#beritalampung#beritalampungterkini#lpwayhui#tahanan#lembagapemasyarakatan

Lapas Way Hui Klaim bakal Usut Napi Meninggal karena Tekanan PB

( kata)
Lapas Way Hui Klaim bakal Usut Napi Meninggal karena Tekanan PB
Foto ilustrasi. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Way Huwi terbuka terhadap semua informasi dan laporan terkait apa pun. Untuk itu, Lapas langsung menginvestigasi mengenai warga binaan bernama Hanafi (31) disebut keluarga bunuh diri karena ada ancaman terkait peogram pembebasan bersyarat (PB).

"Kami sangat terbuka terhadap semua informasi dan laporan, tentunya kami akan langsung menginvestigasi," ujar Kalapas Narkotika Bandar Lampung, Porman Siregar, Minggu, 4 Desember 2022.

Menurut dia, pihaknya akan menginvestigasi mendalam, baik itu petugas Lapas maupun sesama napi yang melakukan ancaman kepada almarhum. Jika terdapat pelanggaran, ia akan memberikan sanksi sesuai hukum yang berlaku.

"Kami akan tindak tegas dan kenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku termasuk kepada petugas jika memang melakukan pelanggaran," katanya.

Baca juga: Sungai Tulangbawang Meluap Rendam Ratusan Rumah 

Dia menambahkan semua layanan dalam Lapas tidak berbayar, termasuk program PB (Pembebasan Bersyarat) dilakukan dengan sistem digital melalui SDP (sistem database pemasyarakatan).

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kemenkumham Lampung, Farid Junaedi mengatakan akan mengecek dan menelusuri informasi tersebut terlebih dahulu. "Kami coba cek dan cari info lebih jelas ya," ujarnya.

Sebelumnya, istri almarhum narapidana Lapas Narkotika Way Hui, Lampung Selatan, Daryanti (31), menyebutkan Hanafi meninggal bukan karena ada permasalahan keluarga. Suaminya mengakhiri hidup akibat adanya tekanan di Lapas.

"Gak ada masalah di keluarga. Saya dan suami harmonis saja. Saya takut nanti anak waktu besar baca berita malah saya yang disalahkan," kata Daryanti, saat ditemui rumahnya, Sabtu, 3 Desember 2022.

Dia menjelaskan dua pekan sebelum suaminya meninggal di dalam Lapas sempat menelepon dan meminta uang Rp1 juta. Uang itu sebagai tebusan pembebasan bersyarat (PB) yang bisa didapatkan pada tahun depan. 

Muharram Candra Lugina








Berita Terkait



Komentar