#beritalampung#beritabandarlampung#humaniora

Lada Damar: Sekolah Harus Siapkan Langkah Konkret Pencegahan Kekerasan Seksual Siswa

( kata)
Lada Damar: Sekolah Harus Siapkan Langkah Konkret Pencegahan Kekerasan Seksual Siswa
Ilustrasi. Foto: Google Images


Bandar Lampung (Lampost.co): Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Anak (Lada) Damar Lampung, Sely Fitriani, meminta sekolah maupun pesantren untuk mengambil langkah konkret pencegahan kekerasan seksual di lingkungan lembaga pendidikan.

"Bisa melalui screening tenaga pendidik maupun bimbingan kepada siswa," kata dia, Selasa, 18 Oktober 2022.

Hal itu, lanjut Sely, bertujuan untuk menyerap pengetahuan dan pemahaman yang membangun penghormatan terhadap tubuh dan seksualitas seseorang.

Selain itu peningkatkan kepedulian dan empati kepada korban kekerasan seksual dengan tetap menjamin hak korban atas pendidikan dan memberikan pertolongan kepada korban juga diperlukan. Kemudian membangun kegiatan akademik dan kegiatan pendidikan untuk menghapuskan prasangka dan stereotip gender dalam masyarakat.

"Membentuk satgas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di sekolah-sekolah itu juga perlu," kata dia.

Menurutnya beberapa faktor seperti budaya yang masih menganggap perempuan sebagai manusia nomor dua setelah laki-laki, menjadi pemicu adanya kasus-kasus pelecehan seksual.

Baca juga:  Kejar-kejaran dengan Polisi, Pencuri Motor di Pasar Buah Bakauheni Terjatuh

"Imbasnya perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang didominasi, sehingga kurang dihormati bahkan dilecehkan," kata dia.

Selain itu, belum optimalnya perlindungan hukum yang mengatur secara khusus tentang kekerasan seksual dan perempuan ditempatkan sebagai objek pelampiasan gejolak seksualitas laki-laki. "Laki-laki dianggap wajar kalau tidak bisa menahan gejolak seksualnya," katanya.

Lanjut Sely, kekerasan seksual terhadap anak tidak bisa dianggap remeh karena memberikan dampak buruk pada kondisi fisik dan psikologis anak.

"Berdasarkan pengalaman pendampingan kasus, dampak kekerasan seksual yang dialami oleh anak diantaranya hilangnya kepercayaan, trauma secara seksual, merasa tidak berdaya, stigmatization, kehamilan yang tidak dikehendaki, infeksi menular HIV/AIDS, putus sekolah, dan menjadi seksual aktif, " kata dia.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar