#pinjol#fintech

Lemahnya Pemahaman Produk Keuangan Membuat Masyarakat Terjerat Pinjol Ilegal

( kata)
Lemahnya Pemahaman Produk Keuangan Membuat Masyarakat Terjerat Pinjol Ilegal
Webinar OJK Goes to Lampung, Kamis, 21 Oktober 2021. Istimewa


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Masyarakat dinilai banyak yang belum memahami berbagai produk keuangan. Hal tersebut membuatnya menjadi mudah terjerat dalam praktek pinjaman online (pinjol) ilegal.

"Masyarakat belum memahami betul produk keuangan yang digunakan. Indeks literasi masih diangka 38,04% dan indeks inklusi 76,19%," kata Kepala Kantor OJK Provinsi Lampung, Bambang Hermanto saat webinar OJK Goes to Lampung, Kamis, 21 Oktober 2021.

OJK yang memiliki peran memberikan perizinan, pengaturan dan pengawasan Fintech Peer to Peer (P2P) lending atau layanan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi mendukung penuh langkah-langkah tersebut. Untuk itu guna mendorong masyarakat agar lebih berhati-hati dalam melakukan pinjol.

Layanan pinjol per 6 Oktober 2021, yang terdaftar dan berizin di OJK sebanyak 106 penyelenggara dengan rincian 98 mendapatkan izin usaha dan 8 terdaftar. Kemudian hingga 31 Agustus 2021 ada 749.175 entitas lender, 68.414.603 borrower dan Rp249,938 triliun penyaluran nasional dengan outstanding Rp26,09 triliun.

OJK melalui Tim Satgas Waspada Investasi selama ini melakukan langkah tegas dalam memberantas kegiatan pinjol ilegal baik melalui langkah preventif antara lain melakukan edukasi kepada masyarakat, bekerjasama dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi, Bareskrim Polri dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dalam melakukan Cyber Patroli kepada aplikasi pinjol illegal. 

"Ada 19.711 jumlah pengaduan, dengan hasil 9.270 (47,03%) pelanggaran berat dan 10.441 (52,97%) pelanggaran ringan/sedang. Dari 2018-2021 pinjol ilegal yang dihentikan sebanyak 3.516 entitas," katanya.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar