#literasi

Lamban Baca Bergerak Hadir di Rest Area

( kata)
Lamban Baca Bergerak Hadir di Rest Area
Lamban baca bergerak hadi di rest area Sumberjaya.Dok.GLD

Liwa (Lampost.co) -- Lamban Baca Padang Tambak II Kecamatan Way Tenong menggelar lamban baca bergerak di lokasi destinasi wisata puncak rest area Sumberjaya, Minggu, 9 Februari 2020. Kegiatan itu dilakukan karena lokasi tersebut dinilai sangat strategis karena pada hari Minggu banyak dikunjungi wisatawan, selain menjadi tempat beristirahat bagi pelintas.

Pengelola lamban baca Padangtambak II Mahdalena mengatakan kegiatan pustaka bergerak ini dilakukan selain untuk mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat juga untuk mengajak masyarakat agar giat atau gemar membaca.

Menurut dia, pengunjung puncak rest area selain berasal dari Lambar juga banyak yang berasal dari luar daerah sehingga diharapkan akan sangat tertarik untuk membaca. Tak jarang mereka memberikan komentar positif tentang kegiatan literasi di Lampung Barat.

“Lamban baca Padangtambak II selain melayani kegiatan membaca di rumah, juga ada program kegiatan lain yaitu pustaka bergerak dan pembinaan komunitas pelajar menulis,” ujarnya.

Jadwal kegiatan sudah dibuat. Sesuai rencana pustaka bergerak ini akan dilakukan setiap minggu di lokasi yang berbeda. Dalam melakukan kegiatan lamban baca bergerak melibatkan para pelajar untuk mengisi hari libur sekolahnya dengan cara ikut aktif pada kegiatan literasi bergerak yang diinisiasinya.

“Saya merasa sangat bangga dan terharu melihat para pelajar yang ikut kegiatan ini mempunyai semangat untuk mendukung Lampung Barat sebagai kabupaten literasi,” ujarnya.

Di sisi lain Sekretaris Tim Gerakan Literasi Daerah (GLD) Lampung Barat Sandarsyah, mengatakan sangat mendukung kegiatan lamban baca bergerak yang digagas Lamban Baca Padangtambak II itu. Menurut dia, gerakan literasi daerah tentunya memerlukan dukungan dan partisipasi dari masyarakat terutama lamban-lamban baca yang ada di pekon.

“Gerakan literasi daerah merupakan tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat. Sebab, tanpa dukungan dan partisipasi dari masyarakat, keluarga, dan dunia usaha, hal itu akan sulit tercapai,” katanya.

Dia menjelaskan sesuai Peraturan Bupati Lampung Barat Nomor 19 Tahun 2018 tentang Gerakan Literasi Daerah dijelaskan ada tiga ranah dalam gerakan literasi daerah, yaitu gerakan literasi sekolah (GLS), gerakan literasi keluarga (GLK), dan gerakan literasi masyarakat (GLM).

GLS adalah gerakan yang aktivitasnya banyak dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan serta orang tua. Kegiatan yang dilakukan dengan menampilkan praktik tentang literasi dan menjadikannya sebagai kebiasaan serta budaya di lingkungan sekolah yang diintegrasikan dalam kegiatan belajar-mengajar.

Sedangkan GLK adalah gerakan yang ada pada unit terkecil dalam masyarakat. Dalam konteks pendidikan, keluarga merupakan lingkungan pembelajaran pertama dan utama bagi anak-anak.

“Adapun GLS adalah gerakan berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk masyarakat tanpa memandang usia yang sejalan dengan GLS dan GLK dalam rangka menumbuhkan simpul-simpul masyarakat agar mempunyai kemampuan literasi tingkat tinggi,” katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar