#mimbar#covid-19

Melawan Kewarasan

( kata)
Melawan Kewarasan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.


ADA dua hal kontras yang saya terima di grup pertukaran pesan, pekan ini. Yang pertama, cuplikan video berisi argumen seorang yang dijuluki ekonom, Ichsanuddin Noorsy, tentang bahaya covid-19 yang menurutnya 'dilebih-lebihkan'. Singkat kata, ia meragukan validitas bahaya korona.

Infomasi kedua, saya mendapat berita duka gugurnya seorang tenaga kesehatan di Wisma Atlet, Liza Putri Noviana, karena tertular oleh covid-19. Liza Putri Noviana tak pernah beringsut sedikit pun menantang bahaya dengan merawat para penderita korona. Semua ia kerjakan dalam senyap, sejak Maret 2020, saat pertama kalinya Wisma Atlet Jakarta beralih fungsi menjadi tempat perawatan darurat covid-19.

Menurut saya, Liza gugur secara syahid. Meski sedih membaca berita tersebut, saya percaya orang yang wafat secara syahid berada di tempat sangat mulia di sisi Tuhan. Ganjarannya surga dengan level tertinggi. Jiwanya tenang. Ia menghampiri Tuhan dengan rela dan direlakan. Tak secuil pun pengorbanan Liza sia-sia.

Adapun Ichsanuddin Noorsy, ia mempertanyakan mengapa masyarakat ditakut-takuti dengan korona, dianjurkan untuk menerima vaksin (yang menurut analisis yang dibaca Noorsy bisa merusak otak), diminta beribadah di rumah. Padahal itu semua, kata dia, berlebihan. "Lihat di Amerika, di Eropa. Liga Inggris sudah ramai," kata dia.

Ia, yang selama ini menekuni bidang ekonomi, tiba-tiba merasa perlu bicara kesehatan dan risiko vaksin. Bahkan, ini yang membuat saya agak terkejut, ia memasuki ranah ilmu agama dengan mempertentangkan dua ajaran dalam Islam. Ia mempertanyakan penggunaan maqashid syariah (tujuan dikeluarkannya aturan aturan atau fatwa agama) dalam sejumlah larangan beribadah selama pandemi.

Dalam maqashid syariah, misalnya, dinyatakan bahwa bahaya harus dihindari dan ditiadakan. Adh-dhararu yuzalu, bahaya harus dihilangkan. Karena itu, demi menghindari bahaya virus covid-19 yang mematikan, para ulama menganjurkan salat Jumat di rumah meski dalam keadaan normal wajib di masjid. Saf-saf dalam salat harus direnggangkan demi menjaga jarak meski dalam aturan normal mesti rapat.

Itu semua dipertanyakan sang ekonom. Bukan hanya itu, malah dipertentangkan dengan ajaran lainnya dalam Islam soal kepasrahan kepada Tuhan. Komponen maqashid syariah, yakni hifdzun nafs (menjaga nyawa), ia pertentangkan dengan Quran surah Al-An’am ayat 162. Penggalan ayat itu bunyinya 'Innashalati wanusuki wamahyaya wa mamati lillahirabbil 'aalamiin' (sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam).

Saat mempertentangkan dua ayat itu, Noorsy mendapat tepukan riuh dari yang hadir. Dalam dugaan saya, ia sedang menuding bahwa mereka yang takut akan bahaya korona dan memilih beribadah di rumah belum masuk golongan orang-orang yang pasrah total kepada Tuhan. Apa yang ia tafsirkan atas ayat terakhir seolah-olah sudah merupakan tafsir yang solid, tidak goyah, apalagi salah.

Namun, ada baiknya kita membaca sejumlah tafsir dari ulama, yang memang menggeluti ilmu tafsir. Profesor Quraish Shihab dalam kitab Tafsir al Misbah, misalnya, menyatakan ayat 162 itu merupakan anjuran agar kita ikhlas dalam beragama. Selain itu, ayat tersebut, menurut Quraish Shihab, bermakna ajakan Nabi kepada umatnya agar meninggalkan kesesatan.

Fakhruddin Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al Ghaib mengatakan ayat tersebut menjelaskan sikap ikhlas pada Allah dalam beribadah. Pasalnya, ibadah yang dilakukan tanpa ikhlas tak akan diterima Allah. Jadi, bukan berhubungan dengan kepasrahan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip utama maqashid syariah sebagaimana dinyatakan tokoh yang dijuluki ekonom tersebut.

Segala bentuk penyangkalan terhadap bahaya virus korona, apalagi yang diembel-embeli atau dijustifikasi dengan ayat-ayat dengan tafsir sembrono, kerap diikuti sebagian masyarakat. Bahkan, tak jarang mendapat tepukan riuh, emoticon jempol di media sosial, atau setidaknya anggukan kepala. Padahal nyata bahwa yang disampaikan itu dipenuhi argumen yang sesat dan menyesatkan.

Sebaliknya, perjuangan tak kenal lelah dalam senyap hingga nyawa jadi taruhannya justru kerap dicibir sebagian orang. Apakah kita memang ada di zaman edan? Sebuah era ketika akal sehat dikeluhkan, sebaliknya kegilaan disambut tepuk tangan. Saya memilih akal sehat. Bagaimana Anda? Semoga tidak ikut-ikutan melawan kewarasan.

Winarko







Berita Terkait



Komentar