mencapai angka 90 ribu hingga 100 ribu ton per tahun. Meski menjadi salah satu komoditas unggulan, nyatanya, kopi Lampung belum bisa menghantarkan para petaninya sejahtera.

Hal itulah yang mengemuka dalam diskusi peringatan Hari Kopi Nasional di auditorium Kementerian Pertanian, Rabu, 13 Maret 2020. Dalam forum itu terungkap beberapa faktor para petani kopi, terutama di Lampung, belum sejahtera.

Faktor paling krusial adalah soal tingkat produksi para petani kopi. Petani kopi di Lampung hanya mampu menghasilkan 1—4 ton/hektare/tahun. Apabila diasumsikan harga jual Rp18 ribu/kg, maka hal ini masih sangat jauh dari hidup layak.

Persoalan kesejahteraan petani kopi di Lampung merupakan hal serius. Kita mendukung berbagai upaya pemerintah daerah dalam melindungi petani kopi di Lampung. Salah satunya adalah komitmen Pemprov Lampung memerangi importir kopi ke Lampung.

Pada 2019 lalu terdapat 1.700 ton kopi impor asal Vietnam masuk ke Lampung. Atas dasar itu Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menggandeng PT Pelindo II Panjang untuk berkomitmen tidak menerima kopi impor asal Vietnam dan di Pelabuhan Panjang.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Lampung menilai keberadaan kopi impor asal Vietnam merusak harga kopi lokal. Menurut AEKI penurunan harga kopi di Lampung mencapai sebesar 30% atau sekitar Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Selain memerangi importir kopi masuk Lampung, Pemerintah Daerah di Lampung perlu mengatasi persoalan pokok petani yakni menambah tingkat produksi. Kemampuan produksi petani kopi Lampung masih sangat jauh jika dibanding petani Vietnam.

Pemprov Lampung perlu segera mengonkretkan program peningkatan produksi para petani kopi di Lampung. Gubernur menargetkan ke depan produksi kopi petani di Lampung naik dari 0,78 ton per hektare menjadi empat ton per hektare.

Agar produksi kopi Lampung meningkat pesat, para petani perlu mendapat dukungan berupa pasokan bibit kopi unggulan. Karena itu pemerintah perlu berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Lampung untuk membudidayakan bibit kopi unggulan.

Tidak kalah penting meningkatkan volume konsumsi kopi Lampung. Masyarakat harus menghargai jerih payah petani dengan giat mengkonsumsi kopi lokal bukan kopi impor. Imbauan Jumat sebagai hari minum kopi Lampung harus terus digaungkan. 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar