#Covid-19#variandelta

Lebih Ganas, Ini Beda Varian Delta dengan Covid-19 Biasa

( kata)
Lebih Ganas, Ini Beda Varian Delta dengan Covid-19 Biasa
Ilustrasi varian Delta. Foto: Shutterstock


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Varian Delta disebut jadi pemicu ledakan kasus positif covid-19 di Indonesia selama dua pekan terakhir. Mutasi covid-19 yang pertama kali ditemukan di India itu bahkan bisa menular hanya dengan berpapasan, tanpa adanya kontak fisik.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung belum mengkonfirmasi adanya temuan Delta di wilayahnya. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI yang diselenggarakan secara daring pada Selasa, 13 Juli kemarin menyebut varian baru tersebut sudah mulai masif menyebar ke luar Pulau Jawa.

"Mereka (Delta) terkonsentrasi di Jawa, tapi kita sudah melihat mereka mulai menyebar di luar pulau Jawa yakni di Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Kepulauan Riau, dan Bengkulu,” kata dia.

Baca: Varian Delta Terdeteksi di Lampung

 

Lalu apa sebenarnya Delta itu dan bagaimana bisa masuk ke Indonesia? 

Dilansir dari Media Indonesia, virus covid-19 masih terus bermutasi untuk tetap bisa hidup. Salah satu mutasi atau varian yang kini mulai banyak ditemukan di Indonesia adalah Delta yang diketahui lebih cepat menular dibandingkan jenis sebelumnya.

Varian Delta punya nama ilmiah B.1.617.2. dan ‘dilahirkan’ di India pada Desember 2020 lalu. Hingga saat ini, varian Delta telah ditemukan di lebih dari 74 negara, termasuk Indonesia.

Dokter Spesialis Paru RS UI, dr Gatut Priyonugroho, membenarkan bahwa varian Delta ini memang jauh lebih mudah menular dibandingkan dengan yang lainnya. Meski demikian, para ahli mengatakan tak menutup kemungkinan jika ada upgrade version maka bisa lahir varian yang lebih parah dari Delta itu.

"Lebih menular memang iya, jadi sebelum masalah varian delta ini, ada varian Alfa dari UK. Ini lebih menular dari versi original dan kemudian keluar varian delta yang lebih menular dari varian Alfa," kata dr Gatut dalam diskusi virtual mengenal lebih dekat Varian Delta yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Administrasi.

Dokter Gatut menjelaskan bagaimana Delta bisa mejadi varian yang mudah tertular karena virus yang tertinggal di udara masuk ke saluran pernapasan dengan penularan langsung dari orang ke orang tanpa adanya interaksi. 

"Jadi kalau kita berpapasan sama orang covid Delta, ekstremnya dia enggak bernapas dan kita enggak napas tidak akan tertular. Tapi kalau sama-sama bernapas virus ke udara ya pasti masuk dan tertular,” katanya.

Biasanya daya tahan virus tergantung dengan ventilasi ruangan, rata-rata berkisar tiga jam. Untuk Delta butuh 300 virus terhirup sudah bisa menimbulkan sakit covid-19. Bahkan dari penelitian yang mengukur satu kali embusan napas itu keluar berapa virus pada orang yang dengan covid-19. Sebab, orang yang terpapar covid-19 ada yang sangat menular dan kurang menular.

“Kemudian kira-kira 1 kali seseorang mengeluarkan udara atau mengembuskan napas berkisar 300-500 ml dan minimum jumlah virus masuk tubuh untuk menyebabkan covid berkisar 300 kopi virus. Nah, kalau berpapasan 5 detik saja, apakah bisa tertular? Bisa kalau terpenuhi unsur-unsur tersebut,” kata dia.

Sementara itu, Data Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI menunjukkan sebanyak 553 kasus varian baru virus corona di Indonesia. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari enam varian baru virus korona yaitu Alpha, Beta, Delta, Eta, Iota, dan Kappa.

Dari keenam varian itu, varian Delta terlihat paling mendominasi di Indonesia dibandingkan varian lainnya yaitu sebanyak 436 kasus. Kemudian varian Beta berada pada urutan kedua dengan jumlah 57 kasus, 51 Alpha, 5 Eta, 2 Kappa, dan 1 kasus varian Iota. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar