#pertanian#perkebunan#lamsel

Langkah Sudardi Meregenerasi Petani Lampung

( kata)
Langkah Sudardi Meregenerasi Petani Lampung
Caption: Sudardi, petani hortikultura, di Jatimulyo, Lampung Selatan, saat memanen tanaman sawi miliknya.

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sudardi (42) menatap nanar kebun sayur miliknya. Di balik pandangan petani asal Desa Jatimulyo, Kecamatan Jatimulyo, Lampung Selatan, itu tersirat kegelisahan. Sedikit demi sedikit, lahan pertanian di desanya yang dulu membentang luas makin habis karena beralih fungsi menjadi petak-petak tanah kavelingan.

Hanya areal lahan berukuran 100 meter persegi miliknya yang masih menghampar hijau oleh dedaunan sawi segar. Keresahan Sudardi semakin menjadi saat bangunan-bangunan perumahan terus memagari lahan kebun sayurnya. Baginya, fenomena ini tentu mengancam regenerasi petani di masa depan.

“Saya khawatir 15 sampai 20 tahun lagi mungkin sudah tidak ada yang mau jadi petani. Lampung ini krisis petani,” ujar Sudardi, Selasa 5 November 2019.

Tidak hanya itu, menurut dia, minat generasi penerus untuk menjadi petani pun semakin hilang. Sebab, para pemuda banyak mendambakan bekerja kantoran atau menjadi karyawan. “Kalau semua mau kerja kantoran, yang mau bertanam siapa? Walau benih ada, fasilitas ada, tapi kalau tidak ada petaninya, ya tetap tidak bisa,” katanya.

Namun, Sudardi tak ingin tinggal diam. Di bawah pendampingan PT East West Seed Indonesia (Ewindo), produsen benih Cap Panah Merah, ia menjadikan ladangnya sebagai pusat pelatihan petani. Tidak kurang dari 40 pemuda di kampungnya perlahan dibina dan dimotivasi agar siap turun ke ladang.

Cara bertani yang diajarkan pun tidak lagi konvesional. Melalui aplikasi berbasis Android, Sipindo (Sistem Informasi Pertanian Indonesia), calon petani muda dapat memperoleh informasi teknik budi daya, pengendalian hama, informasi harga sayuran, hingga rekomendasi pemupukan.

“Dengan Sipindo, petani dibekali pengetahuan budi daya hortikultura dengan teknik yang benar serta melakukan pemupukan secara tepat disesuaikan dengan kondisi tanah, curah hujan, dan jenis tanaman,” kata Sudardi.

Kepada petani muda binaannya, Sudardi meyakinkan bertani juga sumber mata pencaharian yang membanggakan. Selain membatu masyarakat menyediakan kebutuhan sayuran dan buah, hasilnya pun tidak kalah dengan pekerja kantoran. “Rata-rata sebulan bisa jual 15 ribu ikat sayuran dengan omzet Rp15 juta. Dengan teknik penanaman bergilir, panen bisa dilakukan setiap hari,” ujarnya.

Hasil panen yang optimal, ucap Sudardi, bisa ia dapat sejak menggunakan benih Cap Panah Merah. Dulu, saat membuat benih sendiri, ia hanya bisa memproduksi 2.000 ikat sayuran di atas lahan 240 meter persegi, kini dengan luasan lahan yang sama produksi bisa mencapai 3.000 ikat. “Benih panah merah daya tumbuhnya bagus bisa sampai 98%. Kalau benih buat sendiri, paling cuma 60%,” katanya.

Sudardi bertani sejak 2011, dari semula hanya memiliki lahan 600 meter persegi kini lahannya bertambah menjadi 1.400 meter persegi, ditambah lahan sewa seluas 5.000 meter persegi. Jenis sayuran yang ia budidayakan di antaranya, sawi, bayam, kangkung, selada, pakcoy, bawang merah, timun, cabai, dan tomat.

Menurut Sudardi, kunci sukses bertani adalah ketekunan dan kemauan belajar. Banyak hambatan yang harus dihadapi tak menyurutkan semangatnya untuk tetap bertani, salah satunya semakin turunnya konsumsi sayur masyarakat. “Makin ke sini, saya memang rasakan konsumsi sayur masyarakat juga turun. Mungkin pengaruh banyaknya makanan cepat saji dan layanan pesan-antar makanan. Jadi, makin sedikit yang membeli sayur ke pasar,” keluhnya.

Tantangan lainnya, saat kemarau, ia harus bersabar karena hanya sedikit lahan yang bisa ditanami. Pasalnya, debit air di sumur mulai berkurang, sementara ia juga harus membantu masyarakat sekitar yang kekurangan air. “Sumur masih ada airnya, tapi debitnya turun. Kami berupaya mendahulukan tetangga yang butuh air. Jadi, hanya sebagian lahan yang bisa ditanami. Prediksi Sipindo, ini bulan terakhir musim kemarau. Semoga hujan segera turun,” harap Sudardi.

Pendamping Lapangan Petani Muda Panah Merah Lampung Selatan, Suharyanto, menambahkan kini ada 145 petani di Lampung yang di bawah binaan PT Ewindo, dengan perincian 50 petani Lampung Tengah dan Lampung Timur, 45 petani Lampung Selatan, 25 petani Tulangbawang Barat, serta 25 petani Pringsewu dan Tanggamus.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar