#dagingsapi#opini

Mas Joko dan Daging Sapi

( kata)
Mas Joko dan Daging Sapi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI


Oleh: Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group

SAYA terpikat membaca tulisan politikus Partai NasDem Djadjat Sudradjat di Instagram pribadinya, pekan ini. Anggota DPRD Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu menulis 'reportase' tentang Mas Joko, sohibnya, yang sukses menjadi peternak sapi di Desa Kedung Gede, Lumbir, Banyumas.

Mas Joko, tulis Djadjat, yang memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi peternakan itu, masih muda, kreatif, dan kuat tekadnya. Melalui peternakan Pondok Benggolo Sidamulya, putra Jawa kelahiran Medan itu telah mengembangkan 80 ekor sapi dari berbagai jenis. Sapi-sapi yang kuat nan sehat itu diternakkan untuk beragam tujuan: penggemukan, untuk susu, sapi daging, pembenihan, juga untuk kontes.

Untuk tujuan terakhir, sapi harus memiliki berat badan di atas 1 ton. Di Banyumas, baru di Pondok Benggolo Sidamulya ada sapi dengan berat di atas 1 ton. Lebih membuat bungah lagi, Mas Joko bertekad mengembangkan usahanya di berbagai lokasi. Bahkan, tengah ia rancang tempat-tempat itu nantinya bisa menjadi ekowisata.

Joko juga bertekad upayanya itu bakal membantu ketergantungan daerah Lumbir terhadap pasokan daging impor yang harganya tak pernah turun dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun ingin membantu menaikkan taraf hidup sebagian warga Lumbir. Ia sedih melihat penduduk desa yang secara ekonomi tidak cukup memperoleh penghasilan memadai.

Pelan, tapi pasti, peternakan Joko menjadi inspirasi. Juga, tulang punggung ratusan warga. Mereka kini mendapatkan penghasilan tambahan dari menanam rumput untuk pakan sapi yang dibeli dengan harga tinggi. Sebuah simbiosis mutualisme dari Lumbir, yang jika menjadi gerakan masif bisa berbuah manis, yakni memutus mata rantai ketergantungan impor sapi sekaligus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan ekstrem.

Kontras dari yang dituliskan politikus Partai NasDem itu, di wilayah lain di republik ini, sejumlah pedagang daging sapi melempar handuk, pekan ini. Para pedagang daging sapi di pasar-pasar yang ada di Kota Tangerang mogok dagang. Hal itu dilakukan buntut dari naiknya harga daging sapi. Sebanyak 92 pedagang dari enam pasar berbeda itu berencana mogok dagang lima hari, lebih lama dua hari daripada mogok produksi perajin tahu dan tempe.

Dalam sebulan terakhir, harga daging sapi terus merangkak naik. Pada akhir Januari, harga daging sapi masih Rp110 ribu per kilogram. Lalu naik menjadi Rp120 ribu per kg, naik lagi hingga Rp130 ribu, dan akhir pekan lalu, harga daging sapi sudah menyentuh Rp140 ribu per kilogram.

Para analis menyebutkan kenaikan harga daging sapi terjadi karena Australia sebagai pemasok tunggal daging impor di Tanah Air memangkas suplai daging hingga lebih dari separuh. ‘Negeri Kanguru’ mengambil langkah tersebut demi mengamankan pasokan di dalam negeri mereka karena sejumlah keadaan darurat. Indonesia yang sangat mengandalkan pasokan daging impor Australia pun tidak bisa berkutik.

Celakanya, permintaan daging sapi di Indonesia juga terus naik dari waktu ke waktu. Pertumbuhan permintaan itu bahkan tidak sebanding dengan kenaikan pasokan. Betul bahwa upaya menambah pasokan daging sapi lokal sudah digenjot. Namun, tetap tidak cukup memenuhi kenaikan permintaan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan kenaikan permintaan rata-rata tumbuh 6,4% per tahun. Sementara itu, persediaan pasokan daging sapi dalam negeri hanya tumbuh rata-rata 1,3%. Pasokan tumbuh secara deret hitung, sebaliknya permintaan tumbuh mengikuti deret ukur.

Kebutuhan daging sapi di Indonesia pada 2021 lalu diperkirakan mencapai hampir 700 ribu ton atau setara dengan 3,6 juta ekor sapi. Namun, produksi daging sapi dalam negeri hanya 400 ribu ton per tahun.

Tingginya permintaan kebutuhan daging tersebut membuat Indonesia memiliki ketergantungan terhadap impor daging sapi hampir 50% dari permintaan. Sudah begitu, impor daging sapi hanya dipasok dari satu negara, Australia.

Maka itu, kita butuh puluhan ribu bahkan ratusan ribu Mas Joko, pemuda kreatif asal Banyumas yang merintis jalan menernakkan sapi demi mengakhiri paceklik daging sapi yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mencapai hal itu.

Akan tetapi, tugas pemangku kebijakan di republik ini memang bukan sekadar membalikkan telapak tangan. Bukan main sulap, melainkan main sirkus. Mereka harus jungkir balik, salto gaya Aubameyang, memutar otak, memerah keringat demi mewujudkan itu.

Kiranya tidak tersedia jalan mudah dan nyaman untuk maju. Sebaliknya, yang ada jalan panjang dan berliku. Leiden is lijden, memimpin itu menderita. Bahkan, harus siap menderita memecahkan urusan daging sapi.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar