#refleksi#lebakbulus

Lebak Bulus

( kata)
Lebak Bulus
(Foto:dok.Medcom)

DUA putra terbaik ini patut dicontoh! Jadi teladan bagi anak-anak bangsa di negeri ini. Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Satu sipil, satunya pernah berdinas di militer. Tak ada yang sungkan bertemu–menyapa satu sama lain. Pertemuan Jokowi dan Prabowo pascapemilihan umum untuk kepentingan negara. Bahwa proses demokrasi itu berjalan sangat baik.

Jokowi-Ma’ruf sudah ditetapkan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden dan wakil presiden. Pertemuan di stasiun moda raya terpadu (MRT) di Lebak Bulus, Jumat (13/7), jadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi rakyat  Indonesia. Mereka merajut kembali persatuan meski keduanya berkompetisi merebut kursi kekuasaan.

Sangat miris ada anak bangsa curhat  di media sosial, mengartikan Lebak Bulus yang nyeleneh dan diolok-olok. Mungkin orang kecewa dengan pertemuan itu, sehingga pendukung menulis status sebagai bentuk protes ke Prabowo. Tapi ada juga yang senang dan gembira melihat dua anak bangsa kembali bersatu membangun negeri ini.

Lebak Bulus adalah sebuah kawasan diambil dari kontur tanah dan fauna. Lebak berarti lembah, sedangkan bulus adalah kura-kura yang hidup di darat dan air tawar. Lebih baik berpikir positif. Jokowi—Prabowo sebuah potret anak bangsa yang selalu mengedepankan keutuhan bangsa.

Sekali lagi, ini contoh yang baik. Harus ditiru elite politik yang selesai berseteru di pesta demokrasi. Tidak ada dendam. Yang menang tidak juga sombong dan merangkul yang kalah. Bagi yang kalah, ikhlas menerimanya. Pertemuan itu energi baru untuk bangsa ini. Anak muda berpikir perspektif–jauh ke depan. Jokowi—Prabowo adalah sosok negarawan.

Jokowi—Prabowo menikmati kereta menuju Stasiun Senayan sambil menggelar konferensi pers bersama.  "Saya terima kasih atas pengaturan sehingga kami bisa bertemu Pak Prabowo. Kini tidak boleh ada lagi penyebutan 01 ataupun 02. Tidak boleh lagi ada lagi penyebutan cebong dan kampret karena yang ada ialah Garuda Pancasila," kata Jokowi.

Begitu pun Prabowo dengan wajah yang semringah berucap, “Apa yang dikatakan beliau (Jokowi) kita bersahabat, memang seperti itu. Saya setuju enggak ada cebong-cebong, enggak ada kampret-kampret. Semua Merah Putih. Selamat bekerja. Saya ucapkan selamat tambah rambut putih, Pak. Kami siap membantu untuk kepentingan rakyat," timpal Prabowo.

Indah sekali kata-kata kedua putra anak bangsa ini. Pascapertemuan itu, udara jadi sejuk. Semua bersepakat membangun bangsa. Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee berpendapat Jokowi—Prabowo memberikan sentimen positif dalam perdagangan saham. Bahkan, mengindikasikan bahwa kondisi politik di Tanah Air berjalan damai. Luar biasa!

Tidak ada lagi kegaduhan. Media sosial tak lagi jadi ruang hujat-menghujat. Saatnya anak bangsa berkemas—fokus membangun ekonomi. Kalangan investor tidak lagi wait and see. Semua bergantung pembantu presiden untuk merealisasikan janji kampanye. Yang ditunggu-tunggu rakyat adalah meningkatkan kesejahteraan!  

***

Pastinya, pertemuan kedua anak bangsa itu menurunkan tensi politik yang memanas ketika KPU—Bawaslu menggelar rapat perhitungan suara. Jangan dilupakan! Rakyat yang memilih Prabowo-Sandi bertengger 44,5% dari total pemilih yang sah. Jika tidak dikelola dengan baik–akan menimbulkan konflik. Ingat! Banyak nyawa melayang saat demo 21—22 Mei 2019.

Sentimen agama yang dihembuskan kubu Prabowo-Sandi, sehingga anak-anak bangsa gampang tersulut. Belum lagi isu kecurangan suara membuat meradang. Sepertinya tak ada lagi kata maaf untuk bisa diterima. Ternyata semua itu sirna. Semua lenyap seketika saat Jokowi—Prabowo membuat komitmen menjaga keutuhan bangsa di MRT Lebak Bulus-Senayan.    

Patut dicontoh. Sebuah proses rekonsiliasi merajut kembali benang merah putih yang kusut karena kegaduhan politik. Saat di MRT, Jokowi—Prabowo menjadi teladan bagi anak bangsa. Tim sukses dan simpatisan tidak perlu sinis lagi dari perjumpaan dua sahabat, dua negarawan ini.

Mengambil pelajaran dari pertemuan di Lebak Bulus adalah sebuah tempat yang sangat netral. Selama ini Jokowi mengirim utusan dan ingin bertemu membahas masa depan bangsa. Hasilnya? Hampa. Janjian ketemu di Lebak Bulus sambil menikmati MRT membuahkan hasil. Jadi berhentilah menjadi pembisik hanya untuk menyulut kegaduhan!

Mengapa di MRT? Tidak di busway. Moda transportasi terbaru di ibu kota negara sebuah simbol sangat dekat dengan rakyat. MRT adalah angkutan massal. Banyak publik melihat dan ingin tahu. Apalagi saat itu Jokowi—Prabowo memakai kostum putih. Sebuah simbol dengan niat tulus. MRT menjadi milik bersama. Mereka cinta hasil karya anak negeri.

Tahun 2020, bangsa kembali menghelat pesta demokrasi. Ada sembilan provinsi akan berganti gubernur. Ada 37 kota berganti wali kota, dan 224 berganti bupati. Di Lampung saja, ada delapan kabupaten/kota yang bakal menggelar pemilihan kepada daerah. Kota Bandar Lampung, Kota Metro, Kabupaten Lampung Selatan, Way Kanan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Pesawaran, dan Kabupaten Pesisir Barat.

Jangan hanya karena perbedaan pandangan politik lalu merusak arti persahabatan. Menghancurkan persaudaraan sesama anak bangsa. Jokowi—Prabowo sudah mencontohkannya. Pesan damai, menjaga persatuan. Berseteru tapi mereka tetap kompak menjaga keutuhan Republik.

Ada jiwa kesatria di situ untuk membawa bangsa ini lebih kuat dan mandiri. Silaturahmi dari Lebak Bulus hingga Senayan–untuk membangun negeri ini dengan kekuatan moral. Ada penyeimbang dengan meninggalkan legacy (warisan) yang baik guna konsolidasi Indonesia kini dan masa mendatang. Contohlah Jokowi dan Prabowo!  ***

 

Iskandar Zulkarnain,Wartawan Lampung Post

Berita Terkait

Komentar