#Buras#Megathrust#BambangEkaWijaya

Megathrust, 295 Sesar dan Cincin Api 127 Gunung!

( kata)
Megathrust, 295 Sesar dan Cincin Api 127 Gunung!
Foto Pixabay.com

DI Indonesia setiap hari ada gempa bumi lebih dari sekali dengan magnitudo bervariasi. Itu akibat Indonesia di cincin api (ring of fire) dengan 127 gunung berapi, terletak di 295 sesar aktif, seperti sesar besar Sumatera yang membentuk Bukit Barisan dari Aceh sampai Lampung, serta benturan lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik yang terus bergerak.

Benturan lempeng bumi sepanjang lepas pantai barat Sumatera, selatan Jawa, dan Nusa Tenggara itu di beberapa titik ada subduksi pemicu gempa megathrust M 8—9. Lalu, sesar aktif bisa memicu gempa besar seperti tsunami Aceh, 26 Desember 2004, serta gempa Lombok dan tsunami dengan likuefaksi Palu 2018. Lalu, letusan gunung seperti Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

Oleh karena itu, kewaspadaan komplet terhadap segala jenis bencana itu, sekaligus mitigasi mengurangi dampaknya, harus lebih ditingkatkan pada masyarakat. Di balik diskusi yang membahas ancaman megathrust, harus disadari bencana lain yang tidak kalah merusak.

"Ditinjau dari frekuensi kejadian gempa merusak, sesar aktif lebih sering terjadi dan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa dibandingkan megathrust yang sebenarnya lebih jarang terjadi," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dikutip Kompas.com (16/8).

Menurut dia, dalam buku Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) 2017, disebutkan sumber gempa dari segmen megathrust hanya berjumlah 16 segmen. Sementara jumlah segmen sesar aktif yang dimiliki Indonesia lebih dari 295 sesar aktif.

Sebagai contoh, gempa dahsyat yang berpusat di darat, seperti gempa Yogya (2006), gempa Podie Jaya (2016), serta gempa Lomhok dan Palu (2018) terbukti telah menimbulkan kerusakan yang hebat. "Gempa tersebut menelan banyak korban jiwa dan menimbulkan kerugian sangat besar. Sebab, pusatnya berada di daratan dekat permukiman masyarakat," ujarnya.

Dia menambahkan, "Gempa tersebut dipicu oleh sumber gempa sesar aktif, bukan dari sumber gempa megathrust".

Sumber gempa megathrust, menurut dia, terletak di laut. Sementara sumber gempa sesar aktif banyak yang terletak di daratan, dekat perkotaan bahkan dekat tempat tinggal kita.

Seperti warga Lampung yang tinggal dekat sesar aktif patahan Semangko, pangkal dari sesar besar Sumatera, harus siap menghadapi local site effect gempa. Warga harus dilatih evakuasi mandiri, menjaga kepala dari jatuhan genting, cepat meninggalkan lokasi terancam tsunami, dan sebagainya. ***

H. Bambang Eka Wijaya

Berita Terkait

Komentar