DPRbirokrasiinvestasi

Legislator Sebut Korupsi Jadi Penghambat Utama Investasi

( kata)
Legislator Sebut Korupsi Jadi Penghambat Utama Investasi
Ilustrasi. FOTO: MI/IMMANUEL ANTONIUS

Jakarta (Lampost.co) -- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Mulyanto menegaskan hambatan utama pengembangan investasi adalah korupsi dan birokrasi pemerintah yang tidak efisien. Pemerintah harus cermat mengidentifikasi akar masalah pengembangan investasi nasional.
 
"Masalahnya bukan pada regulasi perizinan dan pesangon tenaga kerja nasional tapi budaya korupsi yang merebak dalam birokrasi. Bank Dunia juga menyatakan demikian," kata Mulyanto, dikutip dari Antara, Rabu, 12 Agustus 2020.
 
Untuk itu, menurut Mulyanto masalah utama investasi bukan lah soal ketenagakerjaan atau desentralisasi perijinan yang ada di daerah. Karenanya, tegas dia, solusi yang harus diambil pemerintah adalah meningkatkan upaya pemberantasan korupsi serta membangun sistem pemerintahan yang efisien, transparan, dan akuntabel.

"Bukan sekadar melalui pendekatan menerbitkan RUU Omnibus Law Ciptaker yang justru melemahkan jaminan sosial tenaga kerja serta kembali mendorong sistem yang sentralistik," ucapnya
 
Mulyanto berpendapat pasal-pasal dalam RUU Cipta Kerja berpotensi memperlemah perlindungan terhadap tenaga kerja dan menimbulkan ketimpangan yang pada gilirannya akan menurunkan produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja nasional.
 
Ia mengingatkan bahwa secara umum Bank Dunia berpendapat kegiatan usaha yang selama ini terhambat oleh perizinan sesungguhnya bukan lah dalam aspek regulasi, melainkan oleh korupsi dan rumitnya proses administrasi perizinan.
 
Penilaian yang sama, masih menurut dia, juga disampaikan World Economic Forum (WEF). Secara regular, WEF melaksanakan survei opini para eksekutif dalam pertemuan tahunan mereka, yang meminta para eksekutif untuk memilih dan mengurutkan sebanyak lima dari 16 faktor yang paling menghambat investasi bisnis di megara mereka.
 
Hasilnya, dalam Global Competitive Report (GCR) 2018, WEF melaporkan faktor utama yang paling menghambat investasi bisnis di masing-masing negara. Untuk kasus Indonesia, faktor utamanya adalah korupsi. Baru setelah itu faktor inefisiensi birokrasi pemerintah.
 
"Di Thailand faktor korupsi berada di urutan kelima. Di Malaysia menjadi faktor di urutan keenam. Sedangkan di Singapura, korupsi adalah faktor penghambat bisnis di urutan ke-16," ujarnya.
 
Dengan kata lain, kata Mulyanto, salah satu faktor yang sangat berpotensi merusak ekosistem investasi adalah korupsi. "Jadi, penyakit utama Investasi di Indonesia adalah korupsi. Bukan yang lain. Jadi jangan salah obat," pungkasnya.

Medcom



Berita Terkait



Komentar