#nuansa#kesehatan#virus-korona#Abdul-Gafur

Li Wenliang

( kata)
Li Wenliang
Ilustrasi - Medcom.id.

Abdul Gafur

Wartawan Lampung Post

VIRUS corona menjelma menjadi malaikat penebar maut. Berdasarkan data, hingga Selasa, 11 Februari 2020, jumlah nyawa melayang akibat serangan virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV) melesat drastis hingga menembus 1.000 orang per hari ini.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok menyebutkan jumlah kematian per Selasa 11 Februari akibat corona bertambah 103 orang. Total pasien meninggal mencapai 1.011. Angka 103 nyawa melayang dalam satu hari sejak virus ini mencuat Desember tahun lalu merupakan angka tertinggi.

Adalah Li Wenliang, seorang dokter mata di Wuhan Central Hospital, yang pertama kali mencurigai adanya penyakit misterius pada akhir Desember 2019 lalu. Dokter Li lantas memberi peringatan kepada petugas medis lainnya untuk berhati-hati dan harus mengenakan masker pengaman.

Tak dinyana, unggahannya di media sosial itu justru membuat kuping pejabat Wuhan memerah. Li justru mendapat peringatan keras akibat perbuatannya itu dari Biro Keamanan Umum. Pemerintah menudingnya telah menyebarkan desas-desus yang meresahkan masyarakat.

"Dengan sungguh-sungguh, kami memperingatkan Anda: Jika Anda tetap keras kepala dengan kelancangan Anda dan meneruskan kegiatan ilegal ini, Anda akan diproses secara hukum. Apakah Anda paham?" demikian surat peringatan yang dimaksudkan untuk membungkam sang dokter.

Apakah Li lantas ciut? Alih-alih menyurutkan langkah, ia mengunggah surat peringatan itu di akun sosial medianya. Bahkan, ia bertekad untuk terus berada di garis depan menangani serangan virus penebar maut di Wuhan. Kala itu istrinya tengah hamil dan orang tuanya dalam perawatan.

Tak dinyana, tekadnya itu pula yang menjadi petaka baginya. Setelah memeriksa seorang pasien penderita glaukoma akut pada 8 Januari, ia mulai batuk-batuk dan demam. Belakangan, baru diketahui sang pasien terinfeksi virus korona dan menularkan virus itu kepada Dokter Li.

Pada 12 Januari 2020, Li masuk ruang perawatan intensif. Pada 30 Januari 2020 hasil tesnya positif. Pada 1 Februari 2020, ia didiagnosis terkena infeksi virus corona. Sepekan kemudian, kabar duka itu pun datang. Dokter Li dikabarkan wafat akibat virus yang coba ia perangi.

Li adalah satu contoh dari segelintir orang yang mau tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan kode etik profesinya. Ancaman penguasa tak membuat nyalinya ciut untuk mengungkap kebenaran. Ia tentu sadar, kebenaran itu patut diungkap agar dunia lekas menyadari bahaya corona.

Kematian Dokter Li menjadi duka sekaligus amarah masyarakat Tiongkok. Kasusnya menghidupkan kembali semangat kebebasan mengemukakan pendapat yang selama ini memang sukar didapat. Tanpa ragu, warganet di Negeri Tirai Bambu menasbihkan ia sebagai sosok pahlawan tidak hanya bagi warga Tiongkok, melainkan bagi warga dunia juga kemanusiaan.

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar