#kkn#Petani#pupukkompos

Mahasiswa Latih Petani Pekon Luas Membuat Kompos

( kata)
Mahasiswa Latih Petani Pekon Luas Membuat Kompos
Pelatihan pembuatan kompos oleh mahasiswa KKN Unila di pekon Luas.Dok KKN

Liwa (Lampost.co) -- Dilatarbelakangi oleh masih banyaknya penggunaan pupuk kimia yang dilakukan oleh petani, kelompok mahasiwa KKN Unila, Kamis 23 Januari 2020, menggelar sosialisasi cara membuat pupuk kompos menggunakan em4.

Kegiatan itu dilaksanakan di kantor Peratin Pekon Luas, Kecamatan Batuketulis, Lampung Barat dengan menghadirkan sejumlah petani dan aparat pekon.

Peratin Luas Haidir, menyambut baik atas inisiatif yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Unila itu. Menurutnya, hal ini tentu akan memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani.

Menurutnya, hingga saat ini masih banyak penggunaan pupuk kimia dikalangan petani. Penggunaan pupuk kimia itu tentu akan meninggalkan residu yang tidak baik bagi tanah maupun terhadap tanaman yang dihasilkan.

Sebab tidak seluruhnya pupuk kimia itu bisa terserap oleh tanaman. Karena itu, melalui kegiatan ini mahasiswa KKN Unila  periode 1 tahun 2020 memberikan solusi tentang bagaimana cara pemanfaatan sampah organik. Sampah organik ini dapat dijadikan sebagai pupuk kompos yang nantinya bisa dijadikan sebagai pengganti pupuk kimia.

Karena itu ia berharap agar masyarakat petani dapat memanfaatkan kesempatan ini. Selain untuk mengurangi ketergantungan dari pupuk kimia, pupuk kompos juga dapat dijadikan sebagai solusi disaat pupuk kimia mulai langka.

Selama ini masyarakat petani umumnya mendatangkan kompos dari Pringsewu dengan kisaran harga mencapai Rp30-40 ribu/karung. Karena itu melalui kegiatan pelajaran pembuatan pupuk kompos ini maka masyarakat dapat mempraktekanya dan bahkan bisa memproduksi untuk kebutuhan sendiri.

 Ia menambahkan, pupuk kompos memiliki banyak manfaat terutama baik untuk tanaman dan memperbaiki unsur hara tanah. Kemudian yang tidak kalah pentingnya lagi adalah bisa menekan biaya produksi tanam karena bahan yang digunakan hanya dengan memanfaatkan kotoran ternak atau bisa juga dengan menggunakan sampah organik.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar