#asusila#lampungtengah

Lamteng Bersinergi Tekan Angka Kejahatan Seksual pada Anak

( kata)
Lamteng Bersinergi Tekan Angka Kejahatan Seksual pada Anak
Suasana kantor UPTD UPTD Penjangkauan dan Pendampingan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA) Kabupaten Lampung Tengah, Rabu, 12 Januari 2022. (Foto: Lampost.co/Raeza Handanny Agustira)


Gunungsugih(Lampost.co) -- Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lampung Tengah terus bersinergi menekan angka kejahatan seksual pada anak. 

Kepala UPTD Penjangkauan dan Pendampingan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA) Kabupaten Lampung Tengah, Yusrizal Indrajaya, menyatakan pihaknya telah menyosialisasikan pencegahan untuk menekan angka kejahatan seksual dan pendampingan korban di kabupaten setempat.

"Program sosialisasi pencegahan sudah dilakukan. Kami juga menjangkau dan mendampingi korban. Koordinasi lintas sekrotal juga kami lakukan. Satgas PATBM juga sudah dibentuk untuk melakukan pencegahan dan sosialisasi," ujar Yusrizal di ruang kerja, di Kantor UPTD Penjangkauan dan Pendampingan Dinas PPPA Lamteng, Rabu, 12 Januari 2022. 

Menurutnya, semua laporan yang masuk dari masyarakat akan ditangani oleh dinas. Para korban akan difasilitasi untuk menyelesaikan permasalahan. Mulai dari menyediakan psikologis hingga advokasi untuk anak yang berhadapan dengan hukum secara gratis.

"Sesuai SOP kami menerima laporan. Ada yang langsung ke kami, polisi, atau LPA. Semua laporan kami tindaklanjuti dengan cara penjangkauan dan terus berkoordinasi dengan instansi lain. Kami juga menyiapkan pendampingan psikologis untuk korban yang mengalami trauma. Semua digratiskan, termasuk untuk visum juga gratis," jelasnya. 

Baca juga: 5 Pelecehan Seksual Menyerang Anak Lamteng dalam Sepekan

Menurut Yusrizal, ruang mediasi juga disiapkan, terkecuali untuk kasus kejahatan seksual. Mediasi dilakukan sebelum korban melaporkan kepada polisi dan diselesaikan secara kekeluargaan. Dia menuturkan pernah terjadi kasus pelecehan di Kecamatan Selagai Lingga. Pelaku merupakan guru pencak silat dengan korban tak lain adalah anak muridnya. Pihak keluarga pelaku sempat mengajukan perdamaian, tetapi pihak dinas tidak mengizinkan.

"Di Selagai pernah ada pelaku guru silat, korban selaku anak murid nya. Ada bisikan untuk berdamai dari pihak-pihak luar. Dari kami tidak mengizinkan. Sebab kalau mereka berdamai pelayanan dari pemda akan dihentikan. Jangan sampai ada damai dalam kasus pelecehan," tegasnya.

Di sisi lain, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lampung Tengah Eko Yuwono, mengatakan selama ini Pemkab Lamteng melalui instansi terkait sudah bergerak dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan terhadap anak maupun oleh anak. Namun, gerakan-gerakan dilakukan secara sendiri-sendiri. Akibatnya, hasilnya dirasakan kurang maksimal. 

Eko mencontohkan, selama ini tidak jelas siapa yang seharusnya mengurus anak korban kekerasan seksual maupun anak yang terlibat dalam tindakan kejahatan. Padahal, itu seharusnya menjadi tanggung jawab Pemkab/Pemkot, dan Pemprov. 

"Ini perlunya kerja bersama, kalau memang tidak ada anggaran,cari solusi. Misalnya, dengan sharing antarinstansi," kata Eko.

Dia juga menilai sejumlah langkah yang dilakukan hanya seremonial. Dalam artian, tidak jelas kelanjutan dan manfaatnya. Misal, pembentukan satgas perlindungan perempuan dan anak sampai tingkat kampung. 


 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar