#badaklampung#bola

Magis Petrovic Hanya untuk Arema Tidak bagi Badak Lampung

( kata)
Magis Petrovic Hanya untuk Arema Tidak bagi Badak Lampung
Pelatih Perseru Badak Lampung Milan Petrovic. Dok

Bandar Lampung (Lampost.co) --Penantian selama 17 tahun warga Lampung untuk menyaksikan klub asal Bumi Ruwai Jurai berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, sempat terlampiaskan usai diakuisisinya klub asal Papua Perseru Serui dan memindahkan markasnya ke Lampung. Tak ayal klub tersebut berubah nama menjadi Perseru Badak Lampung dengan CEO Marco Gracio Paulo, eks CEO Pelita Bandung Raya.

Hingga paruh musim Liga 1 2019, Badak Lampung tampil inkonsisten, bahkan mendapatkan julukan aneh yakni "raja tandang" karena belum pernah menang di rumah sendiri dan meraih poin penuh saat di kandang lawan. Saat itu klub diarsiteki Jan Saragih, mantan asisten pelatih Persija Jakarta.

Jan kemudian didepak lantaran performa buruk dari 11 laga yang dilakoni Laskar Saburai, hanya meraih 9 poin dari 2 kali kemenangan dan 3 kali seri. Bahkan, dari 4 laga kandang, Badak Lampung hanya meraih 2 poin dari hasil 2 seri dan 2 kalah.

Tak ingin Badak Lampung tersingkir, Marco mendatangkan pelatih asal Slovenia Milan Petrovic yang saat itu sedang menganggur. Keputusan menarik eks pelatih Arema Malang tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, saat melatih Arema yang awalnya di zona degradasi, dia mampu membawa Singo Edan finish ke 6 pada Liga 1 musim lalu.

"Bukan pelatih yang hebat yang dibutuhkan, tapi yang sesuai dengan kondisi tim, apa yang harus dibutuhkan. Bahkan, ketika saya sudah komunikasi dengan dia, saya tanya kapan siap, coach Milan jawab berikan saya tiket pesawat saya segera datang," ujar Marco.

Namun, penampilan Badak Lampung di bawah asuhannya juga inkonsisten. Sempat menganalisis kelemahan tim yakni pertahanan, Milan mendatangkan dua bek tangguh, Antony Golec asal Australia, dan eks bek Persib Bandung Bojan Malisic.

Penampilan keduanya sempat tokcer mengawal lini pertahanan Badak Lampung. Sayangnya, Badak melepas striker haus gol Torres ke Barito Putera. Alhasil, klub kesulitan mencetak gol, bahkan gol Laskar Saburai banyak dicetak Fernandinho, Vidal, dan Panto yang notabene bukan striker murni.

Milan beralasan timnya saat itu membutuhkan pemain yang memiliki kecepatan. Namun inskonsistensi masih menghampiri, sejak menangani tim pekan ke-12 hingga pekan ke 31 hanya mampu meraih 6 kemenangan, 10 kali kalah, dan 5 kali kalah.

Kesulitan bertahan sudah terlihat ketika Badak Lampung mulai masuk zona degradasi dan terjadi kejar-mengejar angka dengan pesaingnya di zona merah. Badak yang saat itu bertandang ke Persela Lamongan pada 20 November 2019, kalah tipis 1-0.

Laga tersebut menjadi kontroversi karena saat skor 0-0 pada menit ke-75 pendukung tuan rumah masuk dan rusuh hingga merusak fasilitas dan menyalakan api sehingga laga dihentikan. Anehnya, wasit  saat itu malah melanjutkan pertandingan usai dihentikan satu jam dan Badak Lampung kalah 1-0.

Badak Lampung sempat bangkit di pekan selanjutnya dengan membantai Madura United pada 27 November 2019 dengan skor 3-0. Sayang, kembali tumbang di kandang PSS Sleman dengan skor 5-1 pada pekan ke-30, 3 Desember 2019.

Kejar-mengejar angka di papan bawah dan papan tengah terus terjadi, Badak Lampung diminta menghabiskan 4 sisa laga dengan kemenangan total untuk bertahan di Liga 1. Asa sempat mencuat saat Laskar Saburai memencundangi Persija Jakarta di pekan ke-31 pada 8 Desember 2019, dengan skor 2-0. Namun tim lain seperti Persela dan Barito Putera juga terus menang.

Pada laga tersebut terpasang banner yang bertuliskan “Dear Pak Marco, apakah Club ini Numpang lewat?" Tulisan berwarna hitam di atas banner  warna putih terpampang di  tribune utara Stadion Sumpah  Pemuda, Way Halim.

Badak punya misi harus memenangkan tiga laga tersisa untuk meraih 42 poin sambil berharap klub lain kalah. Namun, pil pahit sudah mulai terasa.

Pasalnya, Laskar Saburai dipencundangi tamunya Bhayangkara FC 3-2 pada pekan ke-32 di Stadion Sumpah Pemuda, Way Halim, Kamis, 12 Desember 2019.

Dengan hasil tersebut, sulit bagi Badak Lampung lolos dari zona degradasi. Peluang pun makin mengecil karena berharap menyapu bersih tiga laga sisa sambil berharap Persija kalah di semua laga tersisa. "Nasib Badak lampung ada di tangan Tuhan," ujar Marco saat itu.

Namun, akhirnya Badak Lampung mengubur asa bertahan di Liga 1. Pil pahit tersebut diraih tak kala, Persija Jakarta membantai Madura United 4-0, Jumat, 13 Desember 2019, yang ditandai hattrick Marco Simic dan satu gol Ramdani Lestahulu mengubur asa Laskar Saburai.

Dengan hasil tersebut Persija merangsak di peringkat ke-12 dengan poin 41. Dengan dua sisa laga dan hanya mengemas 33 poin, tim asuhan Milan Petrovic tak bakal bisa mengejar Barito Putera dan Persela Lamongan yang telah mengantongi 40 poin di urutan 14-15.

Dua laga tersisa kontra Persib Bandung dan Persebaya pun jika disapu bersih dengan kemenangan, Badak Lampung hanya meraih 39 poin. Dengan hasil tersebut Badak Lampung di urutan ke-16 dengan poin 33, Semen Padang di urutan ke-17 dengan poin 31, dan Kalteng Putra di juru kunci dengan poin 31.

Tiga tim terbawah tersebut dipastikan bakal merumput di kasta kedua Liga Indonesia. Mereka digantikan Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja Banda Aceh.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar