#beritalampung#nuansa

Lain Tempat, Lain Harga

( kata)
Lain Tempat, Lain Harga
Ilustrasi. Dok/Google Images

WAKTU istirahat kantor, semua karyawan menggunakan waktu itu untuk santap siang dan rehat pekerjaan sejenak. Di sebuah kafe saya memesan satu gelas es jeruk.

Saat es jeruk tersebut datang, tampilan penyajiannya pun sama saja dengan kafe bahkan warung makan lainnya. Begitupun rasanya yang tak berbeda jauh dengan rasa yang sama, yaitu ciri khas sari buah jeruk. Satu gelas es jeruk yang saya pesan tersebut dibanderol seharga Rp19 ribu. Harga yang wajar karena menu minuman berada di kafe yang berada di tengah kota metropolitan.

Namun, bagi orang yang berasal dari daerah masih berkembang atau bahkan perdesaan, harga tersebut jauh di ambang kewajaran. Mengingat, harga 1 kg jeruk di pasaran berkisar tak sampai Rp19 ribu.

Belajar dari hal tersebut, satu hal yang dapat menjadikan kita sebuah pelajaran tentang siapa dan apa pangkatmu. Seperti satu gelas es jeruk seharga Rp19 ribu di kafe akan terasa murah karena ditopang suasana tempat dan juga berada di tengah kota metropolitan.

Namun, es jeruk seharga Rp19 ribu tak akan pernah laku jika dijual di warung makan di wilayah berkembang. Maka, di situlah pentingnya memahami kondisi dan tingkat daya beli di suatu wilayah.

Seperti halnya nilai dari sebuah arloji kuno. Jika dijual di toko jam, arloji akan dihargai sama halnya harga-harga jam menurut merek atau mereka dengan melihat kemulusan atau cacat tidaknya barang. Namun, apabila arloji kuno dijual atau dinilai oleh museum barang antik, akan dinilai dari segi keantikan bernilai tinggi.

Hal itulah, kita harus mampu menempatkan diri sesuai dengan tempat yang tepat. Di mana kita mampu membawa diri tanpa kurang, tanpa lebih pada tempat yang belum kita kenali, agar pembawaan kita mampu diterima lingkungan yang kita tempati.

Bila bicara siapa dan apa pangkatmu mungkin akan berlaku jika seorang tersebut berada di kantor atau wilayah kerja. Namun, seorang tersebut berada di lingkungan yang tak ada sangkut pautnya dengan jabatan yang dimiliki, akan dipandang sama saja oleh masyarakat biasa.

Pamor atau taji bak luntur tak akan berarti karena tetap dinilai sebagai manusia yang sama-sama makan nasi.

Seperti halnya peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, sepatutnya kita mengikuti nilai atau aturan yang berlaku di tempat yang kita tinggali, dengan kata lain menyesuaikan diri selaras dengan nilai dan aturan yang ada.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar