#harvard

Mahasiswa Harvard asal Lampung Jalani Ramadan di Tengah Pandemi

( kata)
Mahasiswa Harvard asal Lampung Jalani Ramadan di Tengah Pandemi
Indah Shafira Zata Dini mahasiswa jenjang pendidikan S2 jurusan Kebijakan Pendidikan Internasional (Master of Education in International Education Policy), Universitas Harvard.


Cambridge (Lampost.co) -- Ramadan kali ini terasa sangat berbeda karena hilangnya momen-momen kebersamaan yang biasanya hadir menghiasi 30 hari puasa.

Merebaknya pandemi corona, membuat Indah Shafira Zata Dini, mahasiswa Universitas Harvard terpaksa menerima kenyataan bahwa Ramadan tahun ini akan sepi karena tidak ada buka puasa bersama, tidak ada salat Tarawih berjamaah tiap malam di masjid dan aktivitas lain yang biasa dilakukan bersama-sama selama Ramadan. 

Saat ini, Indah adalah mahasiswa jenjang pendidikan S2 jurusan Kebijakan Pendidikan Internasional (Master of Education in International Education Policy), Universitas Harvard. Ia sudah berada di negeri Paman Sam ini sejak Agustus 2019 dan ini adalah Ramadan pertama saya di Amerika. 

"Situasi di Massachusets saat Pandemi Covid-19. Saya selalu mengasosiasikan Ramadan dengan momen penuh kebersamaan namun pandemi tahun ini merenggut segalanya dan saya harus siap dengan kondisi bahwa saya akan banyak menjalani hari-hari Ramadan dengan sendiri saja dan tinggal di rumah sesuai dengan peraturan pembatasan yang diumumkan oleh pemerintah setempat," kata dia berbagi cerita dengan Lampost.co, 20 Mei 2020.

Sejak awal Maret, negara bagian Massachusetts sudah mendeklarasikan kondisi darurat dan perkumpulan dibatasi hanya maksimal 25 orang, namun mendekati bulan Ramadan, pembatasan perkumpulan mengerucut hanya boleh dilakukan lima orang atau malah tidak diizinkan sama sekali. Pembatasan ini membuat jalanan di Harvard Square lebih sepi dari biasanya. 

Untuk perkuliahan sendiri, Universitas Harvard beralih menggunakan fasilitas daring sejak tanggal 14 Maret. Semua kegiatan perkuliahan seperti tatap muka, diskusi dan seminar menggunakan aplikasi Zoom, Slack, maupun portal internal kampus seperti CANVAS dan HGSE Hub. 

"Kegiatan studi lapangan juga dibatalkan melihat pandemi yang belum mereda. Segala rencana kunjungan saya ke berbagai negara untuk mengikuti lokakarya pun terpaksa harus batal dan bila memungkinkan beralih menjadi lokakarya jarak jauh, " kata Indah. 

Meski kelas dilaksanakan secara daring, ia tetap melakukan rutinitas harian seperti bangun pagi dan siap seperti hari kuliah biasa. Indah juga tetap menggunakan baju formal dan rapi saat harus mengikuti kelas virtual dan seminar. 

"Hampir setiap hari, fakultas saya menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat, penulis maupun menteri pendidikan sebagai narasumber bagi seminar maupun kelas. Intinya, saya selalu mengarahkan pikiran saya untuk tetap produktif dan sibuk. Tak lupa, saya tetap melakukan olahraga seperti yoga dan kickboxing pada jam 3 sore untuk sekadar menggerakkan badan agar tetap sehat, " ujarnya. 
 
Kuliah Daring

Untuk urusan belanja bulanan, ia mengunjungi toko lokal seperti Market Basket setiap akhir pekan. Selama peraturan pembatasan berlaku, antrian masuk ke toko menjadi panjang karena kapasitas pengunjung dibatasi hanya 50 orang atau kurang untuk dapat berbelanja di toko tersebut. 

Tentunya saat berbelanja atau keluar rumah saya selalu menggunakan masker sesuai peraturan dari pemerintah Massachusets karena ada denda 300 dólar AS bagi yang melanggar peraturan ini. Semua restoran dilarang menerima pengunjung makan di tempat, tapi restoran tetap boleh beroperasi mengirimkan pesanan makanan melalui aplikasi seperti Door Dash, Food For All, SnackPass, Grabhub, dan Uber eats. 

 Operasional apotek dan toko penjual bahan makanan pun dibatasi dan tutup lebih awal sekitar jam 7-8 malam.

 

Ramadan di Tengah Pandemi

Puasa tahun ini jatuh di peralihan dari musim dingin ke musim semi. Suhu harian berkisar 10-21 derajat bahkan dua minggu lalu masih ada salju turun. Minggu ini suhu cukup hangat di kisaran 18 derajat. 

Durasi puasa yang harus saya jalani adalah 16 jam dari mulai jam 4 pagi hingga jam 8 malam. Saya biasanya menggunakan aplikasi Muslim Pro untuk mengetahui jam berbuka dan sahur. Selain itu, Islamic Center di Boston (ISBCC) juga menyediakan jadwal imsak selama Ramadhan yang disebarkan melalui Whatsapp dan media sosial lainnya.

Agar tetap bugar saat puasa, saya selalu mengusahakan tidur sebelum jam 12 malam agar saya bisa bangun sahur jam 3 pagi. 

Bagijya, persiapan mental ini penting. Karena ia harus bisa tetap fokus beraktivitas mengikuti perkuliahan dan ujian jarak jauh. Yang terasa berat adalah karena saya harus terus diam di dalam rumah dan tidak bertemu dengan rekan-rekan. 

"Padahal berjumpa dan mengobrol dengan rekan-rekan secara langsung adalah momen di mana kita bisa sejenak melepas lelah dan berbagi cerita. Pertemuan langsung memang tak bisa tergantikan oleh pertemuan di dunia maya meski saya tetap bisa melihat muka satu persatu, " paparnya. 

Biasanya ia masak menjelang buka puasa untuk berbuka dan sahur. Awal Ramadan saya belum tahu dimana bisa membeli kurma dan saya hanya makan KitKat dan Oreo untuk berbuka puasa. Menu favorit yang saya buat selama Ramadan ini adalah nasi goreng, taco, dan grilled veggies semuanya yang bisa dimasak dengan cepat dan dapat disimpan di kulkas. Bahan-bahannya dibeli di Market Basket atau Whole Foods. 

"Untuk salat Tarawih, saya lakukan sendiri saja di rumah karena selama masa pembatasan ini masjid tutup sesuai dengan peraturan yang berlaku, " ujarnya. 
 

Menu Berbuka Dibagikan Gratsi dari Masjid

Selama masa pandemi ini, kegiatan ceramah yang rutin digelar komunitas Muslim di Harvard beralih menjadi ceramah daring. Tiap malam sekitar pukul 21.45, Ustaz yang ditunjuk oleh Harvard mengisi materi dengan durasi 30 menit membahas juz 1-30 satu hari satu juz. 

Kegiatan lain yang diadakah adalah kaligrafi, diskusi pengajian, refleksi Al’quran. Bahkan juga ada kegiatan olahraga yang disiarkan melalui kanal digital dari ISBCC maupun Harvard Gym lewat zoom dan aplikasi.
 
Ceramah yang disiarkan dari ISCBCC

Yang membuat Ramadan tahun ini terasa berat adalah karena saya harus kembali jauh dari orang tua dan tidak bisa merayakan juga dengan komunitas di negara setempat akibat pembatasan COVID-19. 

Semua acara komunitas ditiadakan dan masjid pun tutup. Teman serumahnya non-Muslim, sehingga ia benar-benar sendiri menjalani puasa Ramadan dan rasa sepi kerap mendera di awal-awal Ramadan.

"karena saya rindu kehangatan merayakan Ramadan bersama keluarga maupun komunitas Muslim, " ungkapnya. 

Sebagai Muslim, ia bersyukur bisa berada di lingkungan kampus Harvard yang nyaman dan memberikan ruang bagi mahasiswa dari agama apapun untuk melakukan ibadahnya selama masa perkuliahan. 

Kampus juga menyediakan pemuka agama dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Buddha, dan agam lain. 

"Saya senang karena pihak Kampus sangat mendukung kegiatan dan pertemuan-pertemuan keagaman yang diadakan oleh tiap-tiap agama. Untuk salat, hampir di semua gedung Kampus Harvard tersedia tempat salat dan wudhu. Di fakultas saya, ada musholla kecil yang disebut sebagai ruang doa namun terbuka untuk umat agama lain bila ingin membaca kitab atau meditasi, " ujarnya. 

Indah yang merupakan perantau asal Lampung, tumbuh besar di lingkungan yang masyarakatnya jarang merantau ke luar daerah apalagi luar negeri. 

Saat ini, Indah bisa merayakan Ramadan di Amerika, saya merasakan bahwa betapa beruntungnya saya bisa menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang sangat beragam dan berada di lingkungan kampus yang nyaman untuk melaksanakan ibadah. 

Indah yang mengenakan kerudung pun tak khawatir karena lingkungan saya yang dipenuhi oleh teman-teman dengan berbagai latar belakang dan penampilan yang beda. 

 Komunitas Muslim di sini selain terdiri dari orang Indonesia, ada juga yang berasal dari Syria, Iran, India, Pakistan, Mesir, dan negara lainnya. Pengalaman ini membuka mata dan menyadari kemiripan Indonesia dengan Amerika Serikat yang memiliki keanekaragaman dari sisi budaya, masyarakat dan alamnya. 

"Wawasan keanekaragaman yang saya dapatkan selama berkuliah dan berinteraksi dengan masyarakat Amerika menjadi pengalaman yang berharga dalam perjalanan hidup saya, " tutupnya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar