#Ramadan#LampostJumat

Masih Ada Kesempatan, Ini Cara dan Niat Membayar Utang Puasa Tahun Lalu

( kata)
Masih Ada Kesempatan, Ini Cara dan Niat Membayar Utang Puasa Tahun Lalu
Ilustrasi. Unsplash/Rifky Nur Setyadi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Awal bulan suci Ramadan diperkirakan jatuh pada 12-13 April 2021. Masih ada waktu lebih dari sebulan untuk mengganti kewajiban puasa yang terlewat di tahun sebelumnya.

Dalam fikih, mengganti kewajiban ibadah yang terlewat dengan alasan tertentu ini disebut qadha. Menyitat keterangan dalam Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya Syekh Shafiur Rahman Al-Mubarakfry, qadha secara bahasa bisa dimaknai al-hukm (hukum), bisa juga berarti al-adaa (penunaian). 

Qadha bukan satu-satunya cara yang dianjurkan ilmu fikih dalam mengganti ibadah yang terlewat. Ada dua cara lain untuk puasa Ramadan yang tertinggal. Yakni, membayar fidyah atau memberi makan fakir miskin, dan menunaikan kaffarah (denda). Akan tetapi, masing-masing bentuk itu harus dikerjakan sesuai dengan alasan mengapa kewajiban puasa itu terlewat atau ditinggalkan. 

Baca: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan Jatuh pada 13 April 2021

 

Niat qadha puasa

Qadha puasa Ramadan wajib dilaksanakan sebanyak hari yang telah ditinggalkan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 184;

".. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Seperti halnya puasa Ramadan yang wajib diawali dengan bacaan niat, begitu pula saat menggantinya. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam Hasyiyatul Iqna yang ditulis Syekh Sulaiman Al-Bujairimi;

“Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nazar. Syarat ini berdasar pada hadis Rasulullah SAW, ‘Barang siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadis,” 

Adapun lafaz niat qadha puasa Ramadan adalah sebagai berikut;

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta‘ala. 

“Aku berniat untuk meng-qadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.”

 

Cara mengqadha

Cara mengganti puasa yang tertinggal sama persis dengan ibadah puasa yang diwajibkan saat bulan Ramadan. Menurut Mazhab Syafi'i, mereka yang yang hendak meng-qadha puasa Ramadhan juga wajib memasang niat puasa qadha-nya di malam hari. 

Sedangkan ketika seseorang meninggalkan puasa Ramadan dalam hari yang beruntun dan berurutan, maka terdapat dua pendapat ulama yang bisa dijadikan acuan tentang cara meng-qadha puasa tersebut. 

Pertama, ulama menyatakan qadha harus dilaksanakan secara berurutan. Hal itu muncul dilandasi argumen bahwa qadha merupakan pengganti puasa yang telah ditinggalkan sehingga wajib dilakukan secara sepadan. 

Sementara pendapat kedua mengatakan, pelaksanaan qadha puasa tidak harus dilakukan secara berurutan karena tidak ada satu pun dalil yang menekankan pergantian puasa Ramadan yang tertinggal dengan cara tersebut. Dalam QS. Al-Baqarah: 184 hanya ditegaskan bahwa qadha puasa wajib dilaksanakan sebanyak jumlah hari yang telah ditinggalkan. 

Mengenai dua pendapat tersebut, sebagian besar ulama lebih menyarankan untuk mengikuti pendapat kedua. Hal ini juga karena terdapat hadis Nabi SAW;

"Qadha (puasa) Ramadan, jika ia berkehendak, maka boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, ia boleh melakukannya berurutan." (HR. Daruquthni)

 

Sumber: Diolah dari keterangan dalam Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya Syekh Shafiur Rahman Al-Mubarakfry, Hasyiyatul Iqna karya Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Al-Mughni karya Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Ibnu Qudamah Al-Hanbali Al-Almaqdisi, dan Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf karya Imam Al-Mardawi. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar