#ojk#asuransi#literasi

Literasi Asuransi Rendah, Pelaku Kejar Target 35%

( kata)
Literasi Asuransi Rendah, Pelaku Kejar Target 35%
Foto dok

Bandar Lampung (Lampost.co): Otoritas Jasa Keuangan mencatatkan literasi keuangan industri asuransi sebesar 15,76%. Tingkatan itu yang masih terbilang rendah dan jauh dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar 35%, menuntut pelakunya terus mengedukasi masyarakat agar dapat memahami produk industri jasa keuangan (IJK). 

Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal dan IKNB, Herwan Achyar menjelaskan pangsa industri keuangan non bank khususnya asuransi di Lampung masih relatif kecil dibandingkan industri perbankan. Hal itu menunjukkan masyarakat belum begitu melirik produk asuransi.

Berdasarkan survei inklusi keuangan di 2016, tingkat literasi masyarakat terhadap produk IJK hanya 29,66% dari pengguna produk 67,82%. Khususnya di sektor asuransi tingkat pemahaman konsumen hanya 15,76%. Bahkan tingkat pemahaman itu menurun dibandingkan survei 2013 sebesar 17,84% dengan penggunaan hanya 12,08%.

"Penurunan ini menjadi hambatan dan pekerjaan bersama untuk meningkatkannya sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang strategi keuangan nasional untuk menjadikan inklusi 75% dan literasi 35%," kata Herwan kepada Lampung Post, Senin, 23 September 2019.

Untuk itu, peningkatan intensitas dan sosialiasasi kepada masyarakat terhadap asuransi menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sebab, dengan pemahaman masyarakat yang baik bisa meningkatkan penggunaan produk dan jasa asuransi.

"OJK pun terus mendukung peningkatan pemahaman asuransi dan mendorong ketersediaan akses dan layanan keuangan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, seluruh pelaku asuransi juga wajib berinovasi menciptakan produk yang dapat dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah dan memasarkannya lebih luas," ujarnya.

Branch Head Asuransi Astra Lampung, Ekki Primanda Ramadhan mengatakan inklusi dan literasi keuangan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumahnya. Sebab, masyarakat banyak yang menggunakan asuransi, karena tuntutan pembelian kendaraan di perusahaan pembiayaan, tetapi belum tentu paham dalam memanfaatkannya.

"Sebenarnya literasi itu masih kurang, karena edukasi dari pelaku asuransi dan leasing sendiri yang minim. Itu yang masih kami kejar dan OJK pun terus membantu meningkatkannya. Untuk itu, kami pun sekarang selain menjual harus terus mengedukasi nasabah," kata Ekki.

Untuk meningkatkannya, lanjut dia, pelaku asuransi wajib mensosialisasikan produknya kepada masyarakat. "Kami juga kerap bekerja sama dengan OJK untuk mengkampanyekan asuransi dan OJK mendukung sarananya. Dengan meningkatnya literasi, maka secara bisnis pun pasti akan meningkat yang ditunjukkan pada inklusi keuangan," katanya.

Effran Kurniawan

Berita Terkait

Komentar