#refleksi#melihatlait#IskandarZulkarnain
Refleksi

Melihat Laut

( kata)
Melihat Laut
Jalan tol Lampung-Palembang, memangkas waktu tempuh. (DOK.LAMPUNG POST)

 “AKU ingin lihat laut,” kataku kepada teman sepermainan bernama Idris Fahmi di Palembang, 35 tahun silam. Laut yang dimaksud adalah Sungai Musi.

Jika orang di luar Palembang mendengar kalimat itu terkaget-kaget karena memang sungai disamakan dengan laut. Sungai yang membelah Kota Palembang itu, kini dijadikan eksotis wisata kebanggaan.

Tidak hanya Sungai Musi disebut laut, ada juga gunung, pulau, dan pantai di Palembang. Gunung yang dibanggakan adalah Gunung Meru. Pulau Kemaro serta pantainya adalah sebuah kawasan pinggiran sungai—pantai di Bagus Kuning, Plaju. Begitu caranya wong Palembang menyebutnya agar tempat tersebut memiliki daya tarik untuk dikunjungi.

Kini wong Palembang benar-benar ingin melihat laut bukan lagi sungai. Sejak dibukanya jalan tol trans-Sumatera (JTTS) yang menghubungkan Palembang hingga Lampung, banyak mobil bernomor pelat BG (Sumatera Selatan) parkir di hotel, di kawasan wisata pantai di Bandar Lampung dan Pesawaran.

Tidak kaget pula setiap kali liburan sekolah dan weekend—tempat wisata di Lampung disesaki pengunjung berbahasa logat Palembang. “Lemak nian (enak benar) di Lampung ini ada pantai dan gunungnya,” kata temanku, Nurdin, saat berada Pantai Ringgung, Pesawaran.

Dia membandingkan Palembang dengan Bandar Lampung yang banyak menyimpan objek wisata bahari.  “Laut benar-benar laut. Pantai memang benar-benar pantai. Banyu-nya (air) asin. Tidak rasa campa (tawar) Sungai Musi,” kata Nurdin kepadaku siang itu.

Apalagi ada jalan tol Palembang—Lampung yang mempersingkat jarak dan waktu tempuh. Dulu bisa 10—12 jam, kini paling lama empat jam bisa ke Lampung. Warga kota pempek bisa menghabiskan liburan di Tanah Lada.

Selain wong Palembang ke Lampung, ada juga banyak mobil bernomor pelat BH (Jambi) dan B (Jakarta) nongkrong di kawasan parkir sepanjang pantai di Pesawaran. Bahkan mereka ada yang menginap di Pulau Tegal Mas, Pahawang, dan Teluk Kiluan—melihat eksotis lumba-lumba dan hiu.

Temanku Nurdin dari Palembang memiliki pengalaman saat melintasi tol. Kata dia, kehadiran jalan tol menjadi pemicu pemerintah kabupaten dan kota serta masyarakat berpromosi lebih giat lagi membangun daerah. Panaragan, contohnya, kata Nurdin lagi, ibu kota Kabupetan Tulangbawang Barat itu memiliki objek wisata Masjid 99 Asma Allah.

Penikmat wisata melihat pintu tol sepanjang ruas Pematangpanggang hingga Bakauheni banyak memanfaatkan potensi daerah. Kalianda, kota yang menyimpan wisata pantai berhadapan langsung dengan Anak Gunung Krakatau. Sehingga kehadiran tol tidak mematikan perekonomian daerah.

Daerah harus menciptakan pusat industri baru berdasarkan pertanian, perkebunan, dan perikanan. Anak-anak Lampung jangan menjadi penonton di daerah sendiri. Operator tol juga harus melibatkan pengusaha lokal dan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta komunitas daerah untuk memperkuat tempat-tempat peristirahatan di sepanjang jalan tol. 

***

Lampung kian kuat memiliki daya sedot wisatawan. Sebab, pantai nanindah dan laut biru menjadi pilihan tempat liburan. Apalagi ada jalan tol sumatera dan dermaga eksekutif di Bakauheni yang dibuka 24 jam. Lampung berbenah menyambut kedatangan wisatawan.

Kesiapan infrastruktur jalan tol menyambut liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020 disampaikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Jalan tol Palembang—Kayuagung, kata dia, dibuka secara fungsional dan gratis mulai berlaku 23 Desember 2019 hingga 2 Januari 2020. Ini momen mempromosikan wisata Lampung.

Patut diingat! Untuk saat ini, jalan tol menjadi perhatian serius karena fasilitas di jalan bebas hambatan itu masih serbadarurat. Penikmat liburan harus superwaspada di ruas tol Palembang—Kayuagung—Pematangpanggang—Terbanggibesar. Jalannya masih bergelombang, rambu-rambu lalu lintas masih minim, serta rest area serbaterbatas.  

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kepala Korlantas Mabes Polri Irjen Istiono mengingatksn penikmat jalan tol. “Ketersediaan rest area di sepanjang jalan tol Lampung hingga Palembang menjadi perhatian menteri perhubungan,” kata Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, mengutip pesan menhub melalui WhatsApp, pekan ini.

Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik Nataru akan  meningkat. Bahkan Polri melihat terjadi kerawanan kecelakaan di sepanjang  ruas Pematangpanggang—Kayuagung sejauh 100 kilometer. Di ruas itu tidak memiliki pintu tol dibanding ruas Bakauheni—Pematangpanggang.

Kakorlantas Polri Irjen Istiono mengingatkan pemudik bahwa ruas jalan itu  jadi perhatian khusus. Patroli berkala selama Operasi Lilin serta sosialisasi kesiapan pengemudi sebelum memasuki jalan tol. Saatnya batas kecepatan di jalan tol disorot polisi karena tidak lebih dari 100 kilometer per jam.

Di Negeri Kangguru, pengemudi di jalan tol tidak lebih dari 100 kilometer per jam. Batas kecepatan di Australia wajib dipatuhi jika melebihi masuk pelanggaran berat. Bagaimana di Indonesia? Melihat jalan sepi, pengemudi seenak udelnya ngebut mencapai 160 kilometer per jam.

Ada lagi pengemudi truk berpindah jalur dengan seenaknya. Ini salah satu mesin pembunuh di tol. Banyak korban bergelimpangan akibat berpindah tanpa memperhatikan rambu-rambu dan peraturan berlaku. Coba hitung sudah berapa ratus nyawa melayang karena tidak tertib di jalan tol.

Saatnya menggencarkan pemeriksaan pemenuhan standar pelayanan di jalan tol. Truk tidak boleh lalu lalang selama musim liburan. Hindari jalan lurus dan lancar mengantar pengemudi ke rumah sakit. Liburan harusnya membawa kegembiraan dan keceriaan ingin melihat laut dan pantai, bukan diselimuti kedukaan mendalam karena masuk liang kubur.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar