#nuansa#setitikair#panjatpinang#agustusan

Lomba Panjat Pinang

( kata)
Lomba Panjat Pinang
Ilustrasi. (Dok. Hipwee)

SETIAP tahun, peringatan HUT kemerdekaan RI atau 17-an lazimnya dirayakan dengan meriah. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk berinteraksi kembali dengan warga lingkungan di sekitar rumah.

Berbagai acara dan perlombaan pun digelar dengan segmen peserta berbeda-beda. Ada lomba khusus untuk ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, atau lomba berpasangan bapak dan ibu. Dari sekian banyak kegiatan, hanya satu jenis lomba yang menjadi kontroversi, yaitu lomba panjat pinang. Penolakan terhadap lomba panjat pinang sejak lama disuarakan berbagai kalangan.

Dari sudut pandang lingkungan, lomba panjat pinang ditolak karena batang pohon yang berusia puluhan tahun hanya selesai dipakai satu kali. Usai acara 17-an, batang pohon tersebut entah dibuang atau dimanfaatkan untuk keperluan lain yang tidak krusial.

Andai ada jenis lomba lain, pohon pinang tersebut berguna untuk penghijauan dan akarnya dapat menahan gerusan air. Buahnya pun dapat dipakai sebagai obat. Tanaman yang dapat berusia hingga 100-an tahun itu pun dapat menghasilkan buah secara berkelanjutan.

Dari sudut pandang sejarah, lomba panjat pinang menyimpan kisah kelam kolonialisme yang mencengkeram bangsa ini selama ratusan tahun. Dulu, lomba ini digelar penjajah Belanda sebagai hiburan keluarga. Mereka bahagia menyaksikan rakyat Indonesia yang dicekik kemiskinan berlomba-lomba berebut hadiah, yang dipasang di ujung teratas pohon pinang.

Suasana gembira keluarga Belanda semakin menjadi-jadi saat batang pinang diolesi oli atau jenis pelumas lain. Semakin lama permainan, siang semakin terik, batang pinang akan semakin licin karena pelumas akan bercampur dengan keringat para pemain.

Para penjajah itu akan terbahak-bahak saat melihat ada pemain yang merosot karena licin atau jika ada pemain yang jatuh. Mereka juga akan tertawa tergelak melihat pemain paling bawah meringis menahan kesakitan karena kedua pundaknya dipakai untuk menopang rekan-rekan pemain lainnya.

Jika pesan yang ingin disampaikan adalah semangat kerja sama untuk mencapai tujuan, rasanya tidak cocok dengan situasi saat ini. Sebab, kerja sama tersebut dicapai dengan mengabaikan kesetaraan. Kerja sama yang dilakukan segenap masyarakat untuk kemajuan bangsa ini harus berlangsung dalam posisi setara, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Meskipun penolakan sudah berlangsung lama, hingga kini lomba panjat pinang tetap saja digelar di berbagai daerah. Padahal, dari sisi anggaran, jenis lomba ini menelan biaya cukup besar. Setiap satu batang pohon berikut pemasangan dan oli diperlukan biaya tidak kurang dari Rp2,5 juta.

Belum lagi untuk membeli berbagai hadiah yang dipasang di ujung batang pinang. Akan menjadi lebih baik jika biaya tersebut dipakai membeli hadiah untuk lomba lain yang lebih sederhana. Semisal, hadiah buku dan alat tulis untuk anak-anak, lampu belajar, lemari kecil, atau tas sekolah. Untuk bapak-bapak, selamat menyaksikan lomba senam ibu-ibu dan selamat gaplean.

 

D Widodo/Wartawan Lampung Post

loading...

Berita Terkait

<<<<<<< .mine
loading...
||||||| .r621
loading...
=======
>>>>>>> .r624

Komentar