#infrastruktur#middleincometrap

Lampung Optimalkan Hilirisasi Infrastruktur Dukung Middle Income Trap

( kata)
Lampung Optimalkan Hilirisasi Infrastruktur Dukung <i>Middle Income Trap</i>
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan. Dok

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Presiden Joko Widodo menginstruksikan jajarannya terkait agenda besar strategis tidak boleh dilupakan, terutama yang berkaitan dengan langkah Indonesia untuk bisa keluar dari jerat pendapatan menengah atau middle income trap di tengah upaya-upaya yang dilakukan untuk menghadapi pandemi Covid-19. Sebab, Indonesia memiliki peluang besar untuk naik status menjadi negara berpendapatan tinggi dengan beberapa syarat, salah satunya keberadaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, produktif, inovatif, dan kompetitif.

Menyikapi hal tersebut Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Lampung, Mulyadi Irsan mengatakan pihaknya terus melakukan inovasi terkait infrastruktur jalan untuk mendukung ekonomi agar proses distribusi produksi berjalan lancar tanpa hambatan. Pada prinsipnya, semua ruas jalan di Lampung bisa dioptimalkan pembangunannya.

"Intinya kalau berbicara middle income trap konsepnya ya hilirisasi industri. Untuk itu harus ada dana yang mencukupi agar bisa bergerak dan kami terus melakukan inovasi menyinergikan dengan CSR perusahaan, Pemerintah Pusat, dan pemerintah daerah," katanya kepada Lampost.co, Selasa, 28 Juli 2020.

Pemerintah Provinsi Lampung terus bersinergi bersama Pemerintah Pusat, kabupaten/kota, dan program corporate social responsibility (CSR) korporasi untuk sama-sama membangun jalan provinsi di Bumi Ruwai Jurai. Hal tersebut menyikapi masih adanya 438,84 km jalan provinsi dalam kondisi tidak mantap dan 728,70 km jalan provinsi tidak tertangani yang terebar di Lampung. Ia mengatakan budget constraint ketersediaan anggaran yang belum mampu memenuhi kebutuhan anggaran, maka untuk penanganan ruas jalan bersifat spot-spot yang berakibat belum mampu menjawab isu-isu strategis. 

"Dalam waktu dekat jalan provinsi semuanya dioptimalkan. Pelan-pelan kami membuat inovasi," katanya.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus menambah pembangunan bendungan baru di sejumlah provinsi untuk mendukung ketahanan air dan pangan nasional. Salah satunya di Lampung yang direncanakan sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pengelolaan sumber daya air dan irigasi akan terus dilanjutkan dalam rangka mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan. Di samping itu, kehadiran bendungan juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal.

Di Lampung, Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung Ditjen Sumber Daya Air (SDA) tengah menyelesaikan pembangunan Bendungan Way Sekampung di Pringsewu. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung 68 juta m3 yang akan dimanfaatkan untuk penyediaan air daerah irigasi (DI) Sekampung seluas 55.373 hektare dan menambah areal irigasi DI Rumbia Extension seluas 17.334 hektare. Dengan dibangunnya jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat membantu petani untuk meningkatkan intensitas tanamnya jika dibandingkan dengan metode tadah hujan yang hanya satu kali dalam setahun.

Bendungan Way Sekampung dibangun dengan biaya Rp1,7 triliun terbagi menjadi tiga paket. Secara keseluruhan pekerjaan tiga paket yang tengah on going tidak ada kendala dengan progres fisik mencapai 85%, namun terdapat dua paket lanjutan seperti pembangunan kolam olak dan jembatan saat ini tengah proses lelang di Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Konstruksi (BP2JK) Kementerian PUPR.

Seluruh pembangunan Bendungan Way Sekampung ditargetkan selesai akhir 2020. Paket satu pembangunan Bendungan Way Sekampung dikerjakan oleh kontraktor PT PP-PT Ashfri (KSO) dan paket dua oleh PT Waskita Karya-PT Adhi Karya (KSO).

Selain mendukung kebutuhan air irigasi di Lampung, selesainya Bendungan Way Sekampung juga dapat dimanfaatkan sebagai penyedia air baku untuk Bandar Lampung, Kota Metro, dan Lampung Selatan 2.480 liter/detik, potensi tenaga listrik 5,4 MW, mereduksi banjir 185 m3/detik serta menjadi objek wisata di Pringsewu.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar