#LIMBAHMEDIS#BANDARLAMPUNG

Lampung Tidak Punya Incinerator yang Berfungsi

( kata)
Lampung Tidak Punya Incinerator yang Berfungsi
Limbah B3 dibuang sembarangan di TPA Bakung. Lampost.co/MTVL/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) – Provinsi Lampung tidak memiliki satupun incinerator atau mesin pemusnah sampah yang berfungsi. Hal itu mengharuskan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (Fayankes) menggunakan pihak ketiga dalam hal pengangkutan dan pemusnahan limbah B3.

Kasi Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) provinsi Lampung, Zaeri, mengatakan Lampung memiliki 5 incinerator. Namun, empat dari 5 mesin itu tidak bisa digunakan lagi karena tidak mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen KLHK).

“Insinerator yang ada di RS Demang Sepulauraya Lampung Tengah kondisi masih bagus dan izin lengkap. Tapi tidak digunakan karena biaya operasionalnya terlalu tinggi. Sedangkan yang di RSUDAM, RS Bandarhusada, RS Ryacudu Lampung Utara, RS Imanuel Bandar Lampung, kondisi rusak,” ujarnya, Senin, 6 September 2021.

Sementara itu jika dilihat dari laman resmi perusahaan pemusnah limbah B3 itu, proses pemusnahan dilakukan di Jalan Australia II No.Kav. H1/2, KIEC,
Warnasari, Citangkil, Kota Cilegon, Banten menggunakan mesin Incinerator Pressure Jet. Zaeri mengatakan bahwa biaya pemusnahan yang harus ditanggung oleh fayankes yakni berkisar antara Rp13 – Rp15 ribu per kilonya. Hal itu memaksa fayankes mebebankan biaya pemusnahan limbah Rp50 ribu kepada setiap pasien. 

“Biaya yang ditanggung cukup mahal karena hitungannya perkilo,” kata dia.

Baca juga: Petugas Kebersihan Rentan Terinfeksi Virus Covid-19

Berdasarkan rekapitulasi data timbulan limbah medis covid-19 dan noncovid-19 dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di wilayah provinsi lampung periode Januari s/d Juli 2021, RSUDAM menghasilkan limbah medis sebanyak 81.649 kilogram. Sedangkan untuk akumulasi se-provinsi Lampung timbulan limbah medis sebanyak 201.128 kilogram, yakni 96.176 kilogram untuk limbah medis B3 noncovid-19 dan 104.952 kilogram untuk limbah B3 Covid.

Jika dikalikan dengan biaya pemusnahan sebesar Rp13 ribu, maka RSUDAM harus mengeluarkan biaya Rp2.6 miliar untuk memusnahkan limbah B3 hingga pertengahan tahun 2021. Angka itu belum termasuk biaya transporter atau jasa pengangkut limbah medis, yakni PT Biuteknika.

Sementara itu, Humas RSUDAM, Ratna Dewi Ria, membenarkan penanganan limbah medis vaksinasi. Penanganan yang dilakukan menerapkan prosedur operasional standar. Limbah medis dimasukkan dalam kantong plastik khusus. Setelah itu, petugas kebersihan mengangkut sampah medis (infeksius) dan sampah nonmedis (non-infeksius) ke penampungan. Namun, sampah medis dibawa ke tempat penyimpanan sementara limbah bahan berbahaya dan beracun (TPS B3). Sementara sampah non medis ke TPS domestik.

"Sampah medis di TPS B3 akan diangkut transporter PT Biuteknika Bina Prima untuk dimusnahkan PT Wastec," terang Ria.
 
 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar