#kekerasananak#kriminal#hukum

Lakukan Kekerasan ke Pemotor, Remaja Ini Dituntut 7 Tahun Penjara

( kata)
Lakukan Kekerasan ke Pemotor, Remaja Ini Dituntut 7 Tahun Penjara
Suasana persidangan kasus kekerasan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Lampost.co/Febi Herumanika

Bandar Lampung (Lampost.co): Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa Redho Toto Ricardo (20) dengan pidana penjara selama 7 tahun lantaran melakukan tindak pidana kekerasan atau kekejaman terhadap anak. 

Jaksa Penuntut Umum Yuni Kusumardiati Ningsih mengatakan terdakwa didakwa dengan Pasal 80 Ayat (1) Dan Kedua Pasal 80 Ayat (3) Undang-Undang RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam dakwaan komulatif.

"Perbuatan terdakwa membuat korban M. Rizki Agung Sunandar mengalami luka-luka. Sedangkan Fajar Almanfaluthi meninggal dunia," katanya, Jumat, 25 September 2020.

Oleh karena itu, kata Jaksa, selain menuntut terdakwa kurungan penjara selama 7 tahun, terdakwa juga diwajibkan  membayar denda sebesar Rp60 juta. Apabila tak dibayar akan dikenakan hukuman badan subsider 3 bulan kurungan.

Hal yang meringankan terdakwa dalam perkara ini, bahwa terdakwa sopan di persidangan. Mengaku bersalah dan menyesal atas perbuatannya.

Dalam dakwaan Jaksa, perbuatan yang dilakukan terdakwa terjadi pada Selasa (1 Januari 2020) lalu sekitar pukul 03.30 WIB. Dimana saat itu terdakwa sedang berboncengan dengan rekannya Reza Gustiawan.

Saat itu terdakwa dan temannya dari arah Stadio Pahoman hendak menuju ke Pasar Tengah. Di tengah perjalanan tepatnya di Jalan Kartini, terdakwa melihat ada dua orang laki-laki, yakni Fajar (meninggal dunia) dan rekannya M. Rizki Agung Sunandar sedang berboncengan.

"Kedua korban menggeber-geber motornya. Tepat di samping motor terdakwa sambil berjalan zig-zag. Waktu itu terdakwa pun berkata ke temannya untuk memanggil kedua korban menanyakan perihal kenapa menggeber motornya," kata Jaksa.

Lalu dijawab oleh rekan terdakwa biarkan saja. Di depan itu pun ramai orang bukan mereka saja yang mendengar suara geberan motor korban. "Terdakwa masih ngotot dan tetap ingin menghampiri kedua korban," katanya.

Dan terjadilah kejar-kejaran antara sepeda motor milik terdakwa dan korban. Sampai di depan lampu merah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), terdakwa pun menghadang kan motor miliknya di depan motor korban.

"Terdakwa turun dari atas motornya dan tanpa basa-basi langsung memukul kedua korban. Namun, setelah itu korban pun kembali tancap gas dan dikejar lagi oleh terdakwa," katanya.

Sesampai di depan Taman Makam Pahlawan sepeda motor yang dikendarai oleh korban melaju kencang melawan arah jalan. Dan terdakwa bersama rekannya tetap mengikuti dan sempat memukul lagi kedua korban.

"Sepeda korban terus melaju melawan arus. Sampai akhirnya korban pun menabrak tempat bensin eceran, sehingga keduanya pun terjatuh dan korban Fajar meninggal dunia," katanya.

Melihat korbannya terkapar, terdakwa pun bersama rekannya langsung melarikan diri. 

Muhammad Iqbal dan Ahmad Kurniadi, penasehat hukum Pos Bantuan Hukum PBH Peradi pada Pengadilan Negeri Tanjungkarang meminta Majelis Hakim mempertimbangkan tuntutan Jaksa.

"Kami minta putusan seringan-ringannya dan seadil-adilnya, karena RT ini masih muda dan masih memiliki masa depan yang panjang," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar