#deflasi#inflasi#ekbis#beritalampung

Lampung Deflasi 0,22 Persen di September 2020

( kata)
Lampung Deflasi 0,22 Persen di September 2020
Kepala BPS Lampung, Faizal Anwar. Lampost.co/Atika

Bandar Lampung (Lampost.co): Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (BPS) mencatat pada September 2020, Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung mengalami penurunan indeks dari 105,55 pada Agustus 2020 menjadi 105,32 pada September 2020, dengan demikian terjadi deflasi sebesar 0,22 persen.

Berdasarkan penghitungan inflasi tahun kalender (point to point) pada September 2020 mengalami inflasi sebesar 1,00 persen, sedangkan inflasi year on year (yoy) September 2020 terhadap September 2019 adalah sebesar 1,35 persen.

Dari sebelas kelompok pengeluaran, lima kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,62 persen, kelompok transportasi 0,30 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,14 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,10 persen, dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,03 persen. 

"Sebaliknya, untuk kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi (kenaikan indeks) sebesar 0,05 persen, diikuti kelompok perumahan, air listrik, gas dan bahan bakar 0,04 persen, kelompok kesehatan 0,03 persen, dan kelompok pakaian dan alas kaki 0,01 persen," kata Kepala BPS Lampung, Faizal Anwar, Kamis, 1 Oktober 2020.

Sementara, jelas Faizal, kelompok pendidikan dan kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran tidak mengalami perubahan indeks. Dari dua kota pemantauan di Lampung pada September 2020, Kota Bandar Lampung mengalami deflasi sebesar 0,26 persen, tapi sebaliknya Kota Metro mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. 

Inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-72 dan Kota Metro peringkat ke-21 dari 90 kota yang diamati perkembangan harganya. Dimana kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau memberikan andil deflasi tertinggi, yaitu sebesar 0,18 persen. Adapun subkelompok yang menjadi penyumbang deflasi tertinggi pada bulan September 2020 adalah subkelompok Makanan yaitu sebesar 0,18 persen.

"Makanan masih menjadi subkelompok paling besar karena memang saat ini menjadi kebutuhan utama masyarakat provinsi Lampung," katanya. 

Sehingga, lanjut dia, dengan terjadinya Deflasi (-0,22) menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih rendah dan kemungkinan besar terdampak kondisi pandemi COVID-19 saat ini.

"Namun BPS tidak bisa memprediksi pertumbuhan ekonomi. Tapi dengan melihat beberapa indikator makro walaupun mulai sedikit bergerak naik dari bulan ke bulan dan jika dibandingkan tahun 2019 sepertinya masih sangat berat," ungkapnya. 

Adapaun yang saat ini dapat diandalkan Provinsi Lampung adalah sektor pertanian. "Nanti kita lihat, apakah ada peningkatan di sektor ini," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar