asuransipemulihanekonomicovid

Manulife Peduli Kesehatan Nasabah

( kata)
Manulife Peduli Kesehatan Nasabah
Para staf PT Manulife Indonesia sedang mengadakan rapat yang membahas soal percepatan layanan ke berbagai nasabah via program digital terbaru Manulife di ruang kerja anyar, di Jakarta, Kamis, 3 Desember 2020.


JAKARTA (Lampost) -- Para pelaku industri asuransi jiwa dituntut bersikap adaptif guna menjaga kinerjanya, mengingat 2021 diperkirakan kondisi perekonomian belum berjalan normal. 

Pelaku industri harus mampu membaca perubahan konsumen yang terjadi saat pandemi Covid-19 serta melakukan digitalisasi layanan kepada nasabah.Perekonomian nasional diproyeksikan baru kembali normal pada 2022 mendatang. 

Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, mengatakan selama vaksin belum didistribusikan, maka 2021 masih akan menjadi tahun pemulihan. Untuk itu, masalah kesehatan dan keselamatan masyarakat masih menjadi kunci utama pemulihan ekonomi.

Sejalan dengan itu, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) senantiasa memfokuskan diri kepada kebutuhan nasabah yang kian beragam dan berubah seiring dengan tantangan kehidupan yang dinamis. 

Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia, Ryan Charland, mengatakan masalah kesehatan dan tantangan ekonomi akibat pandemi Covid-19 menjadi salah satu fokus perhatian Manulife Indonesia. 

Dia menambahkan pada 2021, Manulife Indonesia akan terus memberikan solusi perencanaan keuangan terkait dengan biaya kesehatan dan proteksi keuangan keluarga mengingat pandemi Covid-19 masih akan mewarnai perjalanan pada tahun depan. 

"Selain itu, pelaku industri asuransi jiwa juga dituntut untuk menjaga keselamatan masyarakat. Menyikapi hal itu, Manulife Indonesia menerapkan layanan non face to face," kata Ryan, di Jakarta, Kamis, 3 Desember 2020.

Menurutnya, di tengah pandemi Covid-19, tenaga pemasar Manulife Indonesia tetap berupaya memberikan layanan terkait advis finansial meskipun tanpa bertatap muka. 

Untuk itu, para tenaga pemasar dibekali dengan pelatihan yang mumpuni dan profesional agar tetap optimal membantu masyarakat di tengah pandemi ini.

Untuk itu, Manulife terus mendampingi para nasabah. Termasuk membayar klaim Covid-19 dari para nasabah. Hingga 9 November 2020, jumlah klaim yang dibayarkan Manulife tercatat sebesar Rp54,5 miliar. 

Jumlah tersebut termasuk manfaat rawat inap dan perlindungan jiwa. Sedangkan, klaim keseluruhan Manulife Indonesia per Oktober 2020 sebesar Rp4 triliun. “Pembayaran klaim dilakukan Manulife Indonesia setelah nasabah memenuhi semua persyaratan yang ditentukan,” papar Ryan.
 
Sementara itu, total donasi yang diberikan Manulife Indonesia tercatat lebih dari Rp4 miliar yang diberikan kepada sekitar 200 pusat pelayanan kesehatan di Indonesia. 

Anggota Dewan Komisioner, Kepala Eksekutif Pengawas IKNB Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi, mengatakan pandemi menjadi momentum bagi industri asuransi jiwa untuk menerapkan digitalisasi layanan, termasuk pemasaran produk. 

Ke depan, layanan digital menjadi tren yang tidak dapat dihindari. Digitalisasi layanan diyakini turut meningkatkan inklusi keuangan nasional. 

“Dengan menggunakan teknologi informasi ini diharapkan daya jangkau industri asuransi kepada nasabah akan lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Selain itu, industri asuransi juga harus bisa memaksimalkan potensi besar di sektor digital. Apalagi, penetrasi asuransi saat ini relatif masih kecil, tidak pernah di atas 3% dengan total potensi 270 juta jiwa. Jika saja 20% masyarakat sadar asuransi, maka industri ini akan meningkat secara signifikan.

Untuk itu, OJK memberikan persetujuan kepada sembilan perusahaan asuransi untuk memasarkan produknya secara digital, termasuk Manulife Indonesia. 

Hal ini diharapkan dapat memudahkan nasabah mendapatkan pelayanan Manulife Indonesia dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.
 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar