#refleksi#mainanbaru#IskandarZulkarnasen
Refleksi

Mainan Baru 2020

( kata)
Mainan Baru 2020
Suasana wisata pantai saat liburan akhir tahun di Lampung. (LAMPUNG POST/ZAINUDDIN)

MALAM itu, aku sengaja naik taksi daring keliling Kota Bandar Lampung, minta diantarkan di sejumlah hotel, rumah makan, pusat oleh-oleh khas Lampung. Isinya orang lagi liburan natal dan tahun baru (Nataru). Di ruas jalan protokol dan daerah wisata, banyak terlihat mobil pribadi berpelat nomor polisi luar kota. Kebanyakan dari Sumatera Selatan dan Jakarta.

Lampung mendapat berkah dilintasi jalan tol Sumatera. “Di luar dugaan, Pak. Kota Bandar Lampung ramai sekali. Lihatlah, banyak mobil plat asal Palembang nongkrong di depan ruko nasi uduk. Di Puncak Mas, kawasan pantai dipenuhi mobil luar kota,” kata sopir daring Andi (35) yang membawaku, Selasa (24/12) malam itu, menjelang perayaan Natal 2019.

Pusat oleh-oleh di Jalan PU–keripik pisang, bakso Soni, toko makanan Yussi Akmal, pisang beku disesaki wisatawan mencari buah tangan sebelum pulang. Kalau sudah jadi berkah, kata Andi lagi, tinggal menjaga dan merawatnya. Jangan sampai pengunjung datang ke Lampung hanya sekali. “Merasa kecewa karena pelayanan yang tidak memuaskan,” celetuk dia.

Lampung sudah saatnya berjiwa melayani seperti Bali. Aku pernah kecewa makan siang mengajak teman dari Batavia. “Minta sumpit (alat makan asal Asia Timur) ya, jangan sendok garpu ini,” kata temanku, Andika, pria paruh baya. Kalimat yang keluar dari mulut pelayan kafe ternama di kawasan Teluk? “Sumpitnya tidak ada, Mas. Hanya ada sendok,” kata pelayan itu.

Sahabatku hanya geleng-geleng kepala. “Harusnya kafe ini menyediakan alat makan lengkap. Ndak mungkin kafe ini tidak ada sumpit,” ucap dia. Apalagi sumpit sudah menjadi bagian dari pelengkap makan mi.

Sepekan terakhir, Bandar Lampung tidak seperti tahun lalu. Di penghujung akhir pekan apalagi musim liburan Nataru, Kota Seribu Tapis ini dipadati wisatawan. Lampung menjadi alternatif daerah tujuan wisata bagi warga Jakarta dan Palembang.

Lampung sudah harus berpikir cerdas dan kreatif memosisikan Bandar Lampung tujuan utama berlibur. Kota ini harus bersiap dilengkapi fasilitas yang dibutuhkan wisawatan, warganya murah senyum dan bersahabat.

Lambat laun, pertumbuhan ekonomi akan naik signifikan apalagi warganya piawai membuat unit usaha kecil–souvenir untuk oleh-oleh penikmat liburan. Seperti gantungan kunci, baju kaus, makanan khas, kopi Lampung.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung, Budiharto Setyawan memprediksi pertumbuhan ekonomi terus bangkit. Di Provinsi Lampung mengalami kenaikan 5,3—5,7%. “Kita percaya pada 2020 akan terus membaik. Apalagi ada jalan tol," kata Budiharto saat talkshow Refleksi Akhir Tahun Pemerintah Provinsi Lampung 2019, Senin (23/12).

Dipastikan, kata Budiharto lagi, pemakzulan Presiden Donald Trumps tidak berdampak bagi perekonomian Indonesia, Lampung khususnya. Bahkan pertumbuhan ekonomi Ruwa Jurai tumbuh signifikan pada 2020. Apalagi kehadiran jalan tol Sumatera sebagai konektivitas akan mempercepat pembangunan dan memengaruhi peningkatan perekonomian, jelas dia.

Untuk itu, perekonomian harus tetap tegak karena Lampung menjadi alternatif baru berinvestasi di sektor agroindustri pengolahan pertanian, kehutanan, dan perikanan. Gubernur Arinal Djunaidi optimistis akan terwujud jika dibarengi kelayakan infrastruktur, pelayanan publik yang tidak membuat sengsara rakyat, serta kemapanan sumber daya manusia. 

***

Hari ini Lampung menjadi daerah terbuka! Karena Lampung bisa diakses melalui jalan darat, laut, dan udara dalam hitungan jam. Di sini juga akan terjadi persaingan usaha yang ketat. Sebab itu, Lampung berkepentingan menghadirkan lembaga independen bernama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Agar tidak ada monopoli usaha di sini!

Iklim usaha yang sehat sangat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Seorang peneliti The Indonesian Institute, M Rifki Fadillah, menyampaikan negeri ini memiliki modal kuat menghadapi ekonomi global. Suka tidak suka, mau tidak mau Indonesia masuk dalam era kebebasan ekonomi.

Peneliti, Rifki, mengingatkan kebebasan ekonomi ditandai akan menguatnya perlindungan atas hak milik pribadi, tarif pajak yang rendah, iklim usaha yang sehat, stabilitas ekonomi, serta keterbukaan terhadap perdagangan global. Kebebasan ekonomi ditandai peran sektor swasta yang meningkat jika dibandingkan dengan pemerintah.

Tapi kalangan swasta sering mengeluh! Mengapa? Karena mengurus surat izin usaha saja, jalannya berliku-liku. Belum lagi ketersediaan lahan yang kian berkurang, tenaga kerja belum trampil, pasokan listrik terbatas. Pada 2020, Lampung harus berbenah setelah menjadi daerah terbuka.

Era sudah berubah. Menghindari suap-menyuap mengurus izin di negeri ini sudah sistem online. Terkadang anak-anak bangsa masih gagap teknologi ketika sudah berhadapan dengan pelayanan sistem elektronik. Belum lagi banyaknya peraturan tidak sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Tumpang-tindih dan berbelit-belit. Capek deh!

Kesigapan memudahkan pelayanan perizinan, menghilangkan hambatan upaya negeri yang modern dan maju. Contohnya mendorong peningkatan investasi,  menciptakan lapangan kerja baru, serta memberdayakan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Contoh nyata dan tidak bisa menghindar.

Maka itu, saat Joko Widodo dilantik sebagai presiden kali kedua periode 2019—2024, dia menyampaikan ide—membentuk skema omnibus law.  Seperti apa omnibus law? Skema menyederhanakan regulasi yang saat ini tumpang tindih bahkan melilit rakyat ketika mengurus sebuah perizinan.

Omnibus law untuk Indonesia baru 2020. Skema itu langsung bersentuhan untuk kepentingan rakyat, seperti cipta lapangan kerja berurusan dengan kemudahan berusaha, penyederhanaan perizinan, perlindungan UMKM, juga untuk urusan ketenagakerjaan.

Ingat kan! Negeriku kebanyakan peraturan yang banyak menyisakan persoalan, sehingga membuat orang sulit bekerja, mulai dari pusat apalagi di daerah. Perbaiki cara berpikir jangan membuat rumit kalau ingin negara ini maju dan hebat, termasuk di Lampung.  ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar