#kopi#Lampung#MafiaKopi#Refleksi
Refleksi

Mafia Kopi

( kata)
Mafia Kopi
Kopi Lampung yang khas. (DOK.LAMPUNG POST)

BISNIS industri kopi sangat seksi. Sering terjadi, petani kopi dipurukkan oleh petani berdasi. Itu mengapa, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mewanti-wanti eksportir agar menjaga harga jual di tingkat petani. Secangkir kopi di mal dihargai Rp40 ribu, tapi di warung merogoh isi kocek Rp5.000.

“Saya ingatkan eksportir tidak menyengsarakan petani. Buah kopi yang belum dipanen sudah dibeli dengan harga murah. Kopi berkualitas dikirim ke luar negeri. Lalu dikirim lagi ke Indonesia,” kata Arinal dalam obrolan santainya dengan beberapa pengusaha kopi di Bandar Lampung.

Dengan sekuat tenaga dan pikirannya, Arinal yang berlatar belakang pendidikan insiyur pertanian menata kopi Lampung. Mafialah yang membuat sengsara petani harus diakhiri. “Sudah tidak dibenarkan lagi, sisa kopi yang diekspor harus dikonsumsi dalam negeri. Sedangkan kopi berkualitas dinikmati orang luar,” ujar dia. Ini harus disudahi!

Tata pengelolaan kopi Lampung dibenahi mulai dari dibentuknya Dewan Kopi Lampung. Lalu disusul pula pada pekan ini, Lampung menggelar Festival Kopi dalam tiga hari ke depan. Cita rasa dan olahan dipamerkan. Lampung dikenal penghasil kopi robusta terbesar untuk negeri ini, lalu Bengkulu dan Sumatera Selatan. Hari ini tiga provinsi unjuk gigi.

Festival Kopi dalam rangkaian Hari Kopi Sedunia yang jatuh pada 1 Oktober lalu, diramaikan uji cita rasafinerobusta, temu bisnis, apresiasi duta kopi, pameran produk kopi. Pengunjung juga disuguhi lomba cerdas cermat petani, lokakarya, hingga lomba pangan berbasis kopi. Targetnya, kopi Ruwa Jurai disukai milenial dan menembus pasar dunia.

Untuk mendukung kesejahteraan petani, Arinal pun membuat surat edaran isinya mempromosikan dan diharuskan publik mengonsumsi kopi produk Lampung. Setiap hari Jumat dijadikan hari minum kopi untuk masyarakat. Rakyat diwajibkan minum kopi. Karena kopi berkhasiat untuk kesehatan!

Tata pengelolaan kopi Lampung dibenahi mulai dari dibentuknya Dewan Kopi Lampung.

Hasil survei yang dilakukanUCLA School of Public Health and Medicinepada tahun 2011 yang melibatkan lebih dari 700 perempuan. Terungkap bahwa wanita menopause meminum empat cangkir kopi sehari bisa menurunkan risiko diabetes tipe 2 hingga 50 persen.

Bahkan pada 2009, seorang peneliti dari Negeri Kanguru menemukan manfaat kopi untuk mengobati diabetes. Peneliti Australia ini menyatakan setiap tambahan satu cangkir kopi dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 sebesar tujuh persen. Penelitian itu dipublikasikan JurnalArchives of Internal Medicine.Kopi juga berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh.

Memang, minum kopi bagaikan di surga. Sebab, kopi juga melawan kanker. Seorang teman divonis kena kanker. Dengan minum kopi tanpa gula, tubuh kembali sehat. Kopi mengandung ratusan senyawa kimia anti-inflamasi dan antioksidan sepertimethylpyridinium. Minum kopi melawan risiko kanker kerongkongan, kanker usus besar, dan kanker mulut.

Jika suka dengan cita rasa, penikmat kopi ketagihan. Setiap usai makan pasti minum kopi. Apalagi dihadapkan setumpuk pekerjaan, pasti minta diseduhkan kopi. Ilmuwan Harvard School of Public Health mengungkapkan peminum empat cangkir per hari memiliki risiko 20 persen lebih rendah mengalami depresi. Apalagi minum kopi dapat menurunkan kepikunan.

***

Minum kopi sudah menjadi gaya hidup. Di mal, kafe, juga di warung pasti yang dicari kopi. Di bumi Nusantara ini ada dua jenis kopi. Arabika dan robusta. Tingkat kafeina arabika sekitar 1,5%, sedangkan robusta 2,7%. Tingginya tingkat kafeina pada robusta menyebabkan rasanya lebih pahit. Sedangkan arabika memiliki rasa dan aroma lebih lembut.

Komoditas superhebat dibanding dengan tanaman lainnya. Mengapa? Karena kopi diangkat ke layar lebar. FilmFilosofi Kopikarya Angga Dwimas Sasongko, contohnya. Karya anak bangsa ini diangkat dari novel Dewi Lestari. Di dalam film itu, tidak hanya disuguhkan adegan menyeruput kopi, akan tetapi disajikan tayangan filosofi kehidupan dengan media kopi.

Dengan getol pula,Media Indonesia(Grup KoranLampung Post) tidak mau ketinggalan. Pada pertengahan Januari 2019 dihelat pertemuan pebisnis kopi dengan nama Festival Kopi Nusantara. Mikhael Rudy, seorang pemilik Kopi Papaku Manggarai danfounderKopi Tanah Air, mengatakan harga kopi bisa mencapai Rp2,4 juta per kilogram. Kok bisa?

Minum kopi sudah menjadi gaya hidup. Di mal, kafe, juga di warung pasti yang dicari kopi.

Caranya? Mikhael memiliki strategi memperbaiki kualitas kopi. “Edukasilah petani dengan kopi industri asli yang diproses. Fokuskan kopi berkualitas, bagus, dan premium. Indonesia paradigmanya masih menggunakan cara lama. Harus berubah,” kata dia beralasan.

Mikhael mencontohkan India menggunakan esens untuk campuran kopi saset. Hal serupa juga dilakukan Tiongkok. Menjual komoditas kopi dengan berbagai campuran dan cita rasa khas. Lampung juga bisa menyamai kopi dunia. Kini untuk menjaga kulitas, kopi Lampung perlu diremajakan.

Saat ini, tanaman kebanggaan sudah berusia di atas 30 tahun sehingga hasil produksi tidak maksimal. Dulu, petani asal negara Vietnam pernah belajar ke Tanggamus. Sekarang mereka menjadi petani kopi andalan. Tidak salah jika Lampung belajar dari kesuksesan Vietnam bagaimana mengolah agar kopi menjadi minuman terbaik.

Lampung mengandalkan kopi. Karena ada sekitar 200 ribu kepala keluarga bergantung hidupnya pada perkebunan kopi. Tak hanya bagaimana minum dan meracik kopi, tapi lebih dari itu bisa menciptakan destinasi wisata kopi, dilanjutkan mendirikan sekolah kopi untuk jangka panjang.

Jika dikelola dengan baik dari hulu ke hilir, kopi menghasilkan pundi untuk daerah dan petani. Haruskah kopi terus menjadi bancakan mafia. Buliran keringat petani diperas. Keuntungan dinikmati petani berdasi. Mereka memiliki rumah, mobil mewah, kekayaannya disimpan di mana-mana.

Akan tetapi petani asli di desa masih meratapi agar tanaman tidak diserang hama dan dicuri manusia. Jaringan mafia kopi harus diputus dan dipukul mundur karena merugikan petani, juga menguras kekayaan alam negeri ini! ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar