#lumbungpangan#peningkatankomoditas

Lampung sebagai Lumbung Pangan Terus Tingkatkan Produkitivitas Berbagai Komoditas

( kata)
Lampung sebagai Lumbung Pangan Terus Tingkatkan Produkitivitas Berbagai Komoditas
Talkshow bertajuk Lampung penyangga pangan nasional, Aman Covid-19 yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-46 SKH Lampung Post dan HUT ke-6 Sai Radio 100 FM di kantor Lampost, Senin, 10 Agustus 2020.Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Meski di tengah pandemi Covid-19, Lampung yang menduduki peringkat keenam nasional sebagai daerah produsen padi terus berupaya meningkatkan produktivitas. Bukan hanya beras, produktivitas komoditas lainnya juga akan ditingkatkan. 

Hal tersebut diungkapkan Kadis Ketahanan Pangan dan Hortikultura Lampung Kusnardi dalam talkshow bertajuk Lampung penyangga pangan nasional, Aman Covid-19 yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-46 SKH Lampung Post dan HUT ke-6 Sai Radio 100 FM di kantor koran terbesar di Lampung itu, Senin, 10 Agustus 2020. Hadir juga narasumber lainnya, yakni Ketua Program Kartu Petani Berjaya Lampung Yusuf Sulfarano Barusman,  Kadis Kominfo Lampung Tengah Nila Kelana, dan Wakil Pimpinan Wilayah Bidang Bisnis Kanwil BRI Bandar Lampung Yusrif Mulyadi.

"Kita produksi 2,5 juta ton (gabah) dan ke depannya berupaya ditingkatkan menjadi 2,6 ton. Jumlah itu memang menurun dari beberapa tahun sebelumnya karena perbedaan metode menghitung dan semua daerah terkoreksi," ujarnya.

Selain produksi beras atau gabah, Pemprov Lampung juga terus berupaya meningkatkan produksi komoditas lainnya, seperti jagung, kemudian ubi kayu, dan nanas yang memang sudah peringkat 1 se-dunia dalam jumlah produksi.

Begitu juga dengan komiditas lainnya, seperti pisang, bahkan bawang merah pun sedang dikembangkan guna memenuhi kebutuhan pasar lokal.

"Ke depan kami kembangkan irigasi lahan kering, ubi kayu dan nanas kita nomor 1 dunia. Di masa pandemi, pertanian kita kuat, kita sudah mengembangkan pisang kirana, pisang muli kita ekspor. Kita juga sedang mengembangkan produksi bawang merah agar tidak mengandalkan dari brebes," katanya.

Upaya peningkatan produktivitas tersebut juga diimbangi dengan pengawasan penggunaan pupuk subsidi dan nonsubsidi. "Pengawasan pupuk berjalan. Nanti juga dengan kartu Petani Berjaya ada subsidi pupuk, pembayarannnya cashlees," ujarnya.

Namun, ada beberapa kendala yang dialami pertanian di Lampung. Misalnya, rusaknya sarana irigasi akibat perubahan iklim dan alih fungsi lahan produktif yang menurunkan produktivitas pertanian. Kendala tersebut terus dikendalikan Pemprov Lampung dengan beberapa upaya.

"Pemerintah melakukan pengaturan dengan mengamankan lahan produktf, gubernur mengeluarkan perda terkait konservasi lahan, diikuti beberapa bupati. Kemudian perda melarang penjualan gabah keluar, walau susah, prakteknya kita masih jalan, petani jangan jual gabah, tapi jual beras," katanya.

Ketua program Kartu Pertani Berjaya Yusuf Sulfarano Barusman memaparkan kelak kartu Petani Berjaya yang sedang dalam proses memudahkan petani dalam penyediaan pupuk dan bibit berkualitas. Tujuannya, 
mengintegrasikan kepentingan pertanian guna meningkatkan kesejahteraan petani dan stakeholder lainnya.

"Faktor kesejahteraan petani sangat berpengaruh pada peningkatan produksi sehingga petani tidak tergoda dengan hal lainnya. Kalau produksi melimpah, harga turun sehingga petani enggan meningkatkan produksi. Mindset petani diubah, jangan hanya bicara jangka pendek, terkait kebutuhan, kita bicara komersial dan profit," katanya.

Kartu Petani Berjaya tak hanya program bantuan semata, tapi juga mendorong peningkatan nilai tambah komoditas. Hal itu  agar tidak hanya komoditas utama yang dipanen, namun bagian-bagian lain dari komoditas tersebut memiliki nilai tambah yang bisa diolah.

"Contohnya jangan jual gabah, tapi jualnya beras. Misalnya panen jagung, padahal ada nilai ekonomi lainnya, seperti bongkol, daun, sehingga petani hanya sedikit sekali memanfaatkan dari salah satu bagian tumbuhan. Nah, hal-hal ini yang belum dieksplorasi," katanya.

Program kartu Petani Berjaya mengedepankan penggunaan teknologi berbasis big data dan perencanaan, seperti rencana usaha tani (RUT) sehingga bisa diprediksi produkitivitas lahan dan hasil ekonomi yang diraih. "Dengan Kartu Petani Berjaya, ada acuan kita bisa kontrol untuk target produksi, komitmen petani menuju mindset komersial," ujarnya.

Di sisi lain, Kadismoinfo Lampung Tengah, Nila Kelana memaparkan Lamteng merupakan penyangga Lampung dalam ketersedian pangan karena mampu surplus 200-300 ton beras.  "Surplus ini seharusnya bisa dimanfaatkan kabupaten lain di Lampung yang bukan produsen beras karena beras kita selama ini banyak lari ke luar daerah," katanya.

Beras Lamteng yang ke luar provinsi kemudian dilabeli daerah luar hingga dikemas menjadi beras premium. "Hal itu menunjukkan nilai ekonominya dimanfaatkan daerah luar Lampung, ini yang harus dipecahkan kendalanya secara bersama," katanya.

Selanjutnya, Bank BRI Kanwil Bandar  Lampung terus berupaya mendukung produktivitas petani. Dari dana kredit Rp21,6 triliun hingga Desember 2019 yang disalurkan ke sektor pertanian mencapai Rp9,08 triliun atau 42.02%. "Berbagai komoditas pertanian kami biayai, tak hanya dari budi dayanya, pascapanen, pembuatan kemasan, dan lainnya bisa dibantu. Dari hulu sampai hilir, penyediaan pupuk, benih, hingga kemasan, bahkan edukasi ke petani juga sudah berjalan," kata Wakil Pimpinan Wilayah Bidang Bisnis Kanwil BRI Bandar Lampung Yusrif Mulyadi.

Untuk mempermudah akses penyaluran kredit, BRI Kanwil Bandar Lampung memiliki 14 kantor cabang dan 16 kantor cabang pembantu. "Lampung punya kantor wilayah yang banyak, tempat kita dekat dengan akses petani dan para pegawai tinggal dengan petani sehingga secara kultural bisa dekat dengan petani," katanya.

Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Meski dalam masa pandemi Covid-19, Pemprov Lampung tidak terkena dampak signifikan soal ketahanan pangan dan masih menjadi penyangga pangan decara nasional. "Pertanian tidak terlalu terdampak, dibading sektor lain, masih bisa tumbuh 10 persen,  bahkan kita bisa memberikan bantuan ke daerah lain," ujar Kusnardi.

Pemprov juga sudah menyiapkan antisipasi pada masa pandemi Covid-19 atau jika gagal panen, seperti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). "Petani yang kena resiko kita ada subsidi dan asuransi. Ke depannya akan digabung dengan program Kartu Petani Berjaya. Pemprov juga menyiapkan cadangan petani bencana, seperti dilakukan di Way Semaka, Tanggamus, ada bantuan bibit dan obat pengendalian hama," katanya.

Sementara Pemkab Lampung Tengah juga bersiaga di tengah pandemi Covid-19. Stok beras Lampung Tengah yang surplus juga bisa dijadikan cadangan. 

"Ketika Covid-19, Gugus TugAs Lamteng memberdayakan pabrik. Beras kita terserap, cuma kami berharap ada peran bersama dari pemerintah agar ada pabrik atau kemampuan di Lamteng untuk memproduksi beras dan bisa dikemas hingga ke beras premium sehingga nilai ekonominya tinggi. Jadi bukan beras kita dibawa ke luar daerah, terus dilabeli beras premium oleh daerah lain," ujar Nila.

Sementara, Ketua Program Kartu Petani Berjaya Lampung Yusuf Barusman memaparkan kendati tak terkena dampak signifikan, tentunya pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap supply and demand komoditas pertanian. "Kalau pasar bermasalah, harga turun, permintaan turun, yang kita sedang cari kendalanya. Oleh sebab itu, kita integrasikan sektor hilir dan hulu, bangun sektor agroindustri agar nilai ekonomi satu komoditas bisa maksimal," kata Rektor UBL tersebut.

Bank BRI pun memiliki peran sentral untuk menolong petani, yang terkena dampak Covid 19. Wakil Pimpinan Wilayah Bidang Bisnis Kanwil BRI andar Lampung Yusrif Mulyadi.

BRI Menyiapkan empat skema relaksasi UMKM. Pertama nasabah UMKM (termasuk pertanian yang mengalami penurunan omzet hingga 30%) dilakukan restrukturisasi biasa yakni penurunan bunga dan penundaan angsuran. 

Kedua, nasabah UMKM yang omzetnya menurun 30%-50% ilakukan penundaan angsuran pokok tetapi bunga diturunkan dan tetap dibayarkan. Ketiga, jika ada penurunan omzet mencapai 50-75%,baik bunga maupun pokok ditunda selama 6 bulan dan tidak perlu dibayarkan dahulu. Keempat,  omzet menurun >75% baik bunga maupun pokoknya ditunda pembayarannya selama satu tahun.

"Terkait pandemi Covid-19, OJK sudah mengeluarkan aturan, restrukturisasi usaha nasabah terdampak bisa restrukturisasi. Kami beri keringanan, ada skema I satu sampai IV, terkait keringanan," katanya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar