#pemulihanekonomi#ekbis

Luhut Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal IV Lebih dari Lima Persen

( kata)
Luhut Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal IV Lebih dari Lima Persen
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Antara)


Jakarta (Lampost.co) -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2021 akan mencapai lebih dari 5%. Hal itu berkaca pada peningkatan harga komoditas yang menyebabkan kinerja ekspor Indonesia meningkat tajam. 

"Ekonomi Indonesia diuntungkan dengan pemulihan ekonomi global dan negara besar dunia. Harga komoditas utama Indonesia meningkat tajam, membantu peningkatan kinerja ekspor Indonesia mencapai rekor tertinggi sejak 2011," ungkapnya dalam acara Market Outlook 2022 bertajuk Gaining from Global Disorder secara virtual, Rabu, 12 Januari 2022.

Luhut menambahkan bahwa peningkatan kinerja ekspor ini juga merupakan hilirisasi industri nikel, sehingga ekspor besi baja diperkiraan akan mencapai US$ 21 miliar di 2021.  Menurutnya, selama puluhan tahun Indonesia masih mengandalkan pada ekspor komoditas murah atau mentah, di mana pada 1970 Indonesia hanya mengandalkan ekspor karet dan minyak mentah, serta batu bara dan cpo atau minyak kelapa sawit. 

"Hari ini baru berubah setelah upaya hilirisasi nikel menjadi stainless steel yang mulai berbuah pada 2019, yang menyebabkan ekspor besi dan baja Indonesia mencapai ranking 17 dunia, dari sebelumnya tidak masuk 20 besar," kata Luhut. 

Baca juga: Indikator Pemulihan Ekonomi Sinyal Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Sangat Baik

Dia juga menegaskan bahwa ekspor besi dan baja Indonesia terus meningkat dan mencapai peringkat enam dunia pada Oktober 2021. Hal itu pun telah membantu perbaikan stabilitas eksternal Indonesia.  

Selain itu, dia menambahkan bahwa pemerintah terus menyiapkan berbagai dukungan untuk investasi, mulai dari Undang-Undang Cipta Kerja yang mengubah perizinan instansi menjadi berbasis risiko, insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance, lalu insentif nonfiskal seperti kemudahan perizinan.  

"Omicron bukanlah satu-satunya ketidakpastian yang dihadapi pada 2022 ini, AS akan mengetatkan likuiditasnya, ekonomi Tiongkok memiliki masalah domestik seperti default di sektor properti, dan iklim global yang tidak pasti menyebabkan negara global meningkatkan biaya karbon. Seperti halnya covid-19, kami juga tidak dapat menghindari ketidakpastian. Yang dapat kami lakukan adalah memastikan tahan terhadap berbagai tekanan yang ada," ujarnya.  

Menurut Luhut, keberhasilan penanganan covid-19 telah menunjukkan bahwa negara dengan kerja sama yang baik kita mampu mengatasi ketidakpastian yang ada.

"Kita satu bangsa yang besar yang bisa menyelesaikan masalah kita sendiri. Ini saya pikir perlu menjadi perhatian semua. Jangan menjadi masyarakat atau negara pecundang. Kita menjadi negara besar yang mampu menyelesaikan masalah kita sendiri. Saya ingin pesan kepada Anda semua. Ayo kita kompak bekerja. Kita pasti mampu mengatasi masalah apa pun di negeri ini. Sepanjang kami melakukan itu secara terintegrasi dan kompak bersungguh-sungguh, tidak saling menyalahkan," pungkasnya.


 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar