#mitigasibencana#banjir

Mahasiswa Unila Kembangkan Mitigasi Banjir Berbasis Kearifan Lokal

( kata)
Mahasiswa Unila Kembangkan Mitigasi Banjir Berbasis Kearifan Lokal
Mahasiswa Universitas Lampung usai mewawancarai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulangbawang untuk melengkapi data penelitian mitigasi banjir. ISTIMEWA


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Tiga mahasiswa Universitas Lampung (Unila), yakni Rizky Wahyudi, Deswantori, dan M Fachrul Hidayat di bawah bimbingan dosen Sumargono melakukan penelitian mitigasi bencana banjir di Kampung Bugis, Kelurahan Menggala Kota, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulangbawang. Tim melakukan riset selama Juni sampai Agustus 2021 untuk mengembangkan inovasi terbaru sebagai upaya penanganan banjir berbasis kearifan lokal.

Rizky Wahyudi, yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Unila mengatakan, dipilihnya Kampung Bugis sebagai tempat penelitian selain karena daerah setempat menjadi langganan banjir. Kampung itu juga memiliki budaya yang dinilai tepat untuk dijadikan mitigasi banjir berbasis kearifan lokal.

“Di Kampung Bugis ada budaya ngoyok yang merupakan salah satu kearifan lokal yang dirasa tepat untuk dijadikan mitigasi banjir. Kegiatan ngoyok berhubungan langsung dengan banjir yaitu seperti mencelupkan kaki atau berjalan di dalam air atau bahkan berenang dan mandi,” kata dia, Jumat, 27 Agustus 2021. 

Baca: Warga Sekitar Proyek Plaza Living Merasa Terteror Banjir 

 

Selain itu, di dalam kebudayaan ngoyok terdapat nilai kesiagaan bencana. Karena pada orang tua mengajarkan cara berenang kepada anak-anak mereka sehingga ketika terjadi banjir datang mereka sudah memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dan mempertahankan diri.

"Sehingga hal tersebut dapat mengurangi dan mencegah timbulnya risiko kematian ketika terjadi banjir,” kata dia.

Dia menjelaskan ada hal menarik yang dapat dipelajari dari budaya ngoyok, yaitu bagaimana masyarakat menganggap banjir yang datang sebagai kondisi yang harus disyukuri.

“Masyarakat menjadikan banjir sebagai tempat rekreasi, bermain, berkumpul, dan hal-hal positif lainnya,” kata dia.

Deswantori, mahasiswa Program Studi Tari Unila menambahkan, alasan timnya mengembangkan mitigasi banjir berbasis kearifan lokal karena kearifan lokal dipandang sangat bernilai dan mempunyai manfaat tersendiri dalam kehidupan masyarakat.

“Sistem tersebut dikembangkan karena adanya kebutuhan untuk menghayati, mempertahankan, dan melangsungkan hidup sesuai dengan situasi dan kondisi serta kemampuan  masyarakat,” kata dia.

Sementara itu M Fachrul Hidayat mahasiwa Program Studi Program Pendidikan Sejarah mengatakan, untuk melengkapi penelitian, selain terjun langsung ke masyarakat di Kampung Bugis, timnya juga mewawancarai  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulangbawang untuk mendapatkan informasi dan data terkait sejarah banjir dan keadaan Kampung Bugis ketika bencana banjir datang.

“Ternyata, banjir di Kampung Bugis terjadi sejak zaman nenek moyang akibat adanya luapan sungai yang berada tepat dibelakang rumah warga setempat. Luapan tersebut terjadi akibat adanya curah hujan yang tinggi dan adanya air kiriman dari bendungan Way Rarem,” kata dia.

Dia menjelaskan, banjir terparah terjadi pada 2003 dan 2005. Pada 2003, banjir mengakibatkan sawah pertanian di sepanjang sungai Tulangbawang gagal panen dan ribuan rumah warga mengalami kerusakan. Kemudian pada 2005, rumah warga terendam hingga tiga meter.

“Air merendam setengah rumah warga,” kata dia. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar