#LAMPUNG

Literasi Digital Kunci Pembentukan Digital Talent Indonesia

( kata)
Literasi Digital Kunci Pembentukan Digital Talent Indonesia
Seminar sosialisasi program kerja secara daring, Senin, 28 November 2022, yang menghadirkan anggota Komisi I DPR, Lodewijk F Paulus, Pemimpin Redaksi Lampung Post, Iskandar Zulkarnain, dan praktisi Komunikasi, Ismail Cawidu. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI menggelar seminar sosialisasi program kerja secara daring, dengan tema Literasi Digital di Era Digitalisasi, Senin, 28 November 2022.

Dalam seminarnya, Kominfo menghadirkan tiga narasumber, yakni anggota Komisi I DPR, Lodewijk F Paulus, Wartawan senior sekaligus Pemimpin Redaksi Lampung Post, Iskandar Zulkarnain, dan praktisi komunikasi, Ismail Cawidu. 

Anggota Komisi I DPR, Lodewijk F Paulus mengatakan literasi digital merupakan kunci pembentukan digital talent Indonesia. Namun sayangnya masih banyak terdapat gap yang timpang antara SDM dengan skill digital yang dibutuhkan. 

"Untuk itu Koominfo beserta kementerian lembaga lain mengupayakan  pengembangan SDM melalui pelatihan dan sertifikasi, salah satunya adalah Digital Talent Scholarship. Juga memberdayakan asosiasi pengusaha yang dapat membina  kerja sama sekaligus menjadi wadah  aspirasi pengusaha," katanya. 

Selanjutnya pada sektor pendidikan, dapat melibatkan universitas dan politeknik untuk berperan  dalam mengolah masukan industri  dalam  menyusunkurikulum serta  mendidik SDM Indonesia. 

"Karena digital talent dibutuhkan agar masyarakat digital Indonesia mampu menjadi 'pemain di rumah sendiri' dalam memanfaatkan potensi digitalisasi yang besar. Indonesia masih butuh 9 juta digital talent hingga 2030, artinya kebutuhan digital talent indonesia 600 ribu digital talent/tahun," kata Lodewijk

Sementara itu, Pimpinan Redaksi Lampung Post, Iskandar Zulkarnain mengatakan dengan berkembang pesatnya teknologi digital dan juga akses informasi yang sangat mudah untuk dijelajahi, maka keterampilan dalam literasi digital menjadi suatu hal yang diperlukan.

"literasi digital merupakan sebuah tantangan baru dalam literasi media, karena komunikasi saat ini mengimplikasikan tidak hanya pada bagaimana sebuah teks dibuat, melainkan melibatkan proses pemilihan, pengaturan, filterisasi dan bagaimana cara merangkai kembali informasi yang sudah diterima," ujarnya. 

Iskandar mengatakan, fenomena teknologi digital semakin menguatkan bagian dasar dari literasi digital yaitu bagaimana mendapatkan informasi dan menghubungkannya dengan konteks yang 
akan dibuat.

"Literasi media merujuk pada kemampuan masyarakat yang melek terhadap media massa. Dengan adanya literasi media membuat masyarakat lebih sadar kalau tidak semua media bisa diterima secara menyeluruh," ujarnya. 

Selanjutnya praktisi komunikasi, Ismail Cawidu untuk memastikan keamanan masyarakat dalam menjalankan literasi digital di era digitalisasi, perlu adanya pengawasan dari pemerintah. Sebab, dunia digital sangat rentan terjadinya penipuan. 

"Yang harus dilakukan pemerintah untuk mencegah penipuan yakni memastikan seluruh penyelenggara jasa elektronik (PSE) wajib terdaftar dan melaporkan data perusahaannya kepada negara sesuai Peraturan Pemerintah  No 71 tahun 2019," katanya. 

Selain itu, pemerintah juga harus gencar melakukan sosiasi dan seminar yang bertujuan untuk menambah pengetahuan serta kecakapan digital masyarakat. Seperti sosialisasi bagaimana cara membedakan sumber informasi fakta dan hoax. 

"Masyarakat harus akap digital, harus paham pengetahuan dasarnya, pegetahuan mengenai aplikasi percakapan dan media sosial, hingga pengetahuan mengenai aplikasi dompet digital, marketplace transaksi digital. Untuk itu peran pemerintah sangat dibutuhkan," ujarnya. 

Deni Zulniyadi








Berita Terkait



Komentar