#anak#harianak

Latih Empati Anak Cegah Perundungan

( kata)
Latih Empati Anak Cegah Perundungan
Membangun empati pada anak. s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Menteri Kesehatan Nila Moeloek berpendapat orang tua memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya tindak perundungan (bullying) pada anak dan remaja. Salah satu faktor munculnya perundungan dimulai dari adanya permasalahan atau salah asuh dari keluarga.
Menurut Nila, sifat suka menindas terhadap yang lemah pada anak bisa tumbuh dari faktor keluarga. Hal itu terjadi apabila di dalam lingkungan keluarga orang tua tidak memberikan kasih sayang dan adanya sikap saling memperhatikan.


Selain itu, pola asuh yang serba membolehkan (permisif) juga bisa memicu anak atau remaja menjadi perundung kepada sebayanya. "Hubungan emosional yang beku dalam keluarga dan terlalu bebasnya anak berperilaku menjadi pencetus anak menjadi perundung," ujar Nila di Jakarta, baru-baru ini.
Di sisi lain, pola asuh orang tua yang otoriter juga bisa membentuk anak penindas. Ditambah lagi bila keluarga tersebut tidak aktif dalam masyarakat. Hal itu dapat menyebabkan putra-putri mereka kurang memiliki empati terhadap sesama dan tidak peduli dengan lingkungan mereka.


Untuk itu, sudah saatnya keluarga menjadi lingkungan pertama yang harus mengajarkan kepada anak tentang empati atau kepedulian kepada sesama.
Selain pola asuh, pendekatan keluarga untuk menjaga kesehatan kejiwaan pada tiap anggota keluarga juga menjadi hal penting. Nila menganjurkan orang tua berkomunikasi secara intens dengan anak-anaknya. Sebab, saling bercerita tentang apa yang dirasakan bisa menurunkan tingkat stres yang bisa memengaruhi perilaku dan kejiwaan seseorang, termasuk anak.


"Kalau tidak ada komunikasi, dia pelampiasannya bisa di sekolah atau di tempat-tempat lain. Jadi saya kira sebagai orang tua kita juga harus ikut tanggung jawab kalau punya anak seperti itu," kata Nila.
Dari ketahanan keluarga tersebut, faktor lain penyebab perundungan anak bisa dicegah. Misalnya, bimbingan orang tua bisa menangkal pengaruh negatif dari teman sebaya. Arahan orang tua juga bisa membentengi anak dari perilaku agresif akibat tayangan kekerasan di media.

 

Germas

Untuk membentuk ketahanan keluarga yang kuat, sejak tahun lalu Kementerian Kesehatan sudah meluncurkan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Germas bertujuan membangun kesadaran berperilaku hidup sehat pada masyarakat Indonesia.
"Germas ialah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup," ujar dia.


Germas dilakukan dengan kegiatan, antara lain melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, mengonsumsi sayur dan buah setiap hari, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksakan kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, serta menggunakan jamban. Dari hal sederhana itu, niscaya akan terbentuk lingkungan masyarakat nan sehat dan berproduktivitas tinggi.
"Dari lingkungan inilah bisa terbentuk anak-anak yang sehat secara fisik dan mental, yang akan menjauhkan mereka dari pergaulan dan perbuatan negatif," ujar Menkes.

*2/Media Indonesia



Berita Terkait



Komentar