#zonarawan#tajuklampot

Lampung Zona Rawan Teroris

( kata)
Lampung Zona Rawan Teroris
dok Lampost.co

LAMPUNG menjadi sasaran operasi Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri beberapa waktu terakhir. Pekan ini Tim Densus 88 Mabes Polri menangkap empat terduga teroris di Bandar Lampung di berbagai titik berbeda.

Penangkapan itu dilakukan setelah Noval Agus Syafroni (45), warga Bekasi, ditangkap saat menyerahkan diri pada Minggu (13/10). Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap empat terduga teroris sel Abu Zee, Senin (14/10).

Mabes Polri mengatakan mereka diamankan terkait jaringan Jemaah Anshorut Daulah (JAD). Empat orang yang diamankan, yakni Rifki, Aul Putra Daulah, Yunus, dan Tri. Penangkapan ini menambah daftar panjang teroris tertangkap di Lampung.

Pada Maret lalu, Mabes Polri pun telah menetapkan dua warga Lampung sebagai tersangka teroris terkait jaringan Abu Hamzah di Silboga. Keduanya diduga akan melakukan aksi teror untuk menyerang aparat keamanan, termasuk kepolisian.

Tersangka pertama adalah Kustowo (35), warga Dusun Candi Sari I, Desa Gunung Rejo, Way Ratai, Pesawaran. Tersangka kedua Rinto alias PS (20), warga Penengahan Raya, Kedaton, Bandar Lampung, yang ditangkap pada 9 Maret lalu.

Rentetan penangkapan itu menandakan terorisme masih menjadi momok di Republik ini. Karena itu, berbagai upaya membasmi paham yang tidak sejalan dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak boleh surut sedikit pun.

Provinsi Lampung menjadi ladang empuk bagi kaum radikal dengan tingkat potensi radikalisme cukup tinggi. Sebagai pintu masuk Sumatera, dengan penduduk beragam, menjadikan Bumi Ruwa Jurai ladang subur persemaian radikalisme.

Survei Badan Nasional Penanggulangan Teroris 2017 mencatat Lampung pada urutan keempat tingkat potensi radikalisme. Potensi tertinggi di atas Lampung ada di Bengkulu (58,58%), Gorontalo (58,48%), dan Sulawesi Selatan (58,42%).

Upaya membersihkan Lampung dari terorisme dan radikalisme tidak hanya berupa aksi penangkapan para terduga terorisme semata, tapi juga membutuhkan upaya pencegahan semua pihak. Termasuk meningkatkan keamanan di tingkat lingkungan warga.

Harus dipahami bersama bahwa radikalisme bertentangan dengan Pancasila yang sangat menghormati dan menghargai kebinekaan. Membentengi diri dari arus radikalisme mutlak dilakukan. Hal itu bisa dimulai dari tingkat keluarga.

Masyarakat juga wajib mawas perkembangan radikalisme di wilayahnya. Jangan sampai kita lengah dan tidak peduli dengan lingkungan kita, mewaspadai orang asing dengan gelagat mencurigakan bagian dari sikap waspada warga.

Penanganan radikalisme sebaiknya tidak dilakukan dengan tangan besi, tapi dengan pendekatan-pendekatan humanis dan dialogis. Kita berharap Lampung tidak menjadi lahan persemaian teroris dan radikalisme yang kian menjadi jadi.

Tim Redaksi Lampung Post

Berita Terkait

Komentar