#LPRajabasa#sabu#sipir

LP Rajabasa Selidiki Oknum Sipir Beri Akses ke Napi Pengendali Sabu 10 kg

( kata)
LP Rajabasa Selidiki Oknum Sipir Beri Akses ke Napi Pengendali Sabu 10 kg
dokumentasi pixabay.com

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten menangkap HP (29), warga Bengkulu, yang merupakan kurir sabu, dengan barang bukti 10 kg. 
 
HP ditangkap di Rest Area KM. 43 Jalan Tol Jakarta-Merak, Jumat (8/3/2019) malam, dengan barang bukti 10 kilogram sabu, satu unit mobil Daihatsu Sigra dengan nopol BE 1398 YE, satu unit ponsel, dua tas gendong dan uang tunai Rp 900 ribu. 

Diketahui, paket sabu yang dibawa menggunakan kendaraan pribadi oleh tersangka, merupakan pesanan dari seorang narapidana di Lapas Rajabasa, Bandar Lampung insial TKM. Paket sabu diambil dari Jakarta Utara pada hari yang sama. 
 
Kepala LP Kelas IA Bandar Lampung atau LP Rajabasa Syafar Pudji Rochmadi, membenarkan ada seorang napi berinsial TKM, yang mendekam di LP tersebut. Namun ia tak mengetahui secara pasti terkait track record napi tersebut, karena ia belum 1 bulan menjabat. Namun ia menyatakan, kalau TKM merupakan napi perkara narkoba. 
 
"Benar dan sekarang sudah kita pindahkan di sel isolasi, di sterilkan," ujarnya, 
 
"Rabu kemarin (13/3/2019), sudah datang juga dari BNN Banten memeriksa, kita tidak tahu hasilnya karena teknis penyidikan mereka," Kamis (14/3/2019). 
  
Menurut Syafar, beberapa waktu yang lalu BNN Banten berkoordinasi dengan pihak LP Rajabasa. Pihak LP sangat terbuka dan kooperatif, serta berkomitmen guna memberantas peredaran narkoba. Pihkanya juga sedang melakukan penyelidikan, apakah ada oknum sipir yang diduga terlibat, atau memberikan akses komunikasi. 
 
"Kita lagi cari itu oknum-oknum pengkhianat, pokoknya kalau ada kita tindak tegas, saya udah Komitmen untuk bersih -bersih LP," kata mantan Kadivas Kanwil Kemenkumham Gorontalo itu. 
 
LP Rajabasa berupaya dengan pemeriksaan rutin, razia napi, sipir secara berkala, memperketat pengawasan pembesuk, hingga melakukan penggeledahan. Bahkan, yang terbaru yakni pemasangan cctv serta penyediaan kotak penyimpanan HP untuk para pegawai. 
 
"Pegawai juga tidak ada yang boleh bawa HP ke Blok, itu hasil rapat sebelumnya di Kanwil, memang saat ini mesin Xray kita sedang rusak, cuma masih menunggu anggaran dari pusat untuk perbaikan," katanya.  
 

Asrul Septian Malik



Berita Terkait



Komentar