limbahkorona

Limbah Medis Covid-19 di Lampung Tembus 1,3 Ton

( kata)
Limbah Medis Covid-19 di Lampung Tembus 1,3 Ton
dok Media Indonesia

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengelolahan Limbah Infeksius Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) di Provinsi Lampung mencapai 1.313,23 kg atau 1,3 ton sejak bulan Maret, April, dan Mei 2020. Limbah tersebut berasal dari berbagai kabupaten/kota. Limbah tersebut dikelola oleh pihak ketiga kemudian di kirim ke Jakarta untuk dimusnahkan.

Hal tersebut sesuai dengan data timbunan limbah dari kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan dalam penanganan Covid-19 berdasarkan laporan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung Nomor: 660/90/V.10/2020 sampai tanggal 22 Juni 2020 yakni 1.313,23 kg atau 1,3 ton dengan rincian pada Maret dengan total limbah 54 kg, April sebanyak 760,63 kg, dan Mei sebanyak 498,6 kg.

Rincian asal dan jumlah limbah medis tersebut yakni Lampung Barat 90,3 kg, Way Kanan 280 kg, Tulang Bawang 30 kg, Lampung Selatan 232,83 kg, Tanggamus 37,8 kg, Pringsewu 512,3 kg dan Bandar Lampung 30 kg. Sementara Lampung Utara, Lampung Tengah dan Metro belum mengirimkan laporan limbahnya. Kemudian untuk Pesisir Barat, Tulang Bawang Barat, Mesuji, Lampung Timur dan Pesawaran nihil kasus.

Kepala Bidang Pengelolaan Limbah dan Sampah (B3) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, M Budi Setiawan mengatakan limbah tersebut sangat berbahaya untuk kesehatan oleh sebab itu harus dimusnakan sesuai protokol yang benar. Pihaknya melakukan monitoring dan membuat laporannya untuk disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Lampung dan Kementerian Lingkungan Hidup.

"Sampai 22 Juni ini, beberapa daerah sudah menyampaikan datanya ada total limbah medis sebanyak 1,3 ton dari Maret, April, dan Mei. Sementara Lampung Utara, Lampung Tengah dan Metro belum mengirimkan laporan limbahnya," katanya, Senin, 6 Juli 2020.

Kemudian, ia mengatakan bahwa di Lampung terdapat alat pengelolaan limbah dengan suhu 800 derajat celcius untuk memusnahkan limbah medis tersebut yang berada di RSUD Abdul Moeloek dan RS Imanuel Bandar Lampung. Namun, sesuai regulasinya, maka ditampung terlebih dahulu yakni diletakan di tempat tersendiri di setiap fasilitas kesehatan. Kemudian secara berkala dengan periode tertentu diambil oleh pihak ketiga untuk dimusnahkan di Jakarta.

"Limbah covid-19 inikan sama seperti limbah beracun. Kita bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengambilnya sebulan sekali atau periode tertentu untuk diangkut dan dikelola di Jakarta. Tidak ada pengolahan limbah covid-19 di Lampung," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI juga telah membuat pedoman pengelolaan limbah rumah sakit rujukan, rumah sakit darurat dan puskesmas yang menangani pasien covid-19 seperti pengelolaan air limbah, pengelolaan limbah padat domestik dan pengelolaan limbah B3 medis padat. Begitupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang telah mengeluarkan surat edaran (SE) No 02 tahun 2020 tentang Pengelolahan Limbah Infeksius (limbah B3 dan sampah rumah tangga dari penanganan covid-19).

Air limbah kasus Covid-19 yang harus diolah adalah semua air buangan termasuk tinja, berasal dari kegiatan penanganan pasien Covid-19 yang kemungkinan mengandung mikroorganisme khususnya virus Corona, bahan kimia beracun, darah, dan cairan tubuh lain, serta cairan yang digunakan pada kegiatan isolasi pasien meliputi cairan dari mulut dan/atau hidung atau·air kumur pasien.

Selain itu, air cucian alat kerja, alat makan dan minum pasien dan/atau cucian linen, yang berbahaya bagi kesehatan, bersumber dari kegiatan pasien isolasi Covid-19, ruang perawatan, ruang pemeriksaan, ruang laboratorium, ruang pencucian alat dan linen.

Limbah Padat Domestik adalah limbah yang berasal dari kegiatan kerumahtanggaan atau sampah sejenis, seperti sisa makanan, kardus, kertas, dan sebagainya baik organik maupun anorganik. Sedangkan limbah padat khusus meliputi masker sekali pakai, sarung tangan bekas, tisu/kain yang mengandung cairan/droplet hidung dan mulut), diperlakukan seperti Limbah B3 infeksius.

Sementara, imbah B3 Medis Padat yaitu barang atau bahan sisa hasil kegiatan yang tidak digunakan kembali yang berpotensi terkontaminasi oleh zat yang bersifat infeksius atau kontak dengan pasien dan/atau petugas di Fasyankes yang menangani pasien Covid-19, meliputi: masker bekas, sarung tangan bekas, perban bekas, tisu bekas, plastik bekas minuman dan makanan, kertas bekas makanan dan minuman, alat suntik bekas, set infus bekas, Alat Pelindung Diri bekas, sisa makanan pasien dan lain-lain, berasal dari kegiatan pelayanan di UGD, ruang isolasi, ruang ICU, ruang perawatan, dan ruang pelayanan lainnya. 

 

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar