#pdamlimau#legislator#pdam

Legislator Pertanyakan Kualitas Air Bersih PDAM Limau

( kata)
Legislator Pertanyakan Kualitas Air Bersih PDAM Limau
Komisi II DPRD Lambar pertanyakan kualias air bersih PDAM Limau Kunci Liwa. Lampost.co/Eliyah

Bandar Lampung (Lampost.co): Komisi II DPRD Lampung Barat mempertanyakan kualitas air bersih PDAM Limau Kunci, Liwa yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat. Hal itu disampaikan oleh sejumlah anggota Komisi II dalam rapat hearing dengan Direktur PDAM Limau Kunci, Liwa yang dipimpin oleh ketua Komisi II Sarwani, Selasa, 21 Juli 2020.

Sarwani dalam pernyataanya, mempertanyakan tentang penyebab pendistribusian air bersih yang sering macet. Selain sering tidak mengalir, kualitas air yang didistribusikan sering berwarna atau keruh karena mengandung lumpur tanah.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Lina Marlina anggota Komisi II. Menurut Lina, yang kita ketahui tentang air bersih dan berkualitas itu adalah airnya tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. 

Sementara di Lambar ini, kondisi air bersih yang didistribusikan kepada masyarakat terkadang masih berwarna.

"Ini bagaimana dengan hasil laboraturiumnya, bagaimana kualitasnya dan bagaimana dengan kreteria air bersih sebagai sumber air minum yang layak untuk dikonsumsi," kata Lina.

Menanggapi hal itu, direktur PDAM Limau Kunci Liwa, Pistorik, mengakui jika pendistribusian air bersih sering terhenti. Kemudian air bersih yang didistribusikan terkadang kurang berkualitas karena berwarna atau keruh.

Kendati demikian, lanjut dia, berdasarkan hasil laboraturium yang dilakukan per semester, hasilnya masih layak. Bahkan kelayakannya masih jauh untuk menyentuh angka dari ketentuan ambang batas.

Namun ia mengakui, jika terkadang sumber air bersih PDAM Limau Kunci ini terutama di daerah Liwa dan Sukau bahkan hingga Kenali terkadang airnya berwarna. Hal ini terjadi karena sumber air bersih di Lambar mengalami dua musim yaitu apabila saat terjadi hujan kondisi air berubah warna dan pada saat cuaca panas airnya menjadi jernih.

"Kualitas air menjadi berwarna itu dikarenakan sistem pendistribusian dilakukan secara langsung tanpa ada pengolahan lebih dulu ditempat penampungan pertamanya. Dari penampungan utama air langsung didistribusikan kepada pelanggan. Kondisi air bersih di penampungan menjadi keruh karena ada kandungan lumpur yang tercampur ketika terjadi hujan," kata dia.

Dia mengatakan air yang didistribusikan menjadi berwarna ketika musim hujan karena belum ada sarana pengolahanya. Pengolahan air bersih sebelum didistribusikan ke pelanggan hingga saat ini baru ada untuk pelanggan di lingkungan perumahan atas.

"Kami sejauh ini juga belum melakukan upaya penjernihan menggunakan bahan klorit/kaporit. Sebab masyarakatnya juga belum menerima jika pengolahan air bersih ini dicampur kaporit," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar